Pada 2025, partai pendatang baru bernama “Sanseito” berhasil mendapatkan 14 kursi dari total 248 kursi di Parlemen Jepang. Walaupun berawal dari kanal YouTube pada 2019 bernama “Seito Do It Yourself (Partai Lakukan untuk Pribumi Jepang)”, yang kemudian bertransformasi menjadi partai politik pada 2020. Namun, Partai Sanseito berhasil mengalahkan partai politik besar, seperti Partai Liberal Demokrat (LDP) yang dipimpin oleh Mantan Perdana Menteri Shigeru Ishiba.

Kesuksesan Partai Sanseito berlanjut saat Pemilu Sela Jepang yang diadakan pada Februari 2026. Dimana, partai tersebut berhasil mengukuhkan dirinya di Parlemen dengan perolehan 15 kursi. Walakin, menjadikannya sebagai partai oposisi terbesar ketiga di Jepang, mengalahkan beberapa partai pesaingnya.

Baca juga: Jelita

Diketahui, Partai Sanseito berhasil menggaet suara mayoritas melalui kampanye yang menarasikan ihwal kedaulatan pribumi Jepang di bangsanya sendiri, yakni “Japanese First”. Di mana partai tersebut mengklaim telah terjadi invasi orang asing secara terselubung dan berdampak negatif bagi negara.

Sebagai contoh dalam kampanyenya, Partai Sanseito membawa agenda anti-imigran. Hal itu diambil berlandaskan masifnya arus pariwisata, tenaga kerja asing, hingga masuknya modal ekonomi ke Negeri Sakura ini. Sehingga diklaim dapat menggoyahkan kedaulatan pribumi Jepang dan mengikis nilai-nilai budaya bangsa.

Narasi dan agenda kampanye Partai Sanseito terinspirasi dari Presiden Donald Trump. Sebab lewat orientasi politiknya, kepala negara Paman Sam tersebut sangat mengedepankan agenda “American First” atau kepentingan Amerika adalah segala-galanya. 

Iklan

Setelah menang, Partai Sanseito di bawah kabinet Perdana Menteri Sanae Takaichi mencanangkan tentang kebijakan mengurangi sektor pekerja asing, menambahkan syarat naturalisasi, hak kepemilikan tanah, dan melarang LGBT-Q. Hal itu dimaksudkan untuk membatasi pengaruh nilai budaya asing yang dapat merusak budaya Jepang.

Selain itu, Partai Sensaito juga menekankan militerisasi dan kepemilikan atas senjata nuklir dalam agenda politiknya. Dengan tujuan, agar Jepang dapat memiliki kekuatan yang dapat memperkukuh kedaulatan negara.

Apabila dikritisi, orientasi dan agenda politik Partai Sanseito terkesan bersifat menjunjung tinggi nilai-nilai chauvinisme. Yakni suatu paham yang memandang suatu kelompok atau bangsa lebih superior dibandingkan yang lainnya. Alhasil melalui pandangan ini, Partai Sensaito terkesan ingin mengeliminasi segala bentuk yang bersifat “asing”, alih-alih mengutamakan keterbukaan. 

Akar Chauvinisme dan Superioritas Jepang

Merujuk buku karya Edwin O. Reischauer berjudul Manusia Jepang, membahas secara historis mengenai paham chauvinisme dan superioritas bangsa Jepang.  Sebagai negara kepulauan terisolasi, Jepang sulit untuk berinteraksi dengan bangsa-bangsa luar.

Faktor tersebut membuat Jepang harus berinovasi secara bahasa hingga budaya. Terlihat dengan penggunaan huruf Kanji ditambah dengan Katakana dan Hiragana —sebuah cara kepenulisan khas Jepang— walaupun dipengaruhi oleh tata bahasa Hanji dari negeri tirai bambu. Sistem kepenulisan yang sudah disesuaikan ini lah yang membuat semakin mudah kemampuan pengarsipan dan penceritaan menjadi subur, sehingga menjadi pemantik menguatnya kesadaran identitas dan budaya pribumi Jepang.

Kuatnya Budaya Jepang itu dapat dibuktikan lewat reaksi masyarakat ketika Ashikaga Yoshimitsu dianugerahi gelar Raja Jepang oleh Kaisar Ming China pada abad ke-14.  Membuat rakyat sakit hati, karena dianggap merendahkan keilahian historis gelar Kaisar Jepang. 

Ketidakpuasan akibat keputusan Ashikaga membuat kekuasaan Keshogunan Jepang runtuh, sehingga era selanjutnya penuh dengan perebutan kekuasaan oleh panglima perang regional. Banyaknya konflik dalam negeri berimbas menurunnya komoditas dagang, pada akhirnya para pedagang banyak yang banting setir menjadi bajak laut.

Belajar dari hal itu, pada masa Tokugawa, berusaha menyatukan Jepang dari keterpurukan yang tak ada hentinya. Lewat Dekrit Sakoku, Tokugawa berhasil menyatukan klan-klan yang berperang dan berhasil membangkitkan kembali ke-shogun-an Jepang yang sempat runtuh.

Selanjutnya, Tokugawa mengeluarkan kebijakan yang bertujuan membatasi pengaruh dari bangsa luar. Kemudian, dimulailah fase isolasi-isme atau menutup Jepang dari perpolitikan dengan bangsa asing dan mengutamakan pembenahan dalam negeri. Kebijakan itu bertahan kurang lebih selama 215 tahun.  

Akhir Dekrit Sakoku ditandai dengan datangnya armada laut Amerika yang dipimpin oleh Commodore Perry pada 1858. Masuknya armada ini  justru memantik api semangat pribumi Jepang karena merasa tertandingi dan dihinakan oleh kemajuan peradaban bangsa asing.

Iklan

Oleh sebab itu, pemerintahan Jepang di bawah Mutshuhito memerintahkan restorasi skala besar untuk bersaing dengan bangsa Barat, bernama Restorasi Meiji. Restorasi Meiji ditandai dengan semangat untuk merevolusi kebijakan sosial, politik, hingga ekonomi Jepang. 

Baca juga: Memutus Rantai Ketergantungan Mahasiswa terhadap AI

Puncaknya mereka memiliki kekuatan untuk ekspansi secara militer pada Perang Dunia II, dan berhasil menjadi kekuatan besar dunia kala itu. Walaupun pada akhirnya pada 15 Agustus 1945, Jepang terpaksa takluk ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh Amerika. 

Berlandaskan hal itu, fenomena yang dialami masyarakat Jepang terulang kembali. Khususnya dari situasi mereka yang terancam dengan pengaruh asing dan benturan geopolitik. Partai Sanseito pun dianggap datang diwaktu yang tepat sebagai sarana yang mewakili keresahan dan keterancaman  masyarakat Jepang. Hal tersebutlah yang memengaruhi besarnya dukungan yang mengantarkannya pada kemenangan pemilu.

Penulis: Hawari Haqqi

Editor: Lalu Adam Farhan Alwi