Berbagai elemen masyarakat seperti KontraS, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), dan Perempuan Mahardika menggelar aksi solidaritas untuk Palestina di depan Gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat pada Jum’at (31/5). Aksi dihadiri sekitar 100 massa yang menuntut pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap akan masalah genosida di Palestina.
Massa aksi dari Koordinator KontraS, Dimas Bagas mendesak pemerintah Indonesia untuk tegas menyatakan bahwa yang terjadi di Palestina merupakan genosida. Baginya, tindakan Israel terhadap masyarakat sipil Palestina ialah bentuk kejahatan kemanusiaan karena merenggut banyak nyawa.
“Kondisi di Palestina itu bukanlah tindakan pembelaan dari Israel, melainkan genosida kepada suatu kaum,” tutur Dimas.
Dimas juga menuntut pemerintah Amerika Serikat untuk menarik bantuan persenjataan, logistik, dan dukungan lainnya kepada pemerintah Israel. Menurutnya, pemerintah Amerika harus terlibat aktif dalam mendorong gencatan senjata dan upaya damai untuk Palestina.
“Kami melihat Kedubes Amerika Serikat sebagai simbol perwakilan Amerika, dan tempat yang tepat untuk menyuarakan tuntutan kami,” ungkapnya.
Senada dengan Dimas, Ketua Perempuan Mahardhika, Ika Pratiwi mengecam sikap Amerika Serikat dengan hak vetonya yang menolak perdamaian antara Israel-Palestina. Ia menyayangkan hal tersebut karena mayoritas negara yang tergabung dalam PBB sudah sepakat untuk menghentikan konflik Israel-Palestina.
“Amerika dengan hak vetonya membuat keputusan tersebut akhirnya tidak disetujui PBB, bagi saya itu merupakan bukti dari tidak berfungsinya PBB,” ucap Ika.
Ia melanjutkan, pemerintah Indonesia seharusnya dapat melakukan strategi yang lebih keras terhadap Israel dan Amerika Serikat. Sebab, melihat sejarah Indonesia bersama dengan negara terjajah membuat Konferensi Asia-Afrika merupakan bentuk perlawanan terhadap imperialisme Amerika Serikat, sehingga roots tersebut tidak seharusnya hilang.
Baca juga: Babak Belur Petambak Kecil di Pesisir Karawang
Menanggapi aksi tersebut, Personil Band The Brandals, Eka Annash merasa sudah menjadi kewajiban masyarakat umum untuk menyuarakan pembebasan bangsa yang terjajah. Ia melanjutkan, tidak ada pola-pola tertentu yang menggerakan mereka untuk aksi pada hari ini selain rasa kemanusiaan mereka yang paling dalam untuk Palestina.
Melihat tragedi di Rafah pada 26 Mei lalu, Eka merasa kondisi di Palestina kian hari semakin buruk. Ia mengatakan, itu terjadi karena banyak nyawa warga sipil yang terenggut akibat invasi Israel ke Palestina.
“Mereka (Israel) menunjukan impunitas dan kearoganan bahwasanya hukum internasional tidak berlaku untuk Israel,” ungkap Eka.
Dalam mengawal isu ini, Eka bersama massa aksi lainnya akan membuat surat petisi yang ditujukan kepada Retno Marsudi selaku Menteri Luar Negeri, Presiden Joko Widodo, maupun Presiden terpilih Prabowo Subianto. Eka menjelaskan, surat petisi tersebut berisi tuntutan kepada otoritas negara untuk mengambil langkah konkret.
Eka mencontohkan langkah konkret yang dia maksud bisa berupa embargo, boikot, maupun bentuk sanksi lainnya. Ia menjelaskan, surat petisi tersebut juga berupa undangan untuk menghadiri aksi solidaritas Palestina yang rencananya akan kembali diselenggarakan pada tanggal 6-7 Juli.
“Harapannya kita bisa komunikasi dua arah dengan Bu Retno, jadi beliau tidak hanya menghadiri forum-forum Internasional. Tapi juga forum dalam negeri untuk menampung aspirasi kami terkait konflik Israel-Palestina,” pungkasnya.
Reporter/ Penulis: Akmal Hafizh Haqqani
Editor: Anna Abellina Matulessy

