Learning Management System (LMS) kerap kali mengalami kendala teknis karena servernya penuh. Platform tersebut pun masih memiliki kekurangan fitur yang ramah terhadap mahasiswa penyandang tunanetra.
LMS-Universitas Negeri Jakarta (UNJ) masih menjadi andalan media pembelajaran dalam jaringan (daring). Platform tersebut punya ragam fitur yang menunjang kegiatan akademik seperti materi pembelajaran, penugasan, forum diskusi, kuis, serta ujian. Akan tetapi, LMS-UNJ masih menghadapi banyak kendala teknis dan minim inovasi fitur.
Tim Didaktika mengadakan survei terhadap kalangan mahasiswa pengguna LMS-UNJ untuk pembelajaran daring pada 23-25 Mei. Dari 102 mahasiswa, sebesar 74,51 persen responden masih mengandalkan platform tersebut sebagai media pembelajaran daring.

Baca juga: Dana Terkuras Habis, Proyek Pembangunan Gedung SFD UNJ Terhenti
Namun, sebanyak 102 mahasiswa mengaku sering mengalami kendala teknis dalam menggunakan LMS-UNJ. Kendala tersebut antara lain server down/error (47,8 persen), tidak bisa login (16,6 persen), loading lama (9,6 persen), website lag serta bug (5,1 persen), dan pembatasan ukuran file saat unggah tugas (3,8 persen).
Hal itu salah satunya diungkapkan mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bisnis 2024, Siva Nur’Ajizzah. Ia berkata, dirinya kesulitan untuk tetap produktif dalam proses pembelajaran daring melalui LMS-UNJ. Pasalnya, kerap kali Siva mengakses LMS-UNJ untuk materi pembelajaran dan penugasan, ia menemukannya dalam kondisi error.
Padahal, Siva mengaku performa jaringan internet di tempatnya bagus saat login LMS-UNJ. Ia menjelaskan, pembelajaran daring lewat LMS-UNJ kerap membutuhkan usaha lebih. Sebab, dirinya harus menyelesaikan gangguan teknis sendiri dulu agar bisa tetap mengikuti perkuliahan.
“Banyak hal yang mendistraksi saya saat kuliah lewat LMS. Saya pun jadi tidak produktif,” keluhnya saat diwawancarai langsung di kosannya (5/5).
Gangguan teknis itu, ujar Siva, membuat dirinya tidak bisa fokus kuliah. Lanjutnya, seharusnya masalah tersebut bisa diatasi tenaga Teknologi dan Informasi (TI) universitas. Sehingga, mahasiswa tidak perlu pontang-panting untuk mengatasi gangguan teknis.
“Gangguan operasional LMS-UNJ mesti diatasi, agar mahasiswa mampu melakukan pembelajaran daring secara optimal di dalam platform tersebut,” pintanya.

Selain itu, masih dari data survei yang sama, sebesar 17,2 persen mengeluhkan tampilan dan pengalaman pengguna (UX/UI) LMS-UNJ. Sebab, UX/UI tersebut masih belum ramah untuk semua mahasiswa. Navigasinya pun menyulitkan mahasiswa untuk beraktivitas.
Hal ini disampaikan mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris 2024, Muhammad Rayhan. Ia berujar, sebagai mahasiswa penyandang tunanetra, sulit baginya untuk menggunakan LMS-UNJ secara luwes.
Rayhan menerangkan, saat menggunakan LMS-UNJ, ia memakai aplikasi bantuan pembaca otomatis (screen reader). Dengan aplikasi itu, Rayhan dapat mengklik menu yang terdapat di LMS-UNJ untuk akses kegiatan perkuliahan. Akan tetapi, ungkap Rayhan, tidak semua menu bisa dideteksi screen reader.
Rayhan mencontohkan, ketika ingin mencari kelas, ia kesulitan untuk menemukannya. Sebab, banyak sekali kelas yang tidak terpakai dan menumpuk di halaman pencarian kelas LMS-UNJ.
“LMS ini ribet bagi saya. Mungkin kalau kalian yang bisa melihat tinggal tap-tap pakai jari. Tapi kalau saya harus dengarkan dulu pakai screen reader, satu per satu,” tuturnya saat diwawancarai via Zoom pada Selasa (27/5)
Tak jarang Rayhan meminta pertolongan kepada teman-teman kelasnya untuk mengumpulkan tugas dan mengirim file di LMS-UNJ. Ia mengatakan, kesulitan itu tidak hanya dirasakan dirinya saja, tapi juga mahasiswa penyandang tunanetra yang lain.
