Lewat surat pernyataan sikap dan aksi simbolis, seluruh BEM Fakultas UNJ mengkritik BEM universitas. Mereka merasa tidak dilibatkan dalam arah gerakan BEM UNJ.

Menjelang masa Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB), seluruh BEM fakultas dan tim aksi UNJ menyerukan kritik terhadap BEM UNJ. Kritik tersebut dipublikasikan pada surat pernyataan sikap di sosial media pada Jumat (15/08). Mereka mengkritik keputusan BEM UNJ untuk tetap bergabung dalam Aliansi BEM Seluruh Indonesia (SI) Rakyat Bangkit, meski telah didesak untuk keluar. 

Dalam surat tersebut, BEM UNJ diminta untuk menarik diri dari BEM SI Rakyat Bangkit. Selain itu BEM UNJ juga diminta untuk mengedepankan prinsip demokrasi dan keterlibatan publik dalam pengambilan keputusan. 

Ketua Green Force UNJ, Rahman Hakim bercerita meski sudah didesak untuk keluar pada Juni lalu, BEM UNJ tidak bergeming. Ia menambahkan, desakan tersebut imbas gerakan BEM SI Rakyat Bangkit dianggap rawan untuk diintervensi kepentingan penguasa. 

“Bagaimana bisa pejabat pemerintah hadir pada Musyawarah Nasional BEM SI Rakyat Bangkit pada Juni lalu. Seharusnya gerakan mahasiswa menjaga jarak dengan penguasa yang dikritisi, “ jelasnya pada Rabu (22/08). 

Baca juga: BEM FISH Geruduk Menwa, Imbas Intimidasi pada Mahasiswa Baru 

Iklan

Lanjutnya, Hakim menilai demonstrasi yang diadakan oleh BEM SI Rakyat Bangkit seringkali bersifat dadakan dan tidak ada keberlanjutan pengawalan isu. Meski banjir masukan dan kritikan, BEM UNJ malah tetap bergabung dengan BEM SI Rakyat Bangkit. 

“Kita melihat bahwasanya BEM UNJ tidak demokratis. BEM UNJ sama sekali tidak mendengar kemauan fakultas, “ ucap Rahman.

Rahman menambahkan selain surat pernyataan, bentuk protes terhadap BEM UNJ juga terjadi saat Pembukaan PKKMB UNJ di Kampus B pada Selasa (19/09). Jelasnya, mahasiswa baru (maba) di berbagai fakultas melakukan aksi simbolik berbalik badan atau menutup telinga saat Ketua BEM UNJ, Andhika Natawijaya sedang berorasi.

Rahman menjelaskan, saat ini berbagai organisasi di UNJ sedang merumuskan rencana jika BEM UNJ tidak segera mewujudkan tuntutan mereka. Lebih jauh, mereka juga berencana memperkuat gerakan kolektif yang akan melibatkan seluruh mahasiswa. 

“Kita berencana membentuk aliansi baru atau memakai yang sudah ada, seperti Aliansi UNJ Melawan. Agar bisa fokus pada isu kampus namun tidak meninggalkan isu nasional, “ tutupnya. 

Sementara itu, Ketua BEM FEB, Muhammad Rifqi menyayangkan tindakan intimidasi berupa bentakan  dari Resimen Mahasiswa (Menwa UNJ) pada maba FEB. Bentakan tersebut dilayangkan Menwa saat maba berbalik badan ketika melakukan aksi simbolik pada pembukaan PKKMB UNJ. 

Adapun hal yang sama juga dialami maba FISH ketika melakukan aksi simbolik saat Ketua BEM UNJ sedang berorasi. Meski begitu, dilansir LPM Didaktika, BEM FISH dan Menwa UNJ telah melakukan audiensi pada Rabu (20/08). Hasilnya Menwa UNJ sepakat melakukan klarifikasi dan permohonan maaf.

“Saya sangat berharap BEM UNJ ke depan dapat mendengarkan segala keluh kesah dan pendapat yang dimiliki oleh berbagai fakultas. Saya mendesak dengan penuh agar BEM UNJ bisa membangun iklim gerakan yang progresif, serta berpihak pada kepentingan mahasiswa UNJ, “ tegas Rifqi pada Kamis (21/08).

Tim Didaktika telah menghubungi Ketua BEM UNJ, Andhika Natawijaya untuk diwawancara sejak Rabu (20/08). Namun, sampai berita ini diterbitkan, ia belum merespons. Tim Didaktika juga telah menghubungi Wakil Ketua BEM UNJ, Vika Anjana untuk diwawancarai sejak Kamis (21/09). Akan tetapi, ia belum merespons.

Sementara pada Kamis malam (21/08), BEM UNJ lewat akun media sosialnya mempublikasikan konten berjudul “BEM UNJ Sedang Berbenah”. Dalam konten itu, BEM UNJ menyadari terdapat kekurangan dalam komunikasi dan koordinasi arah pergerakan. Mereka meminta maaf atas hal ini.

Iklan

Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNJ, Alfaraby memandang protes yang dilakukan seluruh BEM fakultas dan tim aksi merupakan upaya demokratisasi gerakan mahasiswa di UNJ. Ketua Solidaritas Pemoeda Rawamangun (Spora) itu memandang gerakan mahasiswa tidak boleh hanya terpaku kepada kehendak BEM universitas saja.

Baca juga: Gelora Riak-Riak Revolusi Rakyat Menyelimuti Hari Kemerdekaan 

Lanjutnya, mengingat buruknya partisipasi publik dari BEM UNJ, mahasiswa UNJ seharusnya memperkuat gerakan-gerakan alternatif yang berada di luar koridor BEM universitas. Ia mencontohkan seperti Aliansi UNJ Melawan yang tidak hanya melibatkan BEM, tetapi juga komunitas di UNJ.

Alfaraby melihat situasi ini dapat menjadi momentum bagi seluruh mahasiswa UNJ untuk reflektif dalam menyusun arah gerakan. Ia melihat penting adanya diskusi-diskusi rutin berisi pembahasan isu kampus dan arah pergerakan yang melibatkan seluruh mahasiswa UNJ.

“Protes terhadap BEM UNJ ini, seharusnya menjadi suatu desakan bagi mahasiswa UNJ untuk menyusun ulang arah pergerakannya, “ pungkasnya.

Reporter/penulis: Andreas Handy 

Editor: Zahra Pramuningtyas