Hari ini setan tidak selalu gaib, pendidikan tinggi mahal pun bak setan yang menghantui rakyat-rakyat miskin.
Belakangan ini isu pendidikan tinggi sedang menjadi sorotan banyak orang. Pada Senin, (29/4) mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melakukan demonstrasi di depan gedung rektoratnya. Aksi tersebut ditengarai kenaikan biaya uang kuliah tunggal (UKT) yang mencapai tiga kali lipat dari jumlah sebelumnya.
Usut punya usut, kenaikan gila-gilaan biaya kuliah merupakan efek dari peraturan menteri pendidikan baru. Makanya, kita bisa lihat pola sebenarnya terjadi di beberapa kampus negeri. Dalam permendikbud nomor 2 tahun 2024 dan keputusan mendikbud nomor 54 tahun yang sama, biaya kuliah tunggal (BKT)–pangkal dari UKT–ditetapkan langsung oleh Kemdikbudristek sesuai wilayah perguruan tinggi negeri. Pembagian wilayah diputuskan lewat indeks pengeluaran dan kemahalan wilayah. Semakin jauh dari Jawa, maka semakin mahal biaya kuliah.
Namun, bukan berarti wilayah Jawa tidak mahal. Misal, bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, biaya kuliah di Unsoed mengalami inflasi sebesar 20 hingga 80 persen. Hal ini sama saja dengan harga beras yang semula Rp10.000 per liter menjadi Rp18.000.
Nasib yang sama juga terjadi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Meskipun Komarudin saat kampanye pemilihan rektor tahun lalu menjamin tidak akan menaikan biaya kuliah dan sudah pula menandatangani pakta integritas, faktanya BKT justru mengalami peningkatan. Idealnya, apabila BKT itu mengalami kenaikan, maka menyebabkan UKT menjadi tinggi. Karena UKT yang dibayar oleh mahasiswa itu dikelompokan berdasarkan BKT.
Di UNJ memang tidak ada kenaikan UKT yang dibayar oleh mahasiswa, kondisi itu bukan berarti aman, malah terlihat lebih absurd. Masalahnya, bagaimana jumlah BKT bisa diputuskan saat fasilitas penunjang belum lengkap seperti FBS dan FE masih keterbatasan ruang belajar. Belum lagi, FMIPA yang hari ini gedungnya sedang direnovasi. Lalu menghitung biayanya bagaimana? Wallahu a’lam.
Masa mau terus-terusan nombok? Apalagi akan ada gedung-gedung baru di UNJ yang biaya pemeliharaannya akan sangat fantastis. Hanya tinggal menunggu waktu saja UKT akan mengalami kenaikan.
Pada akhirnya, kantong mahasiswa juga yang akan terkuras. Sungguh setan!
Baca juga: Mininterpertasi dalam Memandang Paradigma Universitas
Setan Pendidikan Mahal
Tidak lama, saya bertemu dengan rekan mantan mahasiswa UNJ. Ia terpaksa putus kuliah di tengah semester pertama akibat kelompok UKT yang harus dia bayar tidak sesuai dengan kemampuan ekonominya. Padahal, waktu itu ia amat bersemangat menekuni dunia perkuliahan.
Mungkin adagium populer “Orang miskin dilarang kuliah” menjadi benar-benar nyata ketika saya bertemu dengannya. Apalagi kuliah tidak cuma soal biaya semester, setiap ongkos yang harus ditanggung untuk pulang-pergi juga menjadi beban tak mengenakan.
Teror setan pendidikan mahal tidak hanya memupuskan cita-cita. Pertengahan tahun lalu, seorang mahasiswi asal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) harus meregang nyawa akibat stress dengan biaya kuliah yang harus ia bayar. Setan ini benar-benar membunuh, tidak sebatas fiksi horor belaka.
Sayangnya, setan ini terus dipelihara, baik oleh negara ataupun insan dalam pendidikan tinggi itu sendiri. Dalam lingkup negara, pemerintah terus memberi sesaji kepada setan ini. Caranya adalah mengurangi pendanaan perguruan tinggi, serta memaksa mereka menjadi otonom.
Sementara birokrat perguruan tinggi terus permisif terhadap setan ini, bahkan memberi mereka tumbal-tumbal baru. Teringat setahun lalu, seorang dosen saya sendiri merasa wajar bila pendidikan tinggi mahal, dan kita harus berbangga akan hal itu. Dalam pikiran saya, perkataan itu selayaknya dukun yang sedang menenangkan korbannya, “Hei tumbal, kalian harus rela untuk dikorbankan”.
Setan yang menggerayangi pendidikan tinggi ini akhirnya membuat jurang besar antara si miskin dan si kaya. Lama kelamaan, populasi si miskin di perguruan tinggi akan terus tergerus. Pada akhirnya, perguruan tinggi tidak beda dengan klub golf yang diisi orang-orang berkantong tebal.
Namun tidak perlu pesimis, realitasnya tidak seperti film Joko Anwar. Selayaknya setan dalam agama, setan pendidikan tinggi juga bisa dihabisi. Namun tokoh protagonisnya bukan pemuka agama atau ghostbuster, pemeran utama di sini adalah mahasiswa itu sendiri.
Ini adalah kewajiban kita, demi mewujudkan pendidikan gratis.
Selamat Hari Pendidikan Nasional! Mari wujudkan pendidikan gratis untuk semua!
Penulis : Izam
Editor : Naufal Nawwaf

