Hei gerakan mahasiswa, setelah Perppu Cipta Kerja viral, lalu apa?

 

Tepat di depan gerbang gedung DPR RI, Senayan. Artis Jefri Nichol melempar tikus ke dalam gerbang sebagai aksi simbolik tolak Perppu Cipta Kerja pada Kamis (6/4). Turunnya Jefri bersama mahasiswa tidak lepas dari viralnya sebuah video sindirian di akun instagram BEM UI pada tanggal 22 Maret. Akun tersebut mengeluarkan sebuah video sindiran, sebuah tikus berwajah Puan Maharani keluar memecah gedung DPR. Video itu kini telah mencapai sembilan juta penonton di Instagram. Setelahnya akun BEM berbagai universitas juga melakukan hal yang sama, membuat penolakan terhadap Perppu Cipta Kerja semakin gencar. 

Meski begitu, sebuah kritik muncul dari diri penulis. Kenapa setelah disahkan mahasiswa baru bergerak? Padahal jauh sebelum video tersebut viral, gerakan rakyat telah berturut-turut melayangkan protes terhadap Perppu Cipta Kerja. 

Sebut saja aksi 28 Februari, kala derasnya hujan tidak mampu memadamkan api semangat buruh dan elemen-elemen masyarakat lain dalam unjuk rasa di depan gedung DPR RI. Tuntutan mereka satu, cabut Perppu Cipta Kerja yang substansinya sama dengan omnibus law yang telah divonis cacat formil. Satu minggu setelahnya, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Elemen-elemen gerakan perempuan bersama kesatuan buruh kembali melakukan unjuk rasa, kali ini di depan Patung Kuda, Jakarta Pusat. 

Terakhir, 14 Maret gerakan rakyat kembali melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPR. Tuntutannya masih sama, cabut Perppu Cipta Kerja. 

Iklan

Satu konsistensi yang penulis temukan dalam ketiga aksi tersebut–selain semangat rakyat–adalah absennya elemen mahasiswa. Meski beberapa universitas terlihat, namun tidak membludak seperti aksi 30 Maret dan 8 April lalu. 

Ditambah, mahasiswa baru bergerak setelah Perppu Cipta Kerja ditetapkan sebagai Undang-Undang. Padahal, bila sudah lolos menjadi undang-undang, cara yang dapat ditempuh hanya judicial review. Bahkan, hal ini disindir langsung oleh Staf Khusus Mensesneg Faldo Maldini. Ia mempertanyakan gerakan mahasiswa, “Kalau memang peduli, kemarin kemana saja?”

Sindiran dari Faldo harusnya jadi tamparan keras bagi gerakan mahasiswa. Seharusnya gerakan mahasiswa malu terhadap watak reaktif yang telah mendarah daging dalam gerakan mereka. 

Ini bukan kali pertama, dua tahun lalu, saat ramai tentang Omnibus Law. Gerakan mahasiswa juga memakai pola yang sama. Undang-undang telah disahkan 5 Oktober, unjuk rasa baru terjadi 8 Oktober. 

Barangkali gerakan mahasiswa sekarang masih memakai romantisme masa lalu. Ini berakar dari pemikiran Soe Hok Gie, baginya gerakan mahasiswa laksana koboi yang singgah di suatu desa yang dikuasai bandit. Setelah berhasil menyelamatkan desa, koboi kembali ke tempat asalnya. 

Pemahaman Gie tentang gerakan mahasiswa begitu moralis. Sebab ia menganggap gerakan mahasiswa hanya panggilan hati nurani dan berasal dari rasa kasihan. Hasil dari romantisme Gie adalah gerakan mahasiswa yang hanya bersifat reaktif semata. Mereka hanya akan beraksi bila terjadi kemungkaran. 

Suryadi Radjab dalam tulisannya Panggung-Panggung Mitologi dalam Hegemoni Negara: Gerakan Mahasiswa di Bawah Orde Baru melihat peranan mahasiswa era Orba tidak lebih dari peran resi dalam pewayangan Jawa. Golongan resi diibaratkan sebagai golongan yang memiliki kebijaksanaan tinggi. Mereka hidup di lereng-lereng gunung, serta baru muncul bila terjadi kekacauan.

Dalam konteks Orba, menurut Suryadi, sengaja diciptakan panggung untuk mahasiswa mengutarakan pendapatnya. Soeharto ingin negara terlihat demokratis, dengan mengizinkan gerakan mahasiswa mengambil panggung pergerakan. Mereka membuat sandiwara politik di mana mahasiswa berperan sebagai penyambung lidah rakyat.

