Administrasi Beban Kerja Dosen (BKD) yang meliputi Tri Dharma Perguruan Tinggi belum terintegrasi dengan baik. Akibatnya, fokus dosen terpecah dan mahasiswa merasa pembelajaran jadi kurang optimal.

Dosen prodi Sosiologi, Yuanita Aprilandini tampak sibuk saat ditemui di Lab Sosiologi, gedung Fakultas Ilmu Sosial Hukum (FISH) pada Kamis (7/5). Di meja kerjanya tertumpuk berkas-berkas dan terlihat pula beberapa mahasiswa yang menunggunya untuk bimbingan skripsi.

Kepada Tim Didaktika, Yuanita mengaku tugas bimbingan skripsi ini bisa hingga larut malam di luar jam kerjanya. Biasanya ia melakukan bimbingan dari jam empat hingga tujuh malam setiap harinya.

“Saya sekarang sedang membimbing 50 mahasiswa dalam penyusunan skripsi. Lalu ditambah mengajar yang mana perkelasnya bisa mencapai 50 orang,” curhatnya.

Yuanita adalah satu dari sekian dosen yang memiliki Beban Kerja Dosen (BKD) berlebih. BKD sendiri mencakup tugas Tri Dharma, yakni pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Apalagi ada tugas penunjang Tri Dharma seperti menghadiri seminar, menjadi pengurus organisasi bentukan kampus, dan sejenisnya. BKD memiliki bobot Satuan Kredit Semester (SKS). Setiap semesternya, dosen harus mengampu seminimalnya 12 dan maksimal 16 SKS.

Baca juga: Inklusivitas Masih Janji, Difabel UNJ Keluhkan Minimnya Prasarana

Iklan

Dosen wajib melaporkan BKD-nya secara daring melalui Sistem Informasi Sumberdaya Terintegrasi (SISTER). Akhirnya, dosen harus melakukan kerja administratif. Pelaporan BKD ini berguna untuk pemenuhan angka kredit dosen, yang menjadi syarat penting dalam proses kenaikan tingkat jabatan.

Tugas administrasi dosen tersebut sayangnya menimbulkan masalah baru. Melansir data Kompas (19/5), dosen Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia rata-rata menghabiskan 11,43 jam perminggu mengerjakan administrasi. Dalam artikel yang sama, akibatnya dosen harus mengorbankan jam tidur dan waktu bersama keluarga.

Pada situasi Yuanita, dirinya harus mengorbankan metode UTS atau UAS dengan memakai bentuk pilihan ganda melalui Google Form atau proyek kelompok untuk efisiensi waktu. Ia terpaksa melakukannya demi efisiensi waktu koreksi, walau baginya lebih baik menggunakan bentuk esai.

Porsi membaca buku untuk mengembangkan kompetensi pun harus ia pangkas. Efeknya, terang Yuanita, pemutakhiran Rencana Pembelajaran Semester (RPS) menjadi lima tahun sekali.

“Saya tidak sanggup mengoreksi puluhan hingga ratusan lembar ujian perorangan, dan tidak bisa menyewa asisten, gaji saya hanya sebesar Rp4,2 juta,” ujarnya.

Dosen Perpustakaan dan Sains Informasi, berinisial DK, mengungkapkan ia harus cermat membagi waktu menjalankan Tri Dharma beserta pelaporannya. Sebab tidak mungkin bila semuanya dikerjakan bersamaan bagi dirinya yang mengemban 12 SKS pada semester 122 ini. 

DK memanfaatkan waktu ketika mahasiswa libur untuk memperbaiki RPS, merencanakan pelaksanaan penelitian, serta pengabdian masyarakat. Agar lebih efisien, lanjut DK, ia melibatkan mahasiswanya dalam penelitian dan pengabdian masyarakat.

Pelaporan BKD adalah saat yang mempengaruhi kondisi psikis DK. Ia mengeluh karena diharuskan memiliki beberapa akun dan kata sandi untuk masuk ke berbagai situs. Menurutnya, lebih praktis jika semuanya digabungkan dalam satu situs.