Ia juga memberi masukan agar tampilan LMS-UNJ bisa lebih disederhanakan agar ramah akses terhadap pengguna tunanetra. Rayhan mencontohkan Google Classroom, yang tombolnya mampu mengeluarkan suara yang berfungsi jadi petunjuk baginya.
“Coba deh untuk perancang LMS-UNJ untuk melihat aplikasi classroom, menurutku aplikasi ini bisa diakses oleh kami para tunanetra, tentunya juga jadi aplikasi ya, bukan jadi web” tambahnya.
Sistem Penyimpanan Tidak Dirawat
Menanggapi keluhan kendala teknis LMS-UNJ, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustikom) UNJ, Pitoyo Yuliatmojo menjelaskan menumpuknya file membuat ruang penyimpanan (storage) di server penuh. Akibatrnya, website LMS-UNJ sering error, lemot, bahkan down.
Lanjutnya, penumpukan file tersebut terjadi karena tata kelola video pembelajaran dan materi kuliah dosen yang tersimpan di website LMS-UNJ tidak dirawat. Padahal, kapasitas storage di server LMS-UNJ terbatas.
“Yang menata storage itu Badan Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (BP3). File dan kelas daring yang tidak dihapus menyebabkan server menjadi overload,” ungkapnya saat diwawancarai di kantor Pustikom (3/6).
Sebagai langkah perbaikan, Pustikom bersama Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni tengah menyusun tata kelola storage secara resmi dalam bentuk peraturan organisasi atau keputusan rektor. Menurut Pitoyo, peningkatan storage website LMS-UNJ perlu dilakukan dengan meremajakan servernya.
“Tahun ini insyaallah ada penambahan storage. Tapi, tetap prosesnya butuh waktu dan menyesuaikan kebijakan universitas,” ujarnya.
Koordinator Pengembangan Pembelajaran Virtual, Sumber Belajar, dan Layanan Disabilitas (PPVSBLD), Lalan Erlani ikut menanggapi permasalahan storage yang menumpuk di website LMS-UNJ. Masalah ini terjadi karena pengelola LMS-UNJ di tingkat prodi tidak rutin membersihkan data yang sudah kadaluarsa.
Menurut Lalan, pengelola LMS-UNJ di tingkat prodi sering bergonta-ganti. Hal ini mengakibatkan pemeliharaan LMS menjadi terhambat karena tanggung jawab tugasnya tidak tetap. Ia juga pernah menemukan pengelola LMS-UNJ justru meninggalkan tugasnya untuk perkara lain.
“Prodi sudah diserahkan akses untuk mengelola LMS, tapi justru itu tidak dilakukan secara maksimal,” ucapnya saat diwawancarai lewat panggilan telepon seluler pada Kamis (12/6).
Lalan membenarkan, website LMS-UNJ memang belum banyak bisa dibaca screen-reader. Ia berjanji akan merubah website LMS-UNJ agar bisa terdeteksi aplikasi tersebut.
Baca juga: Terlalu Cepat Tutup, Mahasiswa Mengeluhkan Jam Operasional Perpustakaan UNJ
Soal fitur audio teks yang belum ada di LMS-UNJ, Lalan berujar hal itu seharusnya bisa diatasi pengelola di tingkat prodi. Sebab, baginya otoritas pengelolaan LMS-UNJ sudah distribusikan kepada setiap prodi.
Akan tetapi, Lalan mengakui pengelola LMS-UNJ di tingkat prodi masih minim pemahaman terhadap isu-isu disabilitas. Oleh sebab itu, PPVSBLD tengah berusaha meningkatkan pemahaman itu agar tercipta pembelajaran melalui LMS yang inklusif dan ramah disabilitas.
“Tiga hari lalu, kami bersama Layanan Mata Kuliah Universitas (LMKU) dan Pustikom sudah urun rembuk terkait masalah akses mahasiswa disabilitas untuk LMS. Nantinya di tingkat prodi bisa langsung mengikuti,” pungkasnya.
Penulis/Reporter: Shari Angelica N.
Editor: Naufal Nawwaf

