Proyek pembangunan Gedung Saudi Fund for Development (SFD) UNJ mandeg lantaran dana terkuras habis. Mahasiswa mengeluhkan molornya pembangunan tersebut.

Senin siang (26/5), pagar seng putih masih berdiri kokoh menutupi sebagian besar area pembangunan Gedung C dan D di Kampus A UNJ. Meski begitu, tidak terlihat tanda-tanda aktivitas pembangunan di sana. Tidak ditemukan lalu-lalang pekerja proyek dan alat berat. Ditambah menjamurnya rerumputan liar menandakan sudah didiamkan dalam waktu lama.

Adapun pembangunan Gedung C dan D merupakan bagian dari proyek The Development and Upgrading of UNJ Phase 2. Melalui pinjaman senilai US$38 juta atau sekitar Rp608 miliar (1 USD = Rp16 ribu) dari Saudi Fund for Development (SFD) pada tahun 2019, proyek ini menargetkan pendirian lima bangunan baru yaitu Gedung A, B, C, D dan Character Building.

Baik Gedung A, B, C, dan D direncanakan sebagai bangunan sepuluh lantai. Di setiap gedung akan terdapat ruang kelas, laboratorium, dan berbagai fasilitas penunjang kegiatan sivitas akademika lainnya.

Baca juga: Terlalu Cepat Tutup, Mahasiswa Mengeluhkan Jam Operasional Perpustakaan UNJ

Sementara itu, Gedung Character Building dirancang sebagai bangunan lima lantai yang berpusat kepada pengembangan karakter mahasiswa. Di dalamnya akan ada fasilitas seperti masjid dan ruang rapat mahasiswa.

Iklan

Namun, sejak kontrak pembangunan antara UNJ dengan SFD ditandatangani enam tahun lalu, hingga kini baru Gedung A dan B yang telah diresmikan dan mulai digunakan. Sementara itu, tiga bangunan lainnya, yakni Gedung C, D, dan Character Building masih dalam tahap pembangunan.

Padahal, pada Januari 2023, Manajer Proyek SFD, Ja’far Amiruddin menargetkan pembangunan seluruh gedung selesai akhir 2024. Akan tetapi, pernyataan Ja’far berubah pada pertengahan 2024, ia optimis setiap gedung baru hasil kerja sama dengan SFD bisa digunakan pada semester genap 2025.

Sementara itu, Manajer Proyek SFD, Ja’far Amiruddin mengamini adanya keterlambatan pembangunan. Hal itu menurutnya dipengaruhi oleh terbatasnya dana pembangunan dari SFD.

“Sebenarnya dana SFD belum cukup untuk membangun gedung kelima-limanya, Akhirnya kita siasati dengan menyelesaikan dulu Gedung A dan B,” kata Ja’far Selasa (27/05).

Ja’far mengungkapkan proyek pembangunan SFD di UNJ telah berhenti sejak akhir tahun lalu. Sebabnya, kontrak pembangunan UNJ dengan SFD telah habis. Adapun kontrak tersebut tertulis pada Loan Agreement (LA) SFD Nomor 11/740 yang berlaku efektif mulai tanggal 13 Juni 2019 sampai tanggal penutupan pada 31 Desember 2024.

Meski begitu, Ja’far mengutarakan kontrak antara UNJ dengan SFD akan diperpanjang. Jelasnya, perpanjangan kontrak itu berisi penambahan dana untuk pembangunan sejumlah gedung yang belum rampung. Sebut Ja’far, dana tambahan dari SFD yang dibutuhkan UNJ senilai Rp40 miliar.

Tambah Ja’far, pencairan dana tambahan SFD rencananya cair pada Juli 2025, sehingga proyek pembangunan dapat kembali berjalan. Ja’far optimis pembangunan Gedung C, D, dan Character Building rampung pada akhir tahun 2025. Sebab baginya, progres pembangunan ketiga gedung tersebut sudah mencapai 80 persen.

“Harapannya pembangunan akhir tahun sudah beres. Kemarin kita estimasi waktu untuk penyelesaian pembangunan hanya tiga sampai empat bulan. Sebenarnya tidak lama, kalau ada duitnya cepat selesai, “ tutup Ja’far.

Senada dengan Ja’far, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis, Andy Hadiyanto menyatakan dana pembangunan dari SFD terbatas. Bahkan menurutnya, kucuran dana yang didapatkan UNJ dari SFD telah habis, sehingga pembangunan tidak bisa lanjutkan. Keterbatasan dana itu menurutnya imbas adanya Pandemi Covid-19.

Andy menyatakan, kontrak pembiayaan proyek pembangunan SFD di UNJ terjadi pada tahun 2019. Namun, Pandemi Covid-19 muncul sejak tahun 2020. Dampaknya, biaya pembangunan gedung melonjak secara masif. Kondisi ini membuat anggaran dana yang semula diperkirakan cukup menjadi tidak mencukupi.

