Kampung Susun Bayam, Jakarta Utara, menjadi tuan rumah Festival Saba Kampung yang berlangsung selama dua hari pada Sabtu (28/02) dan Minggu (01/03). Acara ini berusaha mempertemukan warga kampung-kampung kota yang tengah menghadapi konflik penggusuran dan persoalan agraria dalam satu forum.
Dalam konteks Betawi, “saba” berarti saling mengunjungi atau bersilaturahmi antarwilayah. Selama dua hari pelaksanaan, Saba Kampung diisi berbagai agenda, yakni rangkaian diskusi, lokakarya, pertunjukan musik (gigs), dan pentas seni warga.
Perwakilan dari ABC+ Kontrol Pekerja, Aryo, menyebut kegiatan tersebut digagas sebagai ruang konsolidasi lintas kampung. Baginya, agenda ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi juga untuk menyusun langkah konkret penguatan ekonomi dan kerja sama antar kampung.
Aryo menjelaskan, Saba Kampung berangkat dari inisiatif anak-anak muda lintas tongkrongan yang sebelumnya membangun solidaritas lintas daerah. Ia menuturkan, forum ini berkembang dari konsep saba antar tongkrongan sejak 2020.
“Awalnya kita keliling kampung, saling kenal satu sama lain. Dari situ berkembang jadi Saba Kampung, kampung lain mendatangi kampung yang jadi tuan rumah.” jelasnya pada Minggu (01/03).
Lebih lanjut, Aryo mengatakan Saba Kampung kini menjadi agenda yang lebih terbuka. Untuk pertama kalinya, kampung-kampung dari luar wilayah seperti Padarincang dan Dago Elos diundang untuk ikut dalam pertemuan.
“Kalau sebelumnya fokus ke kampung-kampung lokal, sekarang mengajak kampung luar yang punya konflik serupa,” ucapnya.
Aryo menegaskan tujuan Saba Kampung tidak berhenti pada isu politik penggusuran. Ia menilai perjuangan kampung harus dibarengi penguatan sosial dan ekonomi warga.
Ia menambahkan, pengalaman di Kampung Bayam menunjukkan warga mulai membangun strategi ekonomi sendiri, termasuk produksi dan pemasaran mandiri. Langkah itu, sambung Aryo, dinilai penting agar solidaritas tidak berhenti pada simpati.
“Warga harus jadi subjek aktif, bukan dikasihani, yang penting itu bagaimana ekonomi warganya kuat, bukan cuma datang lihat lalu pulang,” tegasnya.
Baca juga: Mengajak BEM Universitas Belajar dari Sejarah untuk Bertindak Nyata!
Sebagai tuan rumah, Ketua Paguyuban Tani Kampung Bayam, Furqon, menyambut forum ini sebagai momentum memperluas jejaring perjuangan. Ia menilai Saba Kampung bukan hanya ruang konsolidasi, tetapi juga wadah untuk merumuskan langkah lanjutan antar kampung kota.
Furqon menyampaikan pembahasan diarahkan pada penguatan ekonomi bersama. Menurutnya, konflik penggusuran kerap membuat warga kehilangan ruang hidup sekaligus sumber penghidupan. Karena itu, pemberdayaan ekonomi dinilai menjadi bagian penting dari perjuangan.
“Dari diskusi itu harapannya bisa jadi jelas arah perjuangan kita mau ke mana. Jangan sampai kita memperjuangkan ruang hidup, tapi dari segi ekonomi kita lemah,” jelas Furqon.
Ia menilai penyelenggaraan Saba Kampung adalah salah satu langkah penting untuk menyatukan langkah kampung-kampung kota. Menurut Furqon, penyelesaian konflik tidak akan tercapai jika warga bergerak sendiri-sendiri.
“Permasalahan sebenarnya sama, cuma beda tempat saja. Makanya, kita harus menyelesaikan bersama,” tandasnya.
Baca juga: Sekam Api World Class University
Senada, anggota solidaritas untuk warga Kampung Bayam, Ayu menilai konsolidasi lintas kampung penting untuk memperkuat perjuangan warga kota. Ia menjelaskan, praktik penggusuran masih berlangsung di berbagai wilayah dan kerap dilakukan secara masif. Karena itu, jejaring solidaritas dinilai perlu dibangun agar warga tidak berjuang sendiri, tegasnya.
“Harapannya rembuk warga hari ini bisa saling menguatkan antar jaringan,” tuturnya.
Ia mengatakan perjuangan mempertahankan hak atas tanah tidak dapat diselesaikan secara instan. Sehingga solidaritas, ucap Ayu, harus hadir dalam proses pengorganisasian sehari-hari, bukan hanya saat konflik memuncak.
Ayu menilai kesadaran kolektif perlu dijaga bahkan setelah tuntutan atas hak tanah terpenuhi. Ia mendorong agar solidaritas antar kampung terus diperkuat dan mampu merangkul wilayah lain dengan konflik serupa.
“Perjuangan itu tidak berhenti ketika negara telah memberikan hak atas tanah. Kesadarannya harus tetap ada dan warga bisa saling menguatkan,” pungkasnya.
Reporter/penulis: Khalda Syifa
Editor: Safira Irawati

