Dugaan plagiarisme logo PKKMB, birokrat UNJ anggap hanya terinspirasi dan gimmick belaka.

Menjelang masa Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengadakan sayembara Logo PKKMB. Sayembara ini dapat diikuti oleh seluruh mahasiswa aktif UNJ yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) atau Kartu Rencana Studi (KRS) .

Berdasarkan pedoman sayembara logo yang dikeluarkan oleh panitia, pendaftaran dan pengiriman logo sayembara dimulai pada tanggal 25 Mei – 7 Juni 2022. Sampai saat penutupan pendaftaran dan pengiriman logo, tercatat 25 mahasiswa mengikuti sayembara tersebut. Masa penilaian dilakukan pada tanggal 8 – 10 Juni 2022. Sementara pengumuman pemenang dilakukan pada 11 Juni lalu.

Namun, pengumuman pemenang diundur hingga awal Agustus oleh panitia. Pengumuman pemenang yang diinformasikan melalui akun instagram @pkkmbunj ini sontak menarik banyak perhatian mahasiswa. Sebab pemenang diduga melakukan tindakan plagiarisme dari sebuah platform bernama freepik. Yang mana hal tersebut melanggar syarat dan ketentuan sayembara. Dalam pedoman sayembara, dikatakan desain logo yang dikirim harus merupakan karya asli (original).

Salah satu peserta sayembara dari Prodi Pendidikan Administrasi Perkantoran 2021, Aldhi Febriansyah, mengatakan bahwa logo yang dijadikan pemenang hanya menempel saja dan tidak banyak perubahannya. “Sebenarnya tidak apa-apa jika dijadikan referensi asal tidak terlalu kentara (menjiplak),” imbuh Aldhi.

Selain itu, ia juga keberatan terhadap sistem penilaian yang dilakukan oleh pihak penyelenggara. “Dari sekian banyaknya logo kenapa dia yang dipilih,” protesnya.

Iklan

Polemik mengenai plagiarisme diperkeruh dengan pihak penyelenggara yang tidak kunjung melakukan klarifikasi atas masalah tersebut. Malah pihak penyelenggara menutup kolom komentar akun instagramnya untuk membungkam protes yang dilayangkan mahasiswa. Mahasiswa dibuat semakin geram saat pihak penyelenggara memposting kembali logo yang telah direvisi pada tanggal 6 Agustus 2022. Pasalnya, hal ini dinilai melanggar syarat dan ketentuan yang tertera dalam pedoman sayembara logo. Dimana dalam pedoman tersebut, tepatnya pada poin C nomor 4, peserta tidak diperbolehkan melakukan revisi atau perbaikan pada desain logo.

Sementara, Muhammad Maulana Wildan mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling 2018 selaku pemenang sayembara telah melakukan klarifikasi di akun instagram pribadinya @wildanidaan. Dirinya menyatakan bahwa tidak ada maksud untuk menjiplak atau asal mengambil dari platform freepik. Meski begitu, ia mengakui apabila ia mengikuti pola dan mengubah warnanya saja. Serta hanya mengubah beberapa persen dari gambar yang diikutinya.

Baca Juga:

Anti Kritik dan Ilusi “Nama Baik”

“Saya hanya tahu selama saya mendesain dengan tangan saya dan tidak membayar orang untuk membuat logo tersebut, maka itu orisinil,” jelas Wildan.

Wildan pun membenarkan adanya revisi dan perbaikan logo oleh panitia. Ia mengatakan bahwa sebelumnya sudah dihubungi oleh pihak panitia untuk melakukan beberapa revisi. Namun baginya, revisi tersebut tidak melanggar syarat dan ketentuan. “Yang tidak diperbolehkan adalah peserta merevisi logo, bukan pemenang,” tuturnya.

Sementara itu, Shandy Aditya selaku staf Wakil Rektor III UNJ berdalih, karya pemenang bukanlah hasil plagiarisme melainkan hanya terinspirasi karena sudah lebih dari 60% perubahannya. “Dan yang si api nya pun bukan satu-satunya logo disana, logonya ada buku dan tulisan.” jelas Shandy.

Pemenang juga masih harus diarahkan agar sesuai dengan statuta UNJ. Oleh karena itu, dilakukanlah revisi pertama. “Bukan direvisi baru menang, tapi menang dulu baru direvisi.” tegas Shandy.Sebelumnya, terdapat total 25 desain logo, sebelum disortir oleh pihak panitia menjadi tersisa 20 desain. Setelah itu, dilakukan seleksi kembali oleh Wakil Dekan III kemahasiswaan dari tiap fakultas beserta staf Wakil Rektor III menjadi 4 desain logo.

Kemudian, 4 desain logo tersebut dibawa ke rapat pimpinan I yang dihadiri oleh Rektor dan jajarannya, Dekan tiap fakultas, serta Kabiro dan ketua lembaga. Dalam rapat tersebut telah ditentukan 1 desain logo sebagai pemenang yang dipilih atas dasar voting. Penilaian sayembara tersebut difokuskan pada ada atau tidaknya sirat UNJ dalam setiap desain logo. “Kita juga melihat apa yang hype sekarang, jadi logonya tidak jadul,” ungkap Shandy.

Lalu, guna menjawab persoalan plagiarisme diadakan rapat pimpinan II.  Namun, solusi yang dicapai adalah melakukan modifikasi pada logo pemenang. Bukan mengganti logo tersebut dengan logo peserta lain seperti yang diinginkan mahasiswa. Karena bagi Shandy itu akan memakan waktu. “Untuk memulai dari 0 pilihannya adalah tidak ada PKKMB, karena sudah telat,” katanya.

Iklan

Bagi Shandy, permasalahan logo hanyalah drama kecil dan sebaiknya mahasiswa fokus pada rangkaian PKKMB saja. Itulah mengapa pada Rabu (10/8/2022) Shandy membuat pernyataan bahwa plagiarisme tersebut hanya gimmick pada akun instagram pribadinya.

Meski begitu, Syifa Nur Azizah mahasiswa prodi Pendidikan Seni Musik 2022 menyayangkan terjadinya polemik ini di UNJ. Apalagi UNJ dikenal sebagai kampus yang melahirkan tenaga pendidik. Ia juga berharap setelah permasalahan ini jika UNJ akan mengadakan sayembara, sebaiknya dilakukan penyelidikan terlebih dahulu apakah terdapat desain yang mirip atau tidak. “Di sekolah saja diajarkan untuk tidak menyontek. Tapi masa universitas yang mencetak tenaga pendidik malah mencontek?” Pungkasnya.

 

Penulis: Devita dan Syifa Nabila

Editor: Izam