Kementerian Sosial menjanjikan warga Rusun Sentra Mulya Jaya akan mencapai kemandirian ekonomi melalui program pelatihan yang diberikan. Namun, warga mengeluhkan sulitnya menggapai kehidupan yang dijanjikan karena ketiadaan pendampingan lanjutan.
Kementerian Sosial (Kemensos) membangun Rumah Susun (Rusun) Sentra Mulya Jaya di Bambu Apus, Jakarta Timur. Pendirian rusun ini diniatkan sebagai program hunian sementara bagi kelompok rentan. Tujuannya, memberikan jaminan sosial sekaligus memutus rantai kemiskinan. Fasilitas pemberdayaan ini diresmikan langsung oleh Menteri Sosial, Tri Rismaharini, pada 31 Maret 2023.
Risma menjanjikan hunian tersebut akan menjadi sarana bagi warga untuk meningkatkan taraf hidup melalui pemberdayaan ekonomi. Ia menerangkan program pemberdayaan ini mencakup pelatihan kerja yang disesuaikan dengan kondisi warga.
Tiga tahun pasca peresmian, salah satu warga, Safina (48) mengaku telah mengikuti berbagai program pelatihan di rusun. Ia telah berpartisipasi dalam lima pelatihan berbeda, dari mulai menjahit, memasak, sampai kewirausahaan.
Safina menjelaskan pelatihan yang diikutinya rata-rata berlangsung selama satu hingga dua minggu. Beberapa program pelatihan turut membekali peserta dengan sertifikat dan alat kerja yang ditujukan sebagai modal membangun kemandirian ekonomi.
“Kalau pertama kali (pelatihan) di sini itu lima hari. Itu dibayar, satu harinya 150 (ribu),” ungkap Safina saat diwawancara Didaktika, Senin (16/2).
Kendati demikian, Safina masih menyayangkan pelatihan yang diberikan. Ia menilai program tersebut masih memiliki kekurangan, yaitu minimnya pendampingan lebih lanjut selepas mengikuti pelatihan.
Bagi Safina, pemberian alat kerja dan sertifikat saja tidak cukup karena warga sering kali kebingungan untuk memasarkan jasa mereka sendirian. Tanpa adanya pendamping yang membimbing pengelolaan modal atau strategi pengembangan usaha, ia merasa keterampilan yang didapat hanya menjadi percuma.
“Kalau bantuan pengembangannya enggak ada, sama saja, gagal,” tegasnya.
Hal tersebut dirasakan sendiri oleh Safina. Ia mengaku telah aktif menjalankan usaha kuliner di Sentra Kreasi Atensi (SKA) yang berlokasi di area kantor Sentra Mulya Jaya. SKA sendiri merupakan wadah pemberdayaan yang disediakan Kemensos untuk memasarkan hasil olahan para Penerima Manfaat (PM).
Baca juga: Tunggakan Sewa Membludak, Penghuni Rusun Pesakih Terancam Diusir
Sebagai PM, Safina mengelola kantin dengan menggunakan fasilitas yang disediakan di sana. PM adalah individu atau kelompok yang menjadi sasaran utama program bantuan sosial pemerintah. Sebutan ini merujuk pada warga yang diberikan sokongan untuk agar mereka mampu keluar dari jerat kemiskinan secara bertahap.
Namun, Safina mengeluhkan dagangannya yang kerap kali sepi peminat. Padahal menurutnya, tempat itu dirancang sebagai wadah pemasaran bagi PM. Ia menyebut hal itu disebabkan oleh ketiadaan dukungan dari pihak kementerian yang menjadi pasar terdekat, sehingga modal usahanya perlahan terkikis habis sebelum sempat mendatangkan untung besar.
“Pegawainya enggak memberdayakan kita, maksudnya enggak peduli sama kita. Seharusnya mereka melariskan dagangan kita,” keluh Safina.
