Mulai dari mengambil air hujan dari gorong-gorong sampai air got yang kumuh dari sumur resapan. Warga Kampung Bayam harus hidup dari air yang tidak layak, penyakit kulit adalah konsekuensinya.
Ada kebiasaan pagi yang unik di Rusun Kampung Bayam. Setiap pagi, mereka bolak-balik dari lantai dua kediaman menuju lantai dasar. Berbekal papan troli yang diderek tali, mereka silih berganti mengisi ember dan galon air mineral bekas dengan air bersih.
Hairiah, seorang di antara mereka yang bisa ditemui di sana mengaku memang setiap pagi atau ketika kehabisan air, warga Kampung Bayam harus bolak-balik seperti ini. Hal ini dilakukan sebab pihak pengelola Kampung Susun Bayam, Jakarta Propertindo (Jakpro) tidak memberikan akses air bersih kepada mereka.
Ia menjelaskan ada dua sumber mata air yang biasa dipakai warga. Beruntung bagi mereka bila terjadi hujan deras, sebab mereka dapat memanfaatkan air yang ditampung gorong-gorong.
Di gorong-gorong, perempuan setengah baya itu akan mengais air dengan ember kecil dan memasukkannya ke ember atau galon dengan corong. Setelah penuh, ia meletakkannya satu-satu pada papan troli, lalu dikerek ke tempat kediamannya untuk ditampung ke dalam tong besar.
“Di situ (gorong-gorong) ada airnya kalau hujan, tapi kalau di sumur resapan dari comberan,” jelas Hairiah.
Demi bisa membawa lebih banyak ember atau galon dalam sekali jalan, terkadang sebuah gerobak kayu milik warga digunakan. Gerobak kayu itu dapat menampung dari 12 sampai 14 ember atau galon, lebih banyak dari papan troli yang bisa memuat hanya dari 3 sampai 6 ember atau galon saja.
“Bukan capek lagi, tapi namanya buat masak, mandi, dan mencuci,” katanya.
Selain gorong-gorong, warga memanfaatkan fasilitas penyulingan untuk mendapatkan air bersih. Bila hari sedang terik, gorong-gorong pun akan kering. Warga yang tak punya pilihan pun harus menyuling air comberan yang telah mereka endapkan. Sistem penyulingannya sendiri menggunakan sistem sederhana dengan batu-batu kerikil, batu besar, sampai rumput ilalang.
Agar bisa dikonsumsi, biasanya ia dan warga lainnya harus merebus air sampai waktu yang lama. Kemudian menyajikannya menjadi teh hangat supaya rasanya tidak terlalu kentara seperti air comberan.
“Gimana ya, namanya keadaan. mudah-mudahan kuman juga tahu penderitaan kita,” ujarnya.
Cecep, seorang pria paruh baya mengaku alami gatal-gatal, setelah mandi menggunakan air ini. Sambil menggaruk-garuk lehernya, Cecep juga mengaku beberapa gejala lain juga dialami warga, seperti kudis, kadas, hingga korengan.
Meski begitu Cecep merasa membeli air bersih tidak menjadi alternatif. Sebab, biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit.
“Kalau udah (garuk-garuk) pakai kuku gini, bisa sampai korengan, luka, membengkak, kalau mau beli air bersih pun, dari mana biayanya?” tegasnya.
Baca juga: Jalan Gelap Demokrasi Elektoral Indonesia
Terlantar dan Masih Menunggu
Krisis air bersih telah berlangsung sejak 13 Maret 2023, tepat pukul 3 sore, pihak Jakpro mematikan seluruh akses air dan listrik di Kampung Bayam. Pemblokadean saluran air dan listrik ini disusul peristiwa setelahnya, di mana Jakpro melaporkan empat warga Kampung Bayam dengan tuduhan melakukan penyerobotan lahan, perusakan aset, hingga pencurian air pada Januari 2024 lalu.
Furqon, selaku ketua Kelompok Tani Kampung Bayam Madani (KTKBM) merasa kecewa pada kebijakan yang pemerintah DKI Jakarta dan Jakpro terkait dicabutnya saluran air. Ia merasa sangat miris pada bagaimana pemerintah menanggapi keadaan mereka. Dia mengatakan bagaimana krusialnya penggunaan air untuk kebutuhan.
Ia menjelaskan warga berhak menempati Kampung Susun Bayam. Melalui Surat Walikota Jakarta Utara nomor e-0176/PU.40.00 pada Juni 2022 lalu, warga diresmikan sebagai penghuni Kampung Bayam, bahkan setiap keluarga telah ditentukan unit yang akan ditempatinya.
“Kami berupaya pulang ke rumah, kok malah seakan-akan jadi seperti kriminal,” tuturnya.
Furqon menegaskan ia dan warga lain masih menunggu hak yang dijanjikan oleh mereka pasca tergusur proyek pembangunan Jakarta International Stadium (JIS) 5 tahun lalu. Ia masih ingat saat peresmian Kampung Susun Bayam pada 12 Oktober 2022, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam pidatonya berjanji warga bisa menghuni rusun itu pada November 2022.
Namun, lanjutnya, sampai saat ini warga masih belum dapat kejelasan terkait nasibnya untuk menghuni Kampung Susun Bayam. Ia kecewa ketika melihat dirinya dan warga justru malah mendapat intimidasi dari pihak keamanan seperti security dan Ormas setempat.
“Kita bukan orang miskin loh, tapi dimiskinkan. Entah sampai kapan kayak gini, kami manusia yang tidak dimanusiakan,” pungkasnya.
Penulis/ reporter: Dzikri Abdillah
Editor: Ezra Hanif