Iklan

“Anggaran diajukan sebelum Pandemi Covid-19, tapi dana dicairkan saat pandemi di mana harga bahan sudah naik. Itu yang membuat dana yang ada tidak lagi mencukupi,” ujarnya saat diwawancarai pada Jumat (23/05).

Untuk menutupi kekurangan itu, Andy mengutarakan, UNJ mengajukan dana kontingensi atau tambahan kepada SFD. Menurutnya, pengajuan dana itu telah disetujui oleh pihak SFD. Namun, proses pencairan dana masih harus melewati mekanisme persetujuan lembaga pemerintah seperti Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Tambah Andy, proposal pengajuan dana kontingensi SFD telah dikirim sejak pertengahan 2024 ke Bappenas. Meski begitu, proposal itu baru disetujui Bappenas pada bulan Mei tahun ini.

Sama seperti Ja’far, Andy optimis proses keseluruhan pencairan dana tambahan SFD selesai pada Juli 2025. Dengan begitu, aktivitas pembangunan dapat kembali berjalan. Lanjutnya, proyek pembangunan SFD di UNJ ditargetkan dapat selesai akhir tahun ini.

Ja’far menyadari keterlambatan pembangunan gedung SFD di UNJ memberatkan mahasiswa. Namun, ia mengatakan pimpinan kampus telah berupaya keras agar pembangunan dapat selesai secepat mungkin.

“Memang pembangunan ini tidak sesuai dengan perencanaan yang ditetapkan. Tapi kan kita juga tidak berurusan hanya dengan pihak internal UNJ saja, tapi ada pihak eksternal yang memang ikut serta dalam keterlambatan proses ini, “ keluh Andy.

Pembangunan Mandek Memberatkan Mahasiswa

Molornya proyek pembangunan SFD di UNJ meresahkan mahasiswa. Salah satunya adalah mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi angkatan 2024, Difa Amelia. Difa mengaku sempat bahagia saat diinformasikan oleh kakak tingkatnya bahwa perkuliahan tahun pertamanya akan berlangsung di gedung baru, tepatnya di Gedung D.

“Sebagai mahasiswa baru awalnya excited dikabarkan gedung baru bakal selesai di akhir tahun 2024, tapi sekarang malah merasa kecewa berat,” keluhnya saat diwawancarai pada Senin (26/05).

Baca juga: Pupus Harapan Belajar Menulis di FBS UNJ

Menurut Difa, keterlambatan pembangunan ini berdampak langsung kepada kenyamanan belajarnya. Jelasnya, jumlah ruang kelas di prodinya terbilang sedikit. Bahkan, ia mengaku, tak jarang kelasnya terpaksa dibatalkan karena ruangan tidak tersedia. Adapun kebanyakan kelas Prodi Ilmu Komunikasi berada di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH).

Difa sangat mengharapkan pembangunan seluruh gedung baru bisa rampung. Ia menambahkan, penyelesaian pembangunan gedung penting bukan hanya demi ruang kuliah, tapi juga untuk ruang diskusi, organisasi, dan tempat istirahat mahasiswa.

“Jangan bikin kita terus nunggu sambil bingung. Kapan akhirnya kita bisa menikmati fasilitas yang sudah dijanjikan dari awal?” tegasnya.

Keresahan juga dialami oleh mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) angkatan 2023, Akmal Hafidz. Saat menjadi mahasiswa baru, Akmal mengakui pernah dijanjikan oleh seorang dosennya bahwa dirinya akan menikmati perkuliahan di Gedung C pada tahun 2024.

Akmal begitu menantikan kuliah di gedung baru. Sampai-sampai ia kerap memantau kondisi terkini pembangunan dengan menonton kanal Youtube UNJ-SFD Project Tv. Akmal menyadari unggahan perkembangan proyek berhenti sejak lima bulan lalu.

“Saya harap pihak kampus bisa memastikan pembangunan berlanjut dan memberi informasi yang jelas soal perkembangan pembangunan, agar mahasiswa tidak dibiarkan bertanya-tanya,” ujarnya pada Senin (26/05).

Banyak dasar yang membuat Akmal ingin kuliah di gedung baru. Sudah sedari awal memasuki UNJ, Akmal tidak mempunyai gedung fakultas. Sebab, gedung fakultasnya lenyap demi proyek pembangunan SFD.

Dengan demikian, kebanyakan perkuliahan Akmal dilakukan secara daring. Padahal menurutnya, sebagian besar kelas kuliah tidak efektif untuk dilakukan secara daring.

“Saya sangat membutuhkan gedung baru. Saya harap pada semester depan pembangunan ini telah selesai dan dapat langsung digunakan untuk perkuliahan.“ pungkasnya.

Reporter/penulis: Khalda Syifa
Editor: Andreas Handy