Oleh sebab itu, Safina menegaskan perlunya pendampingan lanjutan dari Kemensos. Selain itu juga, ia menyarankan untuk memberikan pelatihan yang fleksibel bagi semua warga. Ia berpendapat tak semua warga di rusun mampu beradaptasi dengan jenis pelatihan yang diberikan, ditambah dengan tidak adanya pendampingan lanjutan.
“Kalau untuk jahit, kan enggak semua orang suka jahit. Kasih lah, entah itu pelatihan ngupas bawang atau apa,” ungkap Safina menggambarkan perlunya fleksibilitas jenis pelatihan.
Gayung bersambut, ketidakpastian program pelatihan ini juga membayangi warga lain, Suwardi (57). Ia telah menetap selama satu setengah tahun terakhir di rusun sejak tahun 2024. Suwardi merasa ketiadaan pendampingan dan modal yang pas-pasan membuatnya kebingungan untuk memanfaatkan bekal keahlian baru.
Selama masa huni, lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai juru parkir liar itu hanya pernah mengikuti satu pelatihan, yakni pelatihan perbengkelan. Ia masuk sebagai salah satu dari sepuluh peserta yang lolos kualifikasi teknis untuk dibimbing oleh instruktur dari luar. Jadwal rutin pelatihan berkisar pukul 08.00 sampai 14.00 WIB selama masa pelatihan dengan periode satu setengah bulan.
“Dari jam 8 sampe jam 2. Itu full satu bulan setengah,” ucapnya kepada Didaktika, Jumat (13/2).
Suwardi sempat berpikir bekal keahliannya akan mendatangkan masa depan yang lebih layak. Ia terbayang sebuah rencana untuk membuka bengkel gerobak bersama seorang rekan yang mahir dalam bidang mesin. Namun, tampaknya harapan itu tak kunjung tiba.
Sertifikat, seragam, dan seperangkat kunci memang sudah di tangan, namun langkah untuk memulai usaha justru terganjal oleh keterbatasan alat. Paket bantuan yang diterima dirasa tidak cukup, bahkan untuk menangani perbaikan paling mendasar sekalipun. Hari-hari Suwardi hanya diisi dengan penantian akan bantuan peralatan tambahan yang tak kunjung tiba.
Karena bantuan tak pernah sampai ditambah tuntutan perut tak bisa menunggu, Suwardi terpaksa menjual peralatan kerja yang sebelumnya diberikan kepadanya demi bertahan hidup. Baginya, saat itu kebutuhan pangan mendesaknya untuk melakukan apa saja.
“Waktu itu kebetulan enggak punya beras jadi buat beli beras. Sampai-sampai jual kunci dari pelatihan, jual apa yang ada saja,” tuturnya pasrah.
Baca juga: Delpedro cs Dinyatakan Tidak Bersalah oleh Hakim
Sementara itu, menanggapi keluhan warga, Staf Pengelola Rusun Sentra Mulya Jaya, Fauzan menjelaskan mereka memiliki mekanisme pemantauan terhadap setiap bantuan modal yang dikucurkan setelah pelatihan. Pemantauan tersebut bersifat jangka pendek, yakni berkisar satu hingga tiga bulan. Jika dalam kurun waktu tersebut usaha warga tidak menunjukan kemajuan, ia menerangkan, pihak pengelola memilih untuk tidak memberikan bantuan modal lanjutan.
Maka dari itu, Fauzan menegaskan indikator kemajuan usaha menjadi syarat mutlak bagi warga untuk mendapatkan pendampingan atau modal tambahan dari pihak rusun. Pihak pengelola pun menyatakan bahwa pada akhirnya, keberhasilan program kemandirian ini sangat bergantung pada faktor pribadi masing-masing penghuni.
“Kalau memang dia tidak maju, ya sudah kita gak bisa bantu modal. Itu modalnya cuma dikasih di awal saja. Kalau gak ada perubahan, paling dari orangnya, kan?” ujar Fauzan kepada Tim Didaktika, Jumat (13/2).
Reporter/penulis: Ramadhan Alderisyah
Editor: Annisa Inayatulah

