Aliansi UNJ Melawan kembali menggelar demonstrasi bertajuk “Rapor Merah 2 Tahun Prabowo-Gibran Jilid II” di kawasan Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10). Aksi yang diikuti oleh ratusan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut kembali membawakan tuntutan dari demonstrasi sebelumnya yang belum ditanggapi oleh pemerintah.
Massa aksi mulanya berangkat dari Kampus A UNJ pada pukul 16:10 WIB menuju Salemba menggunakan kendaraan bermotor serta angkot untuk melakukan orasi di jalanan. Setelahnya massa aksi kembali bergerak ke arah Menteng untuk menuju monumen Patung Pahlawan (Tugu Tani).
Baca juga: Aksi Indonesia Sadar, Massa Aksi Suarakan Keresahan
Setelah melakukan demonstrasi di Tugu Tani, massa aksi kemudian bergerak untuk mundur dari lokasi pada pukul 19:00 WIB. Massa aksi tersebut kemudian tiba di Kampus A UNJ pada pukul 19:35 WIB.
Demonstrasi tersebut kembali membawakan tuntutan yang serupa dari demonstrasi yang sebelumnya, mulai dari penetapan karhutla sebagai bencana nasional serta pengusutan pelakunya. Kemudian tuntutan untuk mengembalikan dana pendidikan, penghentian militerisme dalam ranah sipil, hingga yang tuntutan untuk mengevaluasi program MBG.
Ketua Green Force UNJ, Daffa, mengatakan pemilihan monumen Tugu Tani sebagai lokasi demonstrasi di latar belakangi lantaran lokasinya yang dinilai sentral dan dilewati oleh banyak orang. Dia pun berharap dengan pemilihan lokasi tersebut mampu menarik banyak atensi dari banyak orang yang melewati tempat tersebut.
Dia menjelaskan, mereka sudah berkomitmen untuk kembali turun ke jalan sejak demonstrasi jilid I pada kamis (22/10). Dia menambahkan, demonstrasi jilid I sebelumnya mampu sebagai pemantik untuk menarik massa aksi yang lebih banyak pada demonstrasi jilid II kali ini.
“Semoga nanti kita bisa mengkoordinir lagi, konsolidasi kita bisa lebih rapi lagi dalam pelaksanaannya. Semoga di jilid-jilid selanjutnya partisipasi mahasiswa UNJ bisa lebih besar lagi,” tegas Daffa ketika diwawancarai Didaktika pada Kamis (29/10).
Demonstrasi yang berlangsung di Tugu Tani tersebut, tambah Daffa, berlangsung tertib tanpa adanya kerusuhan. Dia menerangkan, segala aspirasi yang disampaikan pada demonstrasi sore tersebut berlangsung dengan damai.
Namun, dia sangat menyayangkan penurunan jumlah personil polisi pada demo tersebut. Menurutnya, penurunan personil polisi pada demonstrasi sore hari tersebut terlalu banyak dan berlebihan.
“Ya, harusnya mereka tidak harus sebanyak itu menurunkan pasukan. Harus lebih chill saja sebenernya, karena kita juga nggak ada memberikan tekanan apa-apa ke mereka,” ujarnya.
Komandan Pasukan Biru FT, Lisa, mengungkapkan bahwa dia merasa bersyukur semakin banyak perempuan yang ingin untuk turun aksi. Dia menambahkan, banyak dari perempuan tersebut sampai memberanikan diri lantaran telah begitu resah dengan rezim pemerintah saat ini.
Dia pun menjelaskan, keselamatan massa aksi, terutama massa perempuan selalu menjadi prioritas utama dalam mitigasi aksi. Baginya, sebelum turun aksi demonstrasi, keselamatan selalu menjadi yang pertama untuk diperhatikan.
“Kita mengunggah tentang isu-isu terkini yang akhirnya para perempuan ini merasa, oh ternyata kita bisa turun ke jalan dengan aman dan sistematis,” tegasnya pada Kamis (29/10).
Salah seorang anggota Solidaritas Pemoeda Rawamangun, G (inisial), menuturkan harapannya untuk Presiden dan Wakil Presiden Prabowo-Gibran dapat diturunkan dari jabatannya. Menurutnya, berbagai kebijakan yang diambil oleh mereka selalu berakhir merugikan rakyat.
Baca juga: Transformasi Menuju Masyarakat Rasional
Dia menjelaskan, perlu adanya evaluasi secara besar-besaran pada berbagai lembaga pemerintahan. Baginya, masyarakat sudah tidak lagi memiliki kepercayaan pada lembaga-lembaga pemerintah saat ini.
“Kita sudah tidak bisa memercayai pemerintah lagi. Maka, kita sebagai masyarakat sendirilah yang seharusnya membantu warga sama warga,” pungkasnya kepada Didaktika, Kamis (29/10).
Reporter/penulis: Damar Wisnuaji & Alzahran Belicha
Editor: Ramadhan Alderisyah

