Saya lupa hari dan tanggalnya. Saya hanya ingat, selesai acara Kelas Kebudayaan dari Bengkel Sastra (Bengsas) di Kopi Gans, Cipinang, Jakarta Timur. Saya berbincang dengan salah seorang dosen Sastra Indonesia, Irsyad Ridho beserta kakak tingkat saya di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Amin.

Mereka membicarakan tentang Atelir Ceremai, sementara saya membicarakan nasib saya yang awut-awutan di empat semester awal perkuliahan. Kisah yang saya tulis di artikel yang berjudul ”Pupus Harapan Belajar Menulis di FBS”. Saya merasa tulisan di artikel tersebut belum cukup karena saya tidak membicarakan secara spesifik situasi di prodi saya.

Maka, dalam tulisan kali ini saya ingin fokus membicarakan berbagai masalah minat baca-tulis di PBSI. Entah itu masalah mahasiswa yang kehilangan potensi dalam dirinya untuk menulis hingga masalah mahasiswa medioker dan linglung yang tidak tahu arah—termasuk penulis sendiri. Yang seharusnya bisa diberdayakan untuk menulis karena sesuai dengan nama dan profil prodi.

Baca juga: Dana Terkuras Habis, Proyek Pembangunan Gedung SFD UNJ Terhenti

Kemudian, dalam tulisan ini saya tidak ingin menyalahkan dan menyudutkan satu sama lain. Di sini saya hanya ingin sedikit mengorek permasalahan yang menurut sebagian mahasiswa PBSI memang tidak penting, tetapi menurut saya penting sekali. Bahkan, bisa jadi pembelajaran buat mahasiswa PBSI angkatan selanjutnya. Entah angkatan 24, 25, 26 hingga seterusnya.

Semua Bermula

Iklan

Jadi saat semester satu, saya melihat ada dua orang potensial menjadi penulis di angkatan 2022—angkatan saya. Sebenarnya banyak cuma saya takut membawa namanya dalam tulisan ini. Jadi yang saya bicarakan di sini cukup dua orang saja.

Sebut saja Fariz dan Amir. Mereka memang bukan penulis produktif, apalagi penulis terkenal. Menulis saja masih berbentuk memo, diary, dan di-posting diam-diam di blog pribadi, bahkan Amir dan Fariz belum percaya diri melakukan itu.

Tapi, saya merasa mereka memiliki potensi untuk menjadi seorang penulis. Saya melihat api-api kecil meletup-letup dalam mata mereka. Saat melihat api itu saya merasakan bahwa api itu juga ada di dalam diri saya. Dan, api semakin besar di kemudian harinya. Membakar diri saya dan Fariz untuk membuat akun diary di Instagram (IG).

Akun saya bernama ”Diarydone” dan Fariz bernama ”Cerita Tempat” waktu itu. Di sana, kami posting quotes, cerita seru-seru saat jadi mahasiswa baru (maba), hingga balas-balasan pendapat lewat posting-an di IG. Sedangkan, Amir membuat akun IG bernama Meraki Cerita—namun sayang akun tersebut tidak mem-posting satu kiriman pun, padahal saya sudah menunggunya.

Mak jleb! Tiba-tiba datanglah semester dua. Dua teman saya masuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Saya senang awalnya. Namun, setelah memasuki semester ketiga api dalam mata mereka padam seluruhnya. Di situlah awal kekecewaan saya dengan BEM muncul, memang tanpa dasar yang jelas. Beruntungnya, Fariz bisa kembali menemukan potensinya dan jadi kontributor di Terminal Mojok.

Masalah awalnya cuma gara-gara BEM mematikan potensi dua teman saya? Iya. Lebay banget! Tapi, karena itulah, akhirnya saya jadi mengulik pola-pola kehidupan di PBSI. Kasarnya begini, ”Kenapa sih ini bisa terjadi? Pasti ada suatu sistem yang tidak kasat mata membuat hal ini bisa terjadi! Bentuknya mungkin tidak kami sadari, tanpa sengaja kami tiba-tiba sudah kejebak dan terperangkap.” Begitulah renungan saya.

Alangkah baiknya kalau saya analisis situasi di prodi saya terlebih dulu.

Situasi di Prodi PBSI

Pertama, mahasiswa PBSI jarang yang kental dengan budaya baca-tulis. Seperti yang saya tuliskan di artikel berjudul ”Pupus Harapan Belajar Menulis di FBS”. Singkatnya begini, di PBSI budaya baca-tulis yang seharusnya jadi budaya mayoritas, malah jadi budaya kaum minoritas gitu.

