Dari kacamata peradaban, pemuda tidak hanya berfungsi sebagai penerima tongkat estafet generasi sebelumnya, namun dianggap sebagai pembaharu dan penanda zaman. Istilah ‘pemuda’ seakan gelar yang memiliki tendensi dan makna, seperti ada beban berat bagi pemiliknya.
Narasi sejarah kerap menampilkannya sebagai kekuatan radikal dan revolusioner, sedangkan dalam perspektif ekonomi ia menjadi bahan bakar untuk mengumpulkan keuntungan. Bagaimanapun, pemuda adalah frasa yang mengandung harapan. Karena itulah, pemuda bisa menjadi pencipta zaman tapi di sisi lain rawan jadi korban keganasan zaman.
Dalam tulisannya berjudul Meronta dan Berontak: Pemuda dalam Sastra Indonesia (2011), sejarawan Hilmar Farid mengatakan, pemuda pada hakikatnya selalu merepresentasikan perubahan sosial dan politik pada zamannya. Karenanya, ekspresi mereka terhadap dunia, merupakan cermin pergolakan zaman yang bisa kita baca.
Mundur jauh ke awal abad ke-20 misalnya, pemuda yang mencicipi pendidikan ala Barat telah melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda dari orang tuanya terdahulu. Mereka mulai mencatat, menulis, lalu mengomentari perkembangan dunia.
Para kaum terpelajar itu, mulai meninggalkan tradisi dan nilai-nilai lama. Tidak seperti Ranggawarsita, pujangga besar yang pesimistis, mereka meresapi perkembangan modernisme di Hindia Belanda saat itu sebagai kemajuan.
Baca juga: Rezim Selalu Butuh Musuh untuk Mengaburkan Realitas Negara
Itu semua tercermin dalam karya tulis, utamanya sastra. Misal dalam kisahnya Raden Ongko, Sambodo, hingga Minke. Mereka menampilkan kaum muda terpelajar yang mampu mengikuti perkembangan modernisme Hindia Belanda dan menjadi subjek yang lebih bebas, berdaulat dan egaliter.
Setelahnya, pada dekade 1920-an corak pemuda berkembang lebih radikal dan politis. Mereka berani mempertegas segregasi kelas lewat tulisan-tulisan yang membongkar realitas zaman. Hal tersebut tercermin dalam novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen, dan tulisan-tulisan Marco Kartodikromo yang keras menunjukan perlawanan terhadap penjajahan.
Sayang, gagalnya Pemberontakan Partai Komunis Indonesia pada 1926 menyebabkan hilangnya gerakan politik radikal. Hal itu membikin pemuda tersisihkan dari panggung politik yang banyak dikuasai elite pribumi.
Meski sempat lesu, peran pemuda kembali memuncak di dekade menjelang revolusi 1945. Peristiwa itu banyak melibatkan pemuda tidak hanya dari kalangan terpelajar saja, namun juga dari berbagai pelosok negeri. Hal itu juga beriringan dengan berkembangnya media berekspresi di luar sastra, seperti karya seni rupa serta musik bertema perjuangan dan perang.
Setelahnya, seiring berbagai ekses perang dan krisis yang terjadi pasca 1945, telah memicu pemuda semakin berani mengekspresikan kekecewaannya. Karya sastra jadi cerminan sinis terhadap kondisi revolusi kala itu, seperti karya-karya Idrus, Mochtar Lubis, bahkan Pramoedya A. Toer. Tidak sedikit juga kritik yang lebih politis, seperti dilakukan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).
Kemasyuran pemuda di era Orde Lama, nyatanya hanya bertahan sebentar. Keleluasaan mereka untuk mengkritik penguasa harus sempat teredam pasca tragedi Gerakan 30 September 1965 dan upaya pemberangusan gerakan kiri setelahnya.
Namun, hal itu ternyata tidak menyurutkan pemuda mengekspresikan kekecewaan pada zaman. Dekade 1970-an, banyak perlawanan terhadap rezim Orde Baru tercermin dalam syair-syair sastrawan macam Rendra.
Meski begitu, Orde Baru juga menghadirkan tantangan bagi pemuda lewat ekspansi kapital yang masif dan berkembangnya budaya pop. Kondisi itu turut melangsungkan proyek depolitisasi, dan pada akhirnya membentuk floating mass.
Setali tiga uang, kapitalisme yang semakin matang menancap di sendi-sendi kehidupan sosial, pada akhirnya juga menciptakan bahasa dan makna baru bagi pemuda. Orde Baru mereduksi mereka ke dalam kerangka kepentingan pembangunan.
Dalam kondisi itu lahir istilah baru, “anak muda” dan “remaja” yang lebih umum digunakan dibanding pemuda. Istilah tersebut menghadirkan sisi pemuda yang berbeda. Mereka lambat laun membentuk pergaulan, pola konsumsi, dan gaya hidup yang lebih individualis-apolitis ketimbang gagasan yang bersifat kolektif-politis seperti sebelumnya.
Meski begitu, pemuda agaknya masih mempertahankan hakikatnya sebagai penanda zaman. Pemuda akan selalu mampu mengekspresikan dirinya untuk berontak, entah politis atau tidak, terhadap zaman.
Alat Kapital dan Kekuasaan
Dalam seri novel fantasi ciptaan Rick Riordan berjudul Percy Jackson & Dewa-dewa Olympia (2005), terdapat satu ras bernama demigod. Mereka digambarkan sebagai anak-anak yang lahir dari perkawinan antara dewa dan manusia.