Beberapa kali pun kritik mahasiswa diwadahi, seperti awal 70-an demonstrasi mahasiswa ditanggapi dengan dibentuknya Komisi Anti Korupsi (KAK) yang dipimpin Bung Hatta. Selepas itu mahasiswa pun membubarkan aksinya, kembali ke kampusnya masing-masing. 

Meski begitu, Orba tidak menghendaki gerakan mahasiswa bercampur dengan elemen lain, seperti buruh dan tani. Sehingga mereka terkungkung dalam tembok-tembok kampus. Orba khawatir bila mahasiswa keluar panggung akan mengganggu apa yang mereka sebut, pembangunan nasional. Oleh sebab itu, Orba juga memberikan batasan pada panggung mahasiswa. Sebagai contoh, ABRI memukul gerakan mahasiswa di Bandung pada 1978 sebab menuntut Soeharto mundur.

Iklan

Hingga kini, gerakan mahasiswa akhirnya terjebak pada logika resi, maupun koboi. Mereka mengidentifikasi sebagai kelas baru yang lebih tinggi atau berbeda dengan rakyat. Menjadikan mereka terjebak sebagai manusia satu dimensi yang sudah didesain sedemikian rupa agar tidak menentang status quo yang ada. Walhasil, gerakan yang tercipta reaktif, moralis, dan apolitis. 

 

Belajar dari Chile

Camila Vallejo, saat itu masih berusia 23 tahun, merupakan Pemimpin Federasi Mahasiswa Universitas Chile. Agustus 2011, protes besar-besaran terjadi di Chile. Camila dan beberapa rekannya memimpin gerakan mahasiswa di Chile untuk merubah sistem pendidikan di sana. 

Setiap minggunya, jalan-jalan di Santiago dipenuhi massa aksi. Siswa-siswa menduduki ratusan sekolah, memaksa guru meliburkan pelajaran. Mahasiswa mogok kelas selama berbulan-bulan.  

Mereka menuntut satu hal, pendidikan gratis. Di Chile saat itu, biaya pendidikan tinggi sekitar $3.400 setahun, sementara gaji tahunan rata-rata Chili hanya $8.500. Ketimpangan pun terjadi, pilihan mereka hanya dua, berhutang atau berhenti kuliah. 

Hasil dari gerakan mahasiswa Chile adalah munculnya kebijakan gratuidad. Di mana memberikan pendidikan gratis bagi 60 persen pendapatan keluarga terendah. Meski belum bisa merealisasikan pendidikan gratis sepenuhnya, akses pendidikan tinggi di Chile telah lebih baik dibanding era sebelumnya. 

Politis, dan tidak moralis. Begitulah mendeskripsikan gerakan mahasiswa Chile. Camila sendiri akui 2011 hanya puncak, selama satu dekade sebelumnya, gerakan mahasiswa telah secara intensif mengkaji isu pendidikan. 

Gerakan mereka tidak hanya mengawang dan terbatas pada mahasiswa. Mereka sadar isu pendidikan berkelindan dengan isu lainnya. Sehingga berbagai elemen rakyat, seperti petani, buruh, guru, dan orang tua turut andil dalam demonstrasi tersebut. 

Tembok antara kampus dan rakyat pun runtuh. Mahasiswa membuka majelis bersama rakyat. Memungkinkan mahasiswa dan rakyat duduk bersama, berdiskusi, hingga mencapai satu kesepakatan. Hal semacam ini juga yang memungkinkan gerakan mahasiswa didukung mayoritas rakyat Chile, saat itu dukungan mencapai 89 persen. Meruntuhkan elektabilitas pemerintahan diktator Augusto Pinochet. 

Namun sebelum merumuskan gerakan bersama rakyat, gerakan mahasiswa harus merumuskan satu tujuan yang jelas apa yang ingin dicapai. Seperti halnya di Chile, yang menargetkan pendidikan gratis. Gerakan mahasiswa di Indonesia harus memiliki tujuan, dan politis. Tidak hanya reaktif dan moralis. 

Dengan begitu, gerakan mahasiswa tidak mengulangi pola yang sama dan menjadi sandiwara politik belaka. Masa mau gitu-gitu aja? 

 

Penulis: Izam Komaruzaman

Editor: Abdul