“Kita belum punya sistem data yang terintegrasi antara pemerintah dan kampus. Selain itu, proses ini biasanya harus dikerjakan sendiri oleh dosen karena berkaitan dengan data pribadi,” ungkapnya saat diwawancarai Tim Didaktika (2/6).

Menyoroti hal ini, dosen prodi Pendidikan Sosiologi, Ubedilah Badrun, menilai adanya masalah serius jika inefisiensi administrasi berlanjut. Baginya, dosen akan terjebak dalam rutinitas administratif. Lantaran, dosen harus mengisi laporan di awal dan akhir semester, serta di sela-sela pengabdian.

Iklan

Mestinya, hemat Ubedilah, dosen lebih berfokus pada tugas Tri Dharma dan tidak memusingkan soal administrasi. Sehingga bisa lebih kreatif dan melakukan inovasi dalam pembelajaran.

“Dampak beban administratif ini tentu akan menguras energi dosen. Akibatnya, proses pembelajaran terasa membosankan dan kurang kontekstual,” terangnya.

SISTER sebagai tempat pelaporan BKD pun bagi Ubed belum terintegrasi dengan baik. Pasalnya, sistem itu tidak terhubung dengan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dan Science and Technology Index (Sinta) dosen. Selain itu, dosen juga masih harus mengisi data di aplikasi lain seperti MyASN.

“Harus ada satu sistem yang terintegrasi. Pelaporan pun hanya dilakukan pada awal dan akhir tahun, sehingga dosen tidak berulang-ulang mengurusi hal administratif,” sarannya melalui pesan tertulis WhatsApp (7/6).

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Ifan Iskandar menolak permohonan wawancara soal konteks administrasi BKD di UNJ. Ia beralasan topik tersebut lebih baik ditanyakan kepada Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Sumber Daya.

Mahasiswa Keluhkan Kualitas Pengajaran

Mahasiswa prodi Pendidikan Khusus, Salwa Alhuda mengeluhkan pembelajaran tak maksimal yang diberikan dosennya. Ia mengeluhkan durasi belajar semakin singkat imbas dari dosen yang seringkali harus mengikuti rapat atau seminar. Pada beberapa dosen, ungkap Salwa, waktu perkuliahan yang seharusnya dua SKS dipotong menjadi satu SKS.

Baca juga: Banyak Cacat LMS-UNJ dalam Menunjang Perkuliahan Daring

Saat proses belajar di kelas pun, lanjut Salwa, terdapat dosen yang melakukan rapat secara daring. Imbasnya, fokus dosen terpecah dan tidak maksimal menaruh perhatian pada mahasiswa. Alhasil ketika Salwa dan teman-temannya melakukan presentasi, seringkali dosen tidak memberikan pengayaan tambahan.

“Dosen yang sibuk sering terlambat memberi penilaian tugas. Beliau hanya mengatakan ‘tugas cukup bagus tapi masih ada yang ambigu’, dan tidak ada info lebih lanjut. Padahal kami perlu tahu bagian mana yang masih kurang jelas,” adunya (7/7).

Senasib dengan Salwa, mahasiswa prodi Sosiologi angkatan 2024 Dian Sukmawening, menceritakan pengalaman belajarnya yang tidak maksimal. Seorang dosennya sering hilang tanpa kabar karena sibuk dengan tugas penunjang Tri Dharma. 

Hal tersebut membuat ia dan teman-temannya merasa frustrasi. Mereka menyayangkan waktu dan kuota internet yang terbuang untuk menunggu dosen di aplikasi Zoom. Terlebih lagi, di sela-sela waktu pembelajaran, terkadang dosen malah memusatkan perhatiannya pada kegiatan lain, seperti seminar.

Setelah ditinggal dosennya tanpa kabar, alhasil ketika berganti mata kuliah, Dian merasa kehilangan gairah belajar. Ia pun jadi enggan terlibat aktif dalam diskusi kelas.

“Kami berharap jumlah dosennya ditambah. Karena kami merasa suasana hati dosen sangat kacau semisal mengajar dua mata kuliah sekaligus di kelas yang sama,” pungkasnya (6/5).

Reporter/Penulis: Safira Irawati

Editor: Fadil B. Ardian