Kegengsian antar angkatan dalam menyajikan acara tradisi menghasilkan paradoks yang terus bergulir.
Kegiatan non akademik yang dibuat oleh senior membebani juniornya. Junior tidak punya pilihan untuk tidak melaksanakan acara sebab kegiatan itu telah menjadi tradisi di suatu prodi. Hal itu diakui sendiri oleh beberapa mahasiswa baru (maba) UNJ, mereka terpaksa berpartisipasi pada acara tahunan sebab keinginan senior mereka.
Sejatinya, kehidupan perkampusan adalah kehidupan mahasiswa yang sarat akan aktivitas akademik dan aktivitas non akademik. Berbagai kegiatan dijalani oleh mahasiswa setelah memasuki dunia kuliah baik acara yang bersifat formal maupun nonformal. Upaya itu dilakukan supaya mahasiswa turut aktif dalam kehidupan kampus, tidak hanya aktif dalam akademik.
Mahasiswa baru dituntut untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan non akademik untuk menambah skill dan pengalaman mereka. Dalam Pedoman Kredit Keaktifan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta pada Bab 2 Tujuan, Sasaran, dan Kegunaan pasal 2 Tujuan disebutkan bahwa hadirnya berbagai kegiatan agar mahasiswa dapat berkembang dan memperoleh kemampuan akademik mumpuni.
Sebagaimana yang disebutkan di pasal 2, tujuan kampus berperan sebagai fasilitator dan penunjang sarana bagi mahasiswa agar dapat meningkatkan kompetensi dirinya dengan soft skill yang memadai. Kampus memberikan banyak kegiatan kepada mahasiswa seperti PKKMB, PKMP, seminar, dan acara perlombaan.
Pasal di atas menjadi dalih bagi senior untuk menciptakan berbagai kegiatan mahasiswa supaya maba dapat turut aktif dalam kehidupan kampus. Agar semakin banyak mahasiswa yang terlibat dan ikut serta dalam sebuah kegiatan maka dibentuklah kepanitiaan dengan merekrut mahasiswa
Namun, kepanitiaan acara yang direncanakan sebagai sarana pengembangan skill dan menambah pengalaman mahasiswa baru malah menyusahkan mereka sebab kurangnya dana. Dana menjadi hal yang penting dalam sebuah penyelenggaraan acara, tapi hal itu seolah-seolah tidak dihiraukan oleh senior dan mahasiswa dengan hasrat menggelar acara yang meriah dan semarak.
Masalah Utamanya Dana
Dalam beberapa acara, senior sering kali mengandalkan maba untuk mengisi kepanitiaan. Biasanya panitia diambil campuran dari sebagian anggota BEM dan maba. Kemudian senior mereka menjadi steering committee yang membimbing mereka, memberikan masukan, dan saran bagi mereka untuk menyiapkan serta menyelenggarakan acara.
Mahasiswa tidak butuh bantuan masukan dan saran. Sebaliknya, yang urgen adalah dana karena itu masalah utama bagi maba untuk menyelenggarakan acara. Terlebih lagi maba yang bukan jurusan ekonomi dan bisnis memiliki keterbatasan kemampuan dalam mencari uang, walaupun pada akhirnya mereka dapat mencari uang dengan berbagai cara seperti danusan, menjadi penonton bayaran, endorsement, dll.
Di sisi lain, pihak kampus memiliki batasan dalam mendukung pendanaan acara. Akibatnya, mahasiswa mencoba berbagai cara agar dapat memenuhi target anggaran.
Sebenarnya, setiap acara prodi memang dananya telah tersedia dari anggaran BEM prodi, tapi sekalipun itu turun tidak bisa menanggung dana pengeluaran karena anggarannya terlalu kecil. Sedangkan, untuk menyelenggarakan acara besar dan meriah dengan dekorasi mewah, pencetakan surat-surat undangan yang dibagikan kepada seluruh instansi, menyewa banyak ruangan, menyewa peralatan-peralatan media, menyewa satu set sound system, dan yang lainnya membutuhkan dana besar lagi banyak.
Selain itu, iming-imingan bantuan donasi dari alumni dijamin akan datang sejauh acara dipersiapkan, bantuan tersebut berupa uang pendanaan acara untuk meringankan beban mahasiswa. Donasi dari alumni itu pun adalah opsi terakhir mahasiswa mencari kucuran dana. Meskipun donasi itu datang, tapi itu tetap belum bisa memenuhi anggaran.
