Saya mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Jakarta (PBSI FBS UNJ) semester enam. Alasan saya memilih jurusan PBSI karena dulu berpikir di sanalah bisa mendapatkan teman sehobi, yaitu baca buku. Selain itu, juga berharap di perkuliahan, saya bisa membangun kebiasaan untuk menulis. Jujur saja, demi mimpi itu saya sampai mati-matian kerja, tidak suka jajan-jajan, dan uangnya ditabung buat kuliah.
Waktu itu, gerakan literasi belum semasif seperti sekarang. Jadi, saya tidak punya pilihan. Mau tidak mau harus kuliah buat mendapatkan teman sehobi dan teman untuk belajar menulis. Kalau misalnya lulus SMA/K di tahun 2024, mungkin saya tidak bakal memutuskan untuk kuliah. Karena untuk bertemu teman yang suka baca dan menulis, bisa ikut komunitas literasi yang ada di Jakarta.
Tapi, kenyataannya saya masuk kuliah di tahun 2022. Jadi, keputusan yang paling masuk adalah mencari itu semua di kampus. Namun sayangnya, ketika menjadi mahasiswa di PBSI, saya tidak mendapatkan apa yang dibayangkan. Terus terang, kecewa dan rugi secara material.
Tidak Punya Budaya Baca dan Menulis
Ketika baru menjalani sebulan menjadi mahasiswa, saya sudah tertampar oleh kenyataan pahit di prodi. Pertama, hanya beberapa teman yang memiliki hobi serupa. Bukan ini sebuah ironi? Kalian bisa bayangkan sendiri di PBSI, hanya sedikit mahasiswanya yang punya minat baca dan menulis. Apa jadinya?
Kedua, prodi saya sama sekali tidak memiliki Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) menulis. Bahkan, di lingkup fakultas pun juga tidak ada. Kalau UKM bidang teater memang ada di Prodi Sastra Indonesia, yaitu Teater Zat dan Bengkel Sastra (Bengsas). Namun, tidak semua orang yang suka baca dan menulis itu suka teater. Tidak semua orang suka tampil! Produksi teater juga sangat makan waktu dan melelahkan.
Baca juga: Pelanggengan Kekerasan Simbolik melalui Institusi Pendidikan
Kemudian tahun berganti, saya sudah selesai menjalani dua semester di PBSI. Di situ saya mulai menyerah dengan keadaan prodi saya. Di semester tiga, saya mulai main ke Prodi Sastra Indonesia, dan di sana berkenalan dengan mahasiswa prodi lainnya di lingkup FBS. Namun sayangnya, lagi-lagi saya mendapatkan kekecewaan. Mayoritas mahasiswa prodi di lingkup FBS itu tidak punya budaya membaca dan menulis.
Saya dan teman-teman terjebak dalam kondisi di atas. Teman-teman saya banyak yang menyerah! Menyisakan saya dan satu teman saya yang bernama Walid. Ia sebenarnya juga sudah menyerah, mungkin karena tidak enakan, jadi ia tetap membersamai saya. Soalnya saya berpikir bahwa apa yang saya lihat bukanlah satu-satunya realitas di FBS. Saya yakin mahasiswa-mahasiswa minoritas seperti saya, pasti ada. Cuma tidak muncul saja di permukaan.
Coba Membayangkan Kemungkinan-Kemungkinan
Saya suka berpikir bahwa kadang apa yang kita lihat dengan mata itu terbatas, bahkan bisa menipu. Wajar saja, kita cuma punya dua mata kan? Nah, menurut saya, di sinilah pentingnya kita untuk berimajinasi. Ayo kita coba mulai dengan pertanyaan dasar, ”Tujuan adanya FBSi—spesifik jurusan bahasa atau sastra itu untuk apa sih?”
Kita bisa jawab begini, ”Agar punya generasi-generasi unggul di bidang bahasa dan sastra.” Ini secara esensi. Tapi, memang bukan berarti setiap orang yang masuk ke prodi bahasa dan sastra di FBS UNJ itu karena hal tersebut. Iya, bisa saja karena salah jurusan, yang penting kuliah atau alasan lainnya. Namun, juga tidak menutup kemungkinan bahwa ada yang ingin masuk prodi tersebut untuk mengembangkan diri di lingkup dunia baca dan tulis. Saya masih percaya di dunia ini masih ada orang seperti itu!
Siapa tahu, sebenarnya ada minoritas mahasiswa FBS yang diam-diam baca di rumah, kedai kopi, TransJakarta, KRL, dan perpustakaan UNJ. Siapa tahu, ada beberapa mahasiswa-mahasiswa FBS yang malu memamerkan tulisannya di media massa, jadi cuma tersimpan di blog saja. Siapa tahu! Mungkin, mereka tidak kelihatan karena kalah sama budaya mayoritas. Kenapa saya bisa berimajinasi seperti itu? Karena saya adalah bagian dari orang yang saya imajinasikan.
