Belakangan ini, action figure Hirono dari Pop Mart menjadi tren di kalangan anak muda Indonesia. Popularitas boneka ini melonjak setelah salah satu anggota BTS, V terlihat mengenakannya sebagai gantungan tas. Selepas foto selebriti K-pop tersebut tersebar di media sosial, figur Hirono menjadi viral dan permintaannya melonjak.

Pop Mart mengambil peluang ini dengan merilis edisi terbaru Hirono yang terbatas, membuat harganya naik drastis hingga jutaan rupiah. Meski begitu, banyak orang di dunia tetap membeli boneka tersebut dan memamerkannya.

Fenomena barusan tidak bisa dilepaskan dari cara masyarakat memperlakukan benda. Kita tidak hanya membeli objek karena fungsinya, melainkan karena makna simboliknya. Di sinilah pemikiran Jean Baudrillard dalam bukunya Masyarakat Konsumsi terasa relevan.

Baca juga: Antek Asing Teriak Antek Asing, Paradoks Rezim Komprador Prabowo 

Baudrillard menjelaskan bahwa objek tidak lagi dilihat hanya dari sisi guna, melainkan dari segi simbolik/tanda. Nilai tanda ini yang menjadikan sebuah action figure seperti Hirono bisa memiliki nilai lebih dari sekadar plastik dan cat warna. Ia dibeli bukan hanya untuk dimainkan, tetapi juga untuk dipamerkan sebagai simbol keunikan, kepemilikan, dan keterikatan pada tren.

Dalam analisisnya, Baudrillard menunjukkan konsumsi kini bertransformasi menjadi sebuah ritual konsumerisme yang mengukuhkan identitas dan posisi sosial si pembeli. Maka, orang yang memamerkan boneka Hirono dapat dibaca sebagai capaian status sosial dan rasa memiliki dalam sebuah komunitas sosial tertentu. Dengan begitu, tidak mengherankan apabila ada orang rela mengeluarkan kocek sampai jutaan rupiah untuk membeli boneka seperti Hirono.

Iklan

Lebih lanjut, Baudrillard menyamakan cara kita memperlakukan barang seperti menjalani sebuah upacara. Barang-barang dipajang, ditata, dan difoto bukan karena fungsinya, tetapi sebagai bagian dari “ritual konsumsi” yang tak lagi punya makna. Orang merasa butuh barang mahal tertentu, padahal sebenarnya lebih menginginkan simbol yang melekat di barang tersebut.

Nilai simbol tersebut awalnya dibentuk oleh produsen melalui iklan di media konvensional. Sekarang selebriti atau influencer ikut mempromosikan produk lewat media sosial. Dalam prosesnya, mereka mengaitkan suatu barang dengan citra tertentu, sehingga masyarakat tidak menilainya hanya secara fungsional.

Selain itu, konsumen juga berperan aktif dalam memperkuat dan menciptakan simbol baru atas suatu barang, terutama di ruang digital. Dengan membagikan foto atau pengalaman menggunakan produk, mereka ikut menyebarkan persepsi tentang nilai dan citra produk tersebut. Oleh karena itu, perkembangan teknologi dan peran media massa sangat memengaruhi pola konsumsi masyarakat.

Konsumsi sering kali menciptakan ilusi kebahagiaan dan pencapaian. Orang merasa mendapatkan nilai lebih karena memiliki barang yang dianggap ‘bermakna’, padahal makna tersebut sebenarnya dibentuk oleh media dan struktur sosial.

Hal tersebut berkaitan dengan konsep simulakra milik Baudrillard, yakni realitas tiruan yang menggantikan kenyataan sebenarnya. Iklan menggambarkan seolah-olah kebahagiaan bisa dibeli lewat barang mahal, padahal sebenarnya itu hanya perilaku konsumtif dan menguntungkan kapitalis atau pemilik modal.

Keadaan seperti itu memunculkan tekanan sosial bahwa kebahagiaan hanya bisa diraih lewat konsumsi atau belanja. Perasaan puas, bangga, dan bahagia dijual dalam bentuk barang-barang baru. Gaya hidup menjadi semacam perlombaan konsumsi simbolik, di mana mereka yang tidak mampu mengikuti ritme pasar dianggap ketinggalan zaman.

Akibatnya, banyak orang terdorong untuk terus membeli bukan karena kebutuhan, tetapi karena takut kehilangan posisi sosial (fear of missing out). Konsumsi menjadi cara untuk mempertahankan atau menaikkan status, meskipun hal itu berarti mengikuti arus yang diciptakan oleh logika pasar.

Dampak lain dari pola konsumsi semacam ini adalah pembentukan kelas berbasis gaya hidup. Orang tidak lagi dipisahkan berdasarkan pendapatan atau pekerjaan, tapi berdasarkan barang yang dikonsumsi dan dipamerkan. Siapa yang punya Hirono edisi terbatas, atau siapa yang tahu tentang tren barang terbaru, semua ini menjadi tolak ukur status sosial baru.

Banyak orang merasa harus mengejar gaya hidup tertentu agar tetap dianggap relevan oleh lingkungannya, sehingga menciptakan lingkaran setan pemborosan jangka panjang. Di mana posisi sosial seseorang dipertegas oleh barang yang dibelinya. Akan tetapi, manusia ditekan untuk tak pernah merasa cukup karena sistem terus memunculkan simbol-simbol baru yang harus dikejar.

Baca juga: Keluarga Super Irit: Titik Nadir Kelas Menengah Indonesia

Iklan

Dari kritiknya yang tajam terhadap masyarakat konsumsi, Baudrillard mengajak kita untuk berjarak dari sistem tanda yang menipu ini. Ia ingin kita sadar bahwa kita bukan semata-mata konsumen dari benda, tapi juga korban dari ilusi makna yang dibentuk pasar dan media.

Oleh karena itu, penting mempunyai kesadaran kritis terhadap makna simbolik barang, serta keberanian untuk keluar dari siklus konsumsi simbolik yang terus berulang. Dalam konteks ini, melawan konsumsi bukan berarti berhenti membeli, tapi mempertanyakan setiap dorongan membeli: apakah hal tersebut memang dibutuhkan atau hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial?

Lebih lanjut, Baudrillard mendorong kita untuk menghancurkan ilusi konsumsi sebagai jalan kebahagiaan dan mulai mencari makna hidup di luar suatu barang. Hirono bisa jadi action figure yang unik dan ekspresif, tapi pada akhirnya, kebahagiaan yang hakiki tidak berasal dari rak koleksi ataupun jumlah likes di Instagram.

Daripada menjadikan kepemilikan nilai simbol pada suatu barang sebagai tolak ukur kebahagiaan, sebaiknya kita fokus membangun hubungan sosial atau mengembangkan diri lewat berkarya yang memberi kepuasan emosional lebih nyata. Dengan cara ini, kita dapat menjalani hidup dengan lebih bebas dari tekanan sosial dan manipulasi pasar.

Penulis: Safira Irawati
Editor: Andreas Handy