Conny Semiawan meninggalkan warisan besar dalam dunia pendidikan. UNJ berharap Ia segera dicalonkan sebagai pahlawan nasional.
Universitas Negeri Jakarta menggelar seminar nasional bertajuk “Prof. Dr. Conny R. Semiawan: Ibu Bangsa dan Pendidik Karismatik” di Auditorium UTC UNJ Hotel Lantai 8 pada Senin, (10/10/2022). Seminar ini menghadirkan Purwosusilo, selaku Wakil Ketua Dinas Pendidikan DKI Jakarta; Agus Mulyana, selaku Ketua Umum Masyarakat Sejarah Indonesia; Hafid Abbas selaku Guru Besar UNJ; Sunaryo Kartadinata selaku Duta Besar RI untuk Uzbekistan; Arief Rahman selaku guru besar UNJ dan Sylviana Murni selaku DPD RI.
Seminar dimulai dengan sambutan Rektor UNJ Komarudin. Dirinya mengungkap Conny Semiawan sebagai rektor UNJ periode 1984-1992, memiliki jasa besar dalam dunia pendidikan. Terutama paradigma belajar Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang memusatkan pendidikan pada peserta didik. Conny membawa angin perubahan pada pendidikan saat itu yang terlalu berpusat pada guru.
Selain itu, Conny juga menjadi rektor wanita pertama di Indonesia. Sebagai rektor pula, Ia membawa UNJ menjadi salah satu institut keguruan terbaik di Indonesia saat itu. Bersama Arif Rahman, dirinya membangun sekolah Labschool Rawamangun sebagai tempat praktik pemikiran pendidikan UNJ.
Atas jasa besarnya, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menganugerahi Conny sebuah penghargaan atas jasanya di bidang pendidikan, kebudayaan, sains dan teknologi. “Conny layak mendapat penghargaan tertinggi, karena telah meninggalkan warisan besar pada dunia pendidikan,” ungkap Komarudin.
Acara beralih dengan peresmian nama Conny Semiawan sebagai nama jalan utama yang melingkari Kampus A UNJ oleh ketua senat Hafid Abbas. Melalui rapat luar biasa Pertimbangan Permohonan nomor B/226/UN39.22/TP01.07/2022, senat UNJ menyetujui permohonan rektor terkait perubahan nama jalan utama kampus A UNJ.

Selain itu, di sesi berikutnya Hafid Abbas menceritakan pengalamannya bersama Conny Semiawan. Baginya, Conny merupakan rektor yang saat itu berpengaruh terhadap pemerintahan. Kedekatannya dengan Fuad Hassan (Mendikbud periode 1985-1993) membuat kebijakan pendidikan saat itu sangat dipengaruhi oleh pemikiran Conny.
Baca Juga: Ulang Tahun Ke-28, Teater Zat Meluruhkan Ego Melalui Sabeni
Tidak hanya itu, kepada mahasiswanya pun Conny bersikap ramah dan hangat. Dirinya menganggap tidak ada mahasiswa nakal, mereka hanya memiliki bakat masing-masing.
“Conny dengan pemikiran pendidikannya turut meningkatkan kualitas pendidikan di berbagai tempat di Indonesia,” ujarnya.
Sementara, Agus Mulyana Ketua Umum Masyarakat Sejarah indonesia menilik perihal syarat dan tata cara untuk pengajuan gelar kepahlawanan Conny Semiawan. Dirinya menimbang peran historis dan legalitas historis dari Conny. Bagi Agus, gagasan Conny yang berpengaruh besar pada masyarakat, dan gerakan aktifnya dalam bidang pendidikan CBSA cukup untuk mengajukan Conny sebagai pahlawan.
“Legalitas historis Conny sangat layak utuk ditetapkan menjadi pahlawan nasional, dirinya memiliki pengaruh sebagai rektor, praktisi, konsultan dan pemikir” ungkapnya.
Menambahkan Agus, Arief Rahman Guru Besar UNJ sekaligus teman dekat Conny mengatakan sifat Conny sangat berani dan ngotot. Saat menajdi rektor, Conny selalu mengedepankan diskusi ilmiah.
“Conny bukan hanya ibu bangsa atau pendidik yang karismatik, Conny adalah pejuang pendidikan bangsa,” tegasnya.
Sementara untuk tata cara pengajuan gelar pahlawan, Agus Mulyana mendorong birokrat UNJ, terutama rektor untuk mengajukan kepada Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Tingkat Pusat (TP2GP) daerah Jakarta. Beserta dokumen persyaratan penguat. Lewat situ, akan dirapatkan oleh tim internal hingga dapat diajukan ke presiden.
Penulis: Izam Komaruzzaman
Editor: Asbabur Riyasy

