BEM FISH UNJ melakukan aksi protes kepada Resimen Mahasiswa UNJ atas dugaan sikap intimidasi terhadap mahasiswa baru di PKKMB 2025. Resimen Mahasiswa berdalih imbas miss komunikasi.
Pada Rabu, (20/08) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggeruduk sekretariat Resimen Mahasiswa (Menwa) di Gedung G. Aksi tersebut merupakan bentuk protes BEM FISH terhadap tindakan intimidatif Menwa kepada mahasiswa baru (maba) FISH. Audiensi kedua belah pihak pun dilakukan di Arena Prestasi.
Koordinator Ketertiban, Keamanan, dan Kedisiplinan (K3) FISH, Akmal Althaffikar mengungkapkan kejadian bermula ketika para maba melakukan aksi simbolik dengan menutup telinga saat Ketua BEM UNJ, Andika Natawijaya melakukan sambutan pada pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) UNJ 2025. Aksi tersebut dilakukan sebagai respon pernyataan sikap tidak percaya kepada BEM UNJ.
“Aksi yang dilakukan maba itu hanya dilakukan kepada BEM UNJ, bukan kepada jajaran pimpinan lain,” ungkapnya.
Sebagai respon aksi tersebut, lanjut Akmal, pihak Menwa selaku panitia PKKMB UNJ malah melakukan tindakan intimidatif. Akmal menyebut tindakan itu berupa bentakan, kata-kata kasar, hingga kontak fisik kepada maba untuk menurunkan tangan. Padahal, menurut Akmal aksi tersebut tidak mengganggu kondusifitas acara dan masih dalam koridor sopan santun.
“Standar Operasional Prosedur (SOP) dari K3 saja jelas dilarang menyentuh maba. Menwa yang ibaratnya tidak dikenal, orang luar malah berani melakukan itu,” ucap Akmal.
Baca juga: Wakil Rektor III UNJ: Menwa Sudah Sesuai SOP
Ketegangan suasana masa itu digambarkan langsung oleh Maba FISH 2025, Avra (bukan nama sebenarnya) yang ikut dalam barisan aksi. Ia menjelaskan awalnya suasana berjalan kondusif, hingga pihak Menwa melakukan sikap intimidatif kepada maba.
Dirinya yang berada di barisan paling belakang mengaku mendengar jelas bentakan yang dilakukan pihak Menwa. Bahkan, saking tegangnya suasana tersebut ia hanya menundukan kepala dan hampir menangis.
“Saya dengar ada yang sampai bilang gini, ‘kalian mau disuruh-suruh kaya hewan aja’ pakai nada keras,” ungkap Avra.
Avra menilai perlakuan seperti itu tidak pantas diberikan kepada maba yang berusaha menyuarakan pendapatnya dengan damai. Avra menerangkan, para maba hanya melakukan apa yang diperintahkan untuk menunjukkan rasa protes kepada Ketua BEM UNJ.
Avra berharap semoga kejadian serupa tidak terulang dan adanya perbaikan etika komunikasi, agar tidak menghancurkan hubungan antar mahasiswa di masa depan. Dirinya khawatir jika tidak segera ditangani bisa jadi warisan buruk bagi generasi kampus setelahnya.
“Tidak sepatutnya mereka berbicara kasar dan harus lebih bijaksana dalam bertutur kata,” ujarnya saat diwawancarai pada Rabu, (20/08).
Menanggapi kejadian tersebut, Komandan Menwa UNJ, Ferdian Ade Saputra berdalih, panggilan keras dan tindakan penertiban yang dilakukan berdasarkan instruksi. Instruksi tersebut diberikan oleh pimpinan kampus lewat Handy Talkie untuk menjaga kondusifitas PKKMB.
“Tugas kami adalah menjaga keamanan dan memastikan acara berjalan lancar. Kami sudah melakukan pengarahan, namun ada miss komunikasi yang terjadi,” ujar Ferdian.
Baca juga: BEM FIS dan Geografi Tuntut Menwa Beri Kejelasan Kasus Kematian Valen
Ferdian mengakui ada ketegangan dan nada bicara yang keras saat berkomunikasi dengan mahasiswa. Namun dirinya membantah adanya penggunaan kekerasan secara fisik maupun verbal.
“Kalau memang ada yang punya bukti pihak kami melakukan kekerasan, silahkan kasih ke saya. Karena beredar kabar demikian tapi tidak ada bukti,”tegasnya.
Anggota Menwa lain, Salma Tri turut berkomentar bahwa dirinya berbicara keras lantaran suara panggung yang bising. Ia menegaskan tidak ada satupun kata kasar yang terlontar dari mulutnya seperti yang dituduhkan.
“Mungkin memang ada multitafsir dari pemilihan diksi yang digunakan, sehingga maba merasa tidak nyaman,” ujarnya pada Rabu, (20/08).
Hasil audiensi kedua pihak sepakat bahwa Menwa akan melakukan klarifikasi dan permohonan maaf secara langsung di depan maba FISH saat PKKMB Fakultas. Permintaan maaf tersebut nantinya juga direkam dan diposting di akun masing-masing pihak.
Reporter/penulis: Safira Irawati
Editor: Zidnan Nuuro