Demigod dianggap anak haram. Namun, mereka ditakuti para dewa. Sebab layaknya manusia, demigod punya kehendak bebas. Hidupnya tak terikat aturan seperti dewa. Bedanya, mereka memiliki kekuatan layaknya dewa. Makanya, mereka bisa jadi ancaman sekaligus senjata bagi para dewa. Untuk itu, para dewa mesti mengendalikan mereka.
Terdapat kesamaan nasib antara demigod dengan pemuda. Selayaknya demigod, pemuda juga memiliki kehendak bebas dan tidak tunduk pada siapapun. Keduanya berpotensi jadi golongan revolusioner.
Pun sama dengan para dewa, negara menganggap pemuda sebagai ancaman. Sejarah menunjukan, berbagai upaya mereka lakukan untuk menundukan pemuda agar tidak membahayakan kekuasaan.
Maka dari itu, seperti sudah disinggung di awal, pemuda rentan menjadi korban perubahan sosial yang terjadi. Misal keterlibatan mahasiswa menurunkan Soekarno, yang pada akhirnya hanya jadi alat dan disingkirkan militer dari arena politik. Atau, gerakan reformasi yang dimotori pemuda ujungnya dikooptasi elit Orde Baru.
Jika upaya para dewa memusnahkan demigod adalah dengan membunuhnya dalam perang, negara tidak kalah memiliki banyak taktik untuk merepresi gerakan politik pemuda. Misal, melalui kebijakan NKK/BKK, serta pembentukan ormas-ormas seperti karang taruna. Orde Baru menyebarkan narasi pemuda dan mahasiswa ‘tidak boleh berpolitik’.
Seiring berkembangnya zaman, dengan keterbukaan informasi dan budaya. Pergaulan pemuda semakin beragam, banyak tercipta makna dan standar ideal di masyarakat. Pemuda pun kian terpecah ke dalam berbagai ciri ideologis.
Ada yang masih berpegang teguh pada nilai lama, bahwa pemuda adalah kekuatan politik. Namun ada juga yang terbawa arus kapital dengan menuntut profit sebanyak-banyaknya sebelum usia 25. Ada juga yang menjadi relawan politisi, bahkan pemburu proposal lewat organisasi kepemudaan. Hingga terdapat mereka yang pelan-pelan kehilangan minat dan percaya terhadap politik, lalu berakhir abai terhadap pergolakan sosial di sekitarnya.
Meski begitu, pemuda tetap pada cirinya sebagai penanda zaman. Mereka mencurahkan kegelisahannya terhadap ancaman krisis iklim, minimnya lapangan pekerjaan, tajamnya ketimpangan antara si kaya dan si miskin, hingga drama politik yang kian absurd.
Banyak berkembang wadah-wadah ekspresi pemuda, tidak lagi terbatas pada sastra. Atau, barangkali meme merupakan perwujudan sastra paling mutakhir. Lewat humor, simbol, frasa-frasa yang terasa aneh, kaum muda mengekspresikan dirinya menghadapi tindasan zaman.
Tuaufiqurohman, lewat tulisannya Meme, Ironi, dan Politik Bahasa Anak Muda (2025) mengutip seorang pekerja berusia 25 tahun yang berkata: Kita tuh kalau udah kepepet, bukan nulis puisi. Kita bikin meme.
Tagar #kaburajadulu, #IndonesiaGelap, serta utas bermuatan satir jamak jadi andalan pemuda di media sosial. Simbol-simbol perlawanan yang kerap terinspirasi budaya pop dan anime, jadi sarana memparodikan pejabat publik atau mengibarkan bendera One Piece.
Tidak seperti pemuda terdahulu yang mampu bersolidaritas di bawah bayang nation, kecenderungan kaum muda hari ini agaknya terkesan tak ideologis. Imajinasi yang terbangun pun sangat cair. Namun, karena itulah mereka bisa terus tumbuh dan bangkit meski direpresi.
Baca juga: Unjuk Rasa Rakyat Menuntut Pembebasan Demonstran
Nyatanya, kaum muda hari ini tetap berisik meski solidaritas digital telah diganggu buzzer. Gema perlawanan tetap bunyi walau dilindas oleh mobil besi aparat.
Negara mestinya melihat ini sebagai gejala. Tanda zaman yang mulai bergerak ke arah malapetaka. Jangan malah dicap tak nasionalis ketika ingin kabur, atau dicap anarkis jika demo, bahkan dikriminalisasi ketika membuat meme Bahlil dan menyanyikan lagu “Bayar Bayar Bayar”.
Jika negara terus meremehkan dan bersikap ignorance, maka bukan tidak mungkin krisis legitimasi politik akan semakin menguat. Seperti yang sudah terjadi di Nepal dan Madagaskar. Di Indonesia sendiri, tanda-tanda itu mulai terlihat dari turunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah dan aparat negara.
Untuk kaum muda sendiri, teruslah berisik. Berteriak karena sulitnya jadi generasi sandwich. Teriak karena terbatasnya akses pendidikan, kesehatan, dan hunian. Teriak karena tak ada lagi yang bisa memberi pekerjaan.
Kita tak perlu lagi mengenang Sumpah Pemuda 28 Oktober itu dengan seruan nasionalisme kaku yang sudah basi. Kita hanya perlu terus berisik, meronta dan berontak.
Penulis: Ezra Hanif
Editor: Zahra Pramuningtyas