Tidak Ada Wadahnya di FBS
Saat memasuki semester keempat, saya diterima menjadi mahasiswa pertukaran ke Lombok. Namun seminggu sebelum keberatan, saya mengundurkan diri karena teman saya yang bernama Walid mengajak masuk Bengsas. Karena Bengsas mengubah jadi komunitas kepenulisan, saya langsung gas! Nah, saat masuk Bengsas, saya mendapatkan satu pandangan baru.
Baca juga: Hentikan Tradisi Berbalut Aktivitas Pura-Pura Akademik
Begini, anggota Bengsas itu rata-rata mahasiswa Sastra Indonesia, dan beberapa anggotanya suka membaca dan menulis, tapi lebih banyak juga yang cuma suka baca saja atau suka nulis saja. Dan, satu hal yang tidak saya temukan adalah anggotanya tidak punya kebiasaan menulis. Ya, menulis secara disiplin, teratur, dan konsisten. Namun, setidaknya mereka terselamatkan karena adanya Bengsas ini.
Pertama, mereka yang awalnya tidak suka baca, jadi sedikit-dikit suka baca. Mereka yang tidak suka menulis, sedikit-dikit mulai menulis. Nah, mereka yang suka membaca dan menulis jadi mulai-mulai serius untuk membaca dan menulis. Di sinilah akhirnya saya merasa seperti punya teman seperjuangan. Di sini juga, saya mulai konsisten menulis dan berhasil menerbitkan beberapa cerpen saya ke media massa.
Maka, timbullah satu pertanyaan di benak saya. “Apa jangan-jangan salah satu penyebabnya mayoritas mahasiswa FBS tidak punya budaya baca-tulis karena memang tidak ada wadahnya. Entah di prodinya sampai di tingkat fakultasnya?”
Empat Persoalan yang Harus Diselesaikan
Setelah memasuki akhir semester lima saya mulai mendapatkan sejumlah jawaban. Pertama, kebanyakan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FBS, tidak punya budaya baca-tulis. Jadi, mereka tidak bisa membayangkan seperti yang saya bayangkan, jadi kaum-kaum minoritas yang mau belajar menulis tapi tidak ada tempatnya.
Kedua, di setiap prodi di FBS jarang banget punya dosen yang suka menulis sastra, esai populer, dan lainnya. Lagipula ngapain juga mereka mengurusi mahasiswa biar suka baca dan menulis, mereka saja sudah sibuk dengan masalah administrasi. Nah, karena itu jarang ada dosen yang mau ambil bagian untuk membentuk UKM kepenulisan di prodinya. Masa bodo, biar mahasiswanya sendiri saja yang membuat.
Ketiga, mahasiswa yang suka nongkrong dan punya waktu luang tidak bisa membaca situasi. Mereka sendiri sebenarnya tidak kental sama budaya baca-tulis. Mereka sebenarnya juga merupakan bagian dari kelompok mayoritas tadi. Jadi, wajar saja mereka kurang aware ke kelompok mahasiswa yang punya budaya baca-tulis. Mereka cuma ngajak nongkrong saja, tapi tidak bisa kasih tawaran kalau nongkrong sama mereka bisa mengembangkan kemampuan baca-tulis.
Saya pun merasakan itu. Maka, saya mengkhayal kalau kelompok yang punya budaya baca-tulis ini tidak mau tampak ke permukaan karena merasa gaya hidup mereka memang nggak cocok sama yang suka mengajak nongkrong. Mungkin saja, mereka yang punya budaya baca-tulis tidak suka basa-basi. Coba kalau kebiasaan nongkrongnya diubah jadi lebih bermanfaat.
Misalnya, pas nongkrong bahas bikin bootcamp untuk perkembangan diri atau bikin proyek nulis bareng, kemudian dibukukan. Nanti mereka bisa bikin acara launching, terus bukunya bisa dijual. Uangnya nanti bisa dijadikan kas untuk bikin acara kecil-kecilan nantinya. Bisa buat mimbar bebas.
Keempat, ihwal masalah mahasiswa yang suka nongkrong dan punya waktu luang. Mereka selalu bergantung dengan BEM. Belajarlah berdikari, dengan cara bikin komunitas, bentuk sistem koperasi atau ekonomi kreatif lainnya. Kalau minta bantuan ya sekali-dua kali saja. Tapi jangan lupa juga harus berusaha independen. BEM sudah capek, jangan berharap sama yang sudah capek. Apalagi rata-rata anggotanya juga tidak punya kompetensi memadai dan punya sistem organisasi yang buruk.
Penulis: Muhammad Ridwan Tri Wibowo, mahasiswa PBSI UNJ 2022