Kegiatan Non Akademik yang Kosong Manfaat
Dengan iming-iming kegiatan itu menjadi poin keaktifan mahasiswa yang menjadi syarat kelulusan nanti maka mereka rela melakukan hal itu. Karena untuk mengikuti sidang skripsi, mahasiswa wajib untuk melampirkan dokumen keaktifan mahasiswa seperti sertifikat organisasi/kelembagaan, kepanitiaan, lomba/pagelaran, seminar, workshop, dan asistensi baik sebagai asisten dosen, praktikum ataupun laboratorium.
Selain itu, penyelenggaraan acara dapat berdampak kepada kenaikan akreditas prodi. Atas dasar tersebut, banyak kaprodi yang meminta mahasiswanya untuk menyelenggarakan kegiatan non akademik agar mahasiswanya aktif dalam kehidupan perkuliahannya.
Sayangnya, program non-akademik yang dicanangkan untuk meningkatkan keaktifan dan partisipasi mahasiswa di dalam prodi malah menjadi beban tersendiri. Banyak dari mereka mengatakan terpaksa mengikuti kepanitiaan.
Praktik kewirausahaan yang dilakukan untuk memenuhi dana acara tidak bermanfaat bagi mahasiswa yang mengambil jurusan kependidikan. Seharusnya mereka mendapatkan soft skill yang memadai tentang profesionalitas pendidik, bukan disibukan dengan kegiatan kewirausahaan.
Karena dalam berwirausaha seseorang harus mengorbankan salah satu kepentingannya. Lalu bagi mahasiswa ada dua kepentingan : akademik dan non akademik maka dia harus rela konsentrasi dengan urusan jual-beli ketimbang akademik.
Senior menghendaki penyelenggaraan acara harus lebih baik dari tahun lalu. Acara tahunan yang digelar rutin itu harus memiliki kesan baru di hadapan para peserta agar menunjukan peningkatan mutu dan pamor acara. Akan tetapi, senior tidak tahu, semakin meningkatkannya taraf dari acara tersebut maka semakin meningkat pula biaya penyelenggaraannya.
Panitia gengsi dengan senior apabila acara gagal berjalan dan senior gengsi dengan alumni apabila tidak dapat membimbing juniornya dengan baik. Oleh karenanya, agar acara dapat digelar maka panitia tega menagih iuran kepada panitia lain dengan berbagai macam iuran berupa iuran individu, iuran kelompok, atau melalui denda absensi rapat.
Ekspektasi besar ditaruh kepada maba dengan harapan acara dapat diselenggarakan lebih besar dan lebih meriah dari acara sebelumnya. Hal ini membuat mahasiswa terlalu percaya diri, padahal dari segi sumber daya manusia dan kemampuan anggaran acara masih prematur.
Kegiatan non-akademik yang bertujuan untuk melatih mahasiswa menyelenggarakan acara telah keluar jauh dari niat awalnya. Sekarang, maba hanya terjebak dan terpaksa dalam bayang-bayang senior yang mendesak agar penyelenggaraan acara lebih baik dari tahun sebelumnya dengan anggaran pas-pasan.
Setelah itu angkatan berikutnya yang masuk akan merasakan nasib sama bahkan lebih, karena harus memenuhi anggaran yang lebih besar dari tahun sebelumnya. Semua karena gengsi.
Betapa beratnya menjadi maba apabila hal itu terjadi, hanya menjadi orang pasif yang mudah terpengaruh oleh para senior. Maba tidak lagi subjek bagi dirinya sendiri untuk melakukan yang dia mau, tapi hanya menjadi boneka yang dikendalikan oleh seniornya.
Lalu dimana peran BEM yang katanya sebagai lembaga advokasi mahasiswa? Seharusnya ada tindakan pencegahan atau perlindungan ketika mereka melihat fenomena seperti ini. Bukannya membiarkan mahasiswa tertekan demi menjalankan program tahunan.
Alangkah baiknya maba berpikir jernih dan bersikap tegas kepada seniornya agar tidak semena-mena mengintervensinya. Maka maba bisa menentukan mana kegiatan yang penting dan mana yang tidak.
Penulis : Naufal Nawwaf
Editor : Asbabur Riyasi