Kedua, mahasiswa di PBSI itu rata-rata mahasiswa medioker. Ini bisa terjadi karena memang pada dasarnya mahasiswa PBSI itu jarang datang dari MA/SMA/K unggulan. Kalau dari sekolah unggulan, mereka pun bukan siswa yang memang terkenal kutu buku dan pintar-pintar amat di sekolahnya.

Iklan

Maka, dari situ saya bisa melabeli mereka sebagai mahasiswa medioker karena saya sama seperti mereka. Saya cuma lulusan dari SMK ecek-ecek di Jakarta.

Perlu diingat, tidak semuanya seperti di atas. Soalnya, buat mereka yang memang sudah pintar dari sekolah dan punya hasrat terus tumbuh dan mengembangkan diri. Malah makin terbang tinggi! Tapi hal tersebut jarang terjadi kepada mereka si mahasiswa medioker.

Ketiga, sama seperti kasus mahasiswa medioker kebanyakan. Mahasiswa medioker itu rata-rata linglung akan potensi dalam dirinya. Padahal, saya yakin banyak teman-teman saya yang berpotensi jadi penulis. Bahkan salah satu teman sekelas saya ada yang masuk ke jurusan PBSI atas saran guru SMA-nya. Berarti memang gurunya itu melihat ia ada potensi di bidang kepenulisan.

Tapi pertanyaan begini, ”Kalau misalnya mereka tahu potensi dirinya, masalahnya mereka bingung menyalurkannya ke mana.” Wajar saja, prodi PBSI tidak punya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)/komunitas. Jadinya, wajar saya kalau akhirnya mereka tidak dapat wadah pengembangan diri di bidang baca-tulis di PBSI.

Baca juga: Banyak Cacat LMS-UNJ dalam Menunjang Perkuliahan Daring

Jebret! Karena kondisi linglung inilah, mereka saat maba bisa dihasut tipis-tipis untuk masuk ke BEM. Padahal, sebenarnya ada dari mereka yang tidak pengen masuk ke sana. Ya, karena teman saya itu bingung mau ngapain, makanya masuk BEM adalah jalan keluar untuk mengatasi kebingungan mereka.

Perlu diingat, tidak semua orang masuk BEM itu karena seperti analisis saya.

Nah, tiga poin di atas adalah masalahnya. Masalahnya adalah saat teman-teman saya—termasuk saya—linglung dan merasa butuh pemantik dan tempat penyaluran. Tidak ada dosen dan kakak tingkat yang bisa menjadi wadah.

Bisa Belajar dari Masa Lalu

Kalau memang, BEM sudah banyak program kerja (proker), ya tidak sudah pakai acara BEM. PBSI bisa acara sendiri luar proker BEM. Entah bikin komunitas baru atau apa. Saya yakin bisa! Alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI)—dulu prodi sebelum PBSI dan Sastra Indonesia (Sasindo) dipecah—banyak alumni keren yang tumbuh menjadi penulis.

Nah, dulu di JBSI ada komunitas Tembok Sastra sebagai wadah mahasiswa untuk belajar baca-tulis. Fakta menariknya, salah satu yang suka nongkrong itu, Doni Ahmadi, punya penerbit yang bernama Anagram. Terus ada juga yang jago di bidang puisi namanya Galeh Pramudianto.

Itu baru dari komunitas Tembok Sastra. Belum yang dari Bengsas dan lain-lain. Soalnya banyak juga yang jadi penulis atau jadi jurnalis, cuma saya lupa nama-namanya. Intinya sih, kita punya alumni yang keren. Saya yakin sejarah itu berulang. Dan, pola-polanya hampir sama, tugas kami tinggal menyesuaikan saja dengan zaman.

Sekarang yang dibutuhkan tinggal kepercayaan diri dan rasa yakin saja. Saya berharap, tulisan ini dibaca oleh mahasiswa PBSI angkatan 23, 24 atau nanti angkatan 25 atau 26 sampai seterusnya. Semoga dibaca juga sama dosen PBSI kalau bisa. Mungkin bagi sebagian mahasiswa dan dosen PBSI masalah di atas sepele, tapi buat mereka yang ingin sekali belajar menulis ini pasti penting sekali.

Ayo semangat. PBSI pasti bisa!

Penulis: Muhammad Ridwan Tri Wibowo, Mahasiswa PBSI 2022