Bekerja keras untuk sukses adalah prinsip yang dipegang banyak orang. Namun, di era modern, semangat kerja ini berubah menjadi fenomena hustle culture, yaitu sebuah gaya hidup yang menormalisasi kerja berlebihan hingga mengorbankan kesehatan dan kehidupan pribadi. 

Istilah hustle culture berakar dari konsep kerja ekstrim atau workaholism yang pertama kali diperkenalkan oleh Wayne Oates dalam bukunya Confessions of A Workaholic: The Facts About Work Addiction (1971). Seiring waktu, tren ini berkembang kian populer. Tokoh-tokoh seperti Bill Gates, turut mempromosikannya lewat narasi seperti ‘kesuksesan hanya bisa diraih melalui kerja keras, tanpa henti (hustling)’

Di Asia, tren hustle culture telah lama menjadi norma, terutama di negara-negara seperti Tiongkok dan Jepang. Di Tiongkok, banyak perusahaan besar seperti Alibaba menerapkan budaya kerja 966 atau bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam selama 6 hari dalam seminggu. Jepang juga dikenal dengan budaya kerja ekstrem. Laporan resmi Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang (MHLW) pada 2016 menunjukkan bahwa 20 persen dari 10.000 pekerja bekerja setidaknya 80 jam lembur per bulan. 

Kondisi serupa juga marak terjadi di Indonesia,  terutama di kalangan Gen Z. Melansir Katadata.co.id dan Badan Pusat Statistik (BPS) 2016-2019, rata-rata jam kerja pekerja di Indonesia masih melebihi batas maksimal (40 jam per minggu) yang ditetapkan Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003. 

Baca juga: Kesejahteraan Buruh Sukar Tercapai

Di balik glorifikasi kerja keras tersebut, banyak pekerja yang sebenarnya tengah terjerat dalam tekanan psikis yang berat. Penelitian dari Gallup menunjukkan fenomena burnout kini menjadi epidemi global, dengan banyak pekerja mengalami stress kronis akibat tekanan kerja tanpa henti. 

Iklan

World Health Organization (WHO) bahkan secara resmi menyatakan burnout sebagai sindrom yang berkaitan langsung dengan lingkungan kerja, bukan sekedar masalah pribadi. Dalam situasi lebih ekstrem, tekanan ini berujung pada keputusasaan dan meningkatnya resiko bunuh diri. Misalnya, fenomena karojisatsu di Jepang, di mana pekerja muda kehilangan nyawa karena kelelahan dan tekanan kerja yang terus-menerus. 

Kesadaran Palsu dan Eksploitasi Pekerja

Sayangnya, banyak pekerja tidak menyadari, bahwa mereka sedang dieksploitasi. Mereka terbuai janji kenaikan gaji atau jabatan. Tanpa disadari, para pekerja dimanfaatkan demi keuntungan yang tidak mereka nikmati sepenuhnya.

Sistem kapitalisme membungkus hustle culture sebagai motivasi. Kerja berlebihan dianggap sebagai bukti dedikasi, padahal sering kali tidak sebanding dengan imbalannya. 

Situasi itu dapat dijelaskan melalui konsep kesadaran palsu dalam teori Karl Marx. Ia menggunakan Istilah tersebut untuk menggambarkan pemahaman keliru atau distorsi yang dimiliki individu tentang posisi dan kepentingan mereka dalam sistem kapitalisme. 

Konsep kesadaran palsu menjelaskan bagaimana individu gagal menyadari posisi kelasnya dalam sistem kapitalisme. Akibatnya, mereka menerima ketimpangan dan eksploitasi sebagai sesuatu yang wajar. 

Menurut Marx, kesadaran palsu terbentuk melalui mekanisme ideologi sebagai kumpulan gagasan yang tampak netral, tapi sebenarnya mendukung dominasi kelas berkuasa. Ideologi membuat pekerja percaya bahwa sistem yang menindas mereka adalah adil dan tidak bisa diubah. 

Dengan memengaruhi cara berpikir, ideologi menjadi alat efektif bagi kelas penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Pekerja pun ikut menjaga sistem ini tanpa sadar, karena menganggapnya sebagai bagian alami dari kehidupan.

Marx pun menyadari keadaan tersebut dapat berubah dengan memahami kondisi sosial. Cara itu bisa membentuk pemikiran yang kritis pada pekerja, sehingga kesadaran palsu mampu diruntuhkan.

Akan tetapi, pengaruh kapitalisme terhadap cara berpikir individu tidak dapat dibendung. Hal tersebut disebabkan lingkungan mereka yang sepenuhnya dikendalikan kepentingan modal.

Iklan

Institusi seperti pendidikan, media, agama, dan budaya. Mereka semua berperan menyebarkan ideologi kapitalis. Lewat institusi tersebut, ketimpangan disamarkan dan dipersepsikan sebagai hal yang normal. 

Pekerja akhirnya melihat kerja keras sebagai kewajiban moral, kesuksesan sebagai hasil usaha pribadi, dan kemiskinan sebagai kesalahan individu. Hal ini membuat mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang dieksploitasi.

Dengan terjebak dalam kesadaran palsu, kelas pekerja tidak hanya menerima sistem yang merugikan mereka, tetapi juga ikut mempertahankannya. Inilah mengapa kapitalisme bisa terus bertahan bukan hanya lewat kekuatan ekonomi, tetapi juga kekuasaan ideologis. 

Baca juga: Pelanggengan Kekerasan Simbolik melalui Institusi Pendidikan

Lebih lanjut, Marx menyatakan bahwa kesadaran palsu ini mencegah pekerja untuk bersatu dan menuntut hak-hak mereka. Dengan terus mempromosikan narasi bahwa kesuksesan individu sepenuhnya ditentukan oleh usaha pribadi, hustle culture justru menghalangi terbentuknya solidaritas kelas pekerja.

Padahal, solidaritas kelas pekerja dapat meningkatkan kesadaran dan keberanian untuk melawan ketidakadilan. Solidaritas dari sesama buruh, memberi kekuatan untuk melawan eksploitasi yang terjadi. 

Hal ini tercermin dalam kasus buruh Septia. Ia dikriminalisasi melalui pasal pencemaran nama baik setelah menyuarakan hak-haknya di tempat kerja. 

Selama proses persidangan Septia, berbagai kelompok buruh saling memberikan dukungan dan mendampinginya secara langsung. Kepedulian kolektif ini menjadi kekuatan nyata yang menopang perjuangan hingga akhirnya Septia dinyatakan bebas oleh pengadilan. 

Hal tersebut menggambarkan bagaimana solidaritas membentuk pribadi yang lebih awas terhadap bentuk eksploitasi dan berani untuk menuntut hak-hak yang seharusnya didapatkan. 

Lebih lagi, jika mengingat kebanyakan perubahan besar dalam sejarah dimulai dari gerakan kolektif. Karena itu, memperkuat organisasi buruh dan serikat penting untuk membangun kekuatan kolektif, memperbesar daya tawar terhadap perusahaan dan negara, serta menciptakan perubahan sosial yang lebih adil. 

Penulis: Khalda Syifa
Editor: Ezra Hanif