Mahasiswa kecewa akan perubahan kebijakan peminjaman busana wisuda. Indikasi UNJ menuju PTN-BH?

Lewat surat edaran B/4198/UN39.1/WA.00.00/2023 yang diterbitkan pada 18 September 2023, UNJ secara resmi merubah kebijakan tentang pemberian busana wisuda pada semester 118. Busana wisuda yang tadinya diberikan secara cuma-cuma kepada wisudawan, kini hanya dipinjamkan. Nantinya, setelah acara selesai wisudawan harus mengembalikan pakaian tersebut. 

Mahasiswa pendidikan biologi, Ma’rifatu Rizky merasa kecewa dengan perubahan kebijakan busana wisuda. Menurutnya, toga seharusnya tetap diberikan kepada wisudawan seperti pada semester-semester sebelumnya.

“Kecewa banget akhirnya cuma dipinjemin ga kaya semester lalu. Padahal busana wisuda itu sebagai kenang-kenangan dan juga biar bisa dokumentasi bersama teman yang mungkin belum wisuda di semester ini”, tuturnya.

Rifa menilai pembiayaan wisuda baik penyewaan gedung dan pemberian busana seharusnya sudah termasuk dalam pembayaran UKT. Oleh karena itu, sudah menjadi hak mahasiswa untuk bisa mendapatkan busana wisuda, tidak hanya dipinjamkan seperti kebijakan terbaru.

Senada dengan Rifa, mahasiswa pendidikan sejarah Laila Amalia Khaerani turut merasa kecewa terhadap kebijakan tersebut. Laila menganggap bahwa suasana wisuda akan kurang terasa apabila busananya hanya dipinjamkan. Laila juga mengeluhkan informasi yang sempat simpang siur mengenai kebijakan busana wisuda.

Iklan

“Kecewa banget, suasana wisudanya jadi tidak terasa. Informasi nya juga simpang siur, kemarin-kemarin sempat muncul pilihan deposito sebesar Rp 550 ribu di siakad mahasiswa yang melakukan pemberkasan,” ujar Laila.

“Lalu sempat hilang setelah ramai, eh malah muncul kebijakan peminjaman, dan besaran uang tersebut sebagai denda jika jika terjadi kehilangan atau kerusakan,” lanjutnya.

Selain mengeluhkan perubahan kebijakan, Laila bahkan menjelaskan bahwa ia dan kawan-kawannya sempat bergurau. Mereka merasa, sekalian saja membayar denda yang tertera, agar bisa membawa pulang busana wisuda.

Sementara itu, Wakil Rektor I bidang Akademik, Suyono mengklaim perubahan tersebut ditujukan untuk meningkatkan busana wisuda yang selama ini masih dirasa kurang. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa kebijakan yang diterapkan saat ini merupakan adaptasi kebijakan dari kampus lain. 

“Busana wisudawan tahun ini akan menjadi aset UNJ kedepannya, secara kualitas akan lebih baik, dan bisa dipakai secara terus-menerus. Lagipula kampus lain sudah banyak menerapkan seperti UNY, UPI, Unpad, UGM, karena UNJ statusnya setara dan sama-sama PTN jadi tidak masalah,” ungkap Suyono.

Terkait dengan busana wisuda masuk ke dalam UKT, Suyono mengatakan situasi UNJ saat ini tidak mampu untuk melakukan itu. Sebab, lanjutnya, besaran UKT yang dibayarkan mahasiswa tidak menutup biaya pengadaan busana wisuda. 

“Kalau dari segi pembiayaan, yang selama ini dibayarkan mahasiswa-kan UKT, sementara pemenuhan kebutuhan perkuliahan itu sudah dihitung dalam besaran BKT. Terdapat selisih cukup tinggi antara pemasukan dengan kebutuhan. Maka, wajar jika busana wisuda hanya dipinjamkan tidak diberikan,” jelas Suyono.

Meski begitu, Suyono menjamin momen sakral wisuda masih bisa dirasakan meski busana nya hanya dipinjamkan. Ia juga menyinggung jika busana wisuda diberikan, mahasiswa pun hanya menyimpannya saja, berbeda jika dipinjamkan.

“Mahasiswa tetap mendapat dokumentasi fisik saat memakai busana wisuda, tidak berkurang kesakralan momennya. Maka dari itu, kebijakan ini bukanlah masalah’’ pungkasnya.

Baca juga: https://lpmdidaktika.com/bpu-pastikan-sistem-parkir-baru-unj-gratis-bagi-mahasiswa/

Iklan

Menuju PTN-BH

Lain halnya dengan Suyono, alumni Pendidikan Sejarah 2023, Ramli mengatakan perubahan kebijakan tersebut merupakan bukti mulai keluarnya tabiat UNJ sebagai PTN-BH, salah satunya dengan menormalisasi pembiayaan diluar UKT. Lebih lanjut, Ramli juga menyinggung kampus-kampus yang dijadikan panutan adaptasi kebijakan oleh Wakil Rektor I merupakan mereka yang sudah berbadan hukum.

Sebagai perbandingan, Universitas Padjajaran telah menerapkan peminjaman busana wisuda terlebih dahulu. Wisudawan diwajibkan membayar biaya jaminan peminjaman busana wisuda sebesar Rp 250 ribu untuk baret, Rp 500 ribu untuk toga, serta Rp 750 ribu untuk toga dan baret.

Sementara itu, di Universitas Indonesia biaya wisuda tersedia dalam bentuk paketan. Rinciannya berupa biaya pelaksanaan sebesar Rp 1 juta. Dengan alokasi Rp 300 ribu untuk sumbangan dana abadi UI, dan sisanya dialokasikan untuk barang yang akan diterima wisudawan seperti, toga, undangan, konsumsi, foto, piagam digital, souvenir wisuda, serta email alumni.

Seharusnya, lanjut Ramli, sistem UKT sudah mengakomodasi pembiayaan mahasiswa termasuk wisuda. Ia merujuk pada Permendikbud nomor 5 Tahun 2020 yang mencantumkan wisuda sebagai kegiatan yang pembiayaannya masuk dalam biaya langsung, dan sudah terakomodasi dengan pembayaran UKT.

“Sistem UKT itu seharusnya sudah mengakomodasi pembiayaan mahasiswa dari masuk sampai keluar kampus, seharusnya tidak ada lagi penarikan dana kepada mahasiswa di luar pembiayaan UKT,” jelas Ramli.

Mengingat UNJ yang sedang bertransisi menjadi PTN-BH, Ramli menilai kampus sudah mulai merogoh kantong mahasiswa secara halus. Karena subsidi yang diterima kampus akan berkurang, sementara tata kelola aset juga belum memberikan keuntungan, maka mahasiswa dibebankan biaya berlapis untuk mengisi pemasukan.

“Pengurangan subsidi seharusnya tidak dibebankan kepada mahasiswa, busana wisuda merupakan hak mahasiswa sebagai pihak yang membayar UKT tiap semesternya,” ucap Ramli.

“Bukan tidak mungkin, nantinya tidak hanya denda tapi dijadikan berbayar sepenuhnya,” tutupnya. 

 

Reporter/Penulis: Zahra Pramuningtyas

Editor: Izam