Belakangan ini, gim video bertajuk TheoTown ramai dimainkan, termasuk oleh warganet Indonesia. Gim yang dikembangkan oleh Philip Kohl dan Fabian I. Miltenberger ini menghadirkan simulasi pembangunan kota yang memberikan pemain peran sebagai wali kota dengan kewenangan penuh mengatur kotanya sendiri.

Salah satu daya tarik TheoTown adalah fitur plugin yang memungkinkan pemain mengunduh bangunan nyata, seperti Statue of Liberty dan Monumen Nasional. Fitur ini membuat simulasi terasa lebih riil sekaligus membuka ruang kreativitas.

Baca juga: Bayang-Bayang Krisis Air di Balik Eksploitasi Karst Pangkalan

TheoTown ini memiliki beberapa parameter guna meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan warga. Parameter inilah yang menjadikan TheoTown sebagai gim simulasi tata kelola negara yang semi-kompleks.

Parameter yang paling menentukan kebahagian serta kesejahteraan warga adalah terpenuhinya nilai-nilai kota. Nilai-nilai tersebut mencakup kemerataan sektor strategis seperti polisi dan pemadam kebakaran, tersedianya pendidikan yang inklusif, hingga tingkat kesesuaian pajak.

Permintaan akan zona perumahan, komersil, serta industri juga mempengaruhi pertambahan atau penurunan penduduk yang tinggal. Zona-zona tersebut juga dibagi atas kelas sosial yaitu masyarakat miskin, menengah, dan kaya. Kelas-kelas tersebut dapat meningkat seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan di kota yang dibangun.

Iklan

Lebih lanjut, TheoTown menerapkan logika sebab-akibat dalam setiap kebijakan pembangunan. Misalnya, ketika jalan yang sempit dipergunakan untuk menghubungkan zona perumahan dan zona strategis maka akan menimbulkan kemacetan.

Dalam gim ini, setiap kebijakan memiliki konsekuensi langsung terhadap tingkat kebahagiaan warga. Pemain tidak bisa sembarangan memperluas industri tanpa memperhatikan permintaan hunian, tidak bisa mengembangkan wilayah tanpa jaringan jalan dan air, serta harus mempertimbangkan dampak polusi dan sanitasi. Dengan kata lain, keberhasilan kota tidak diukur dari banyaknya pabrik atau megahnya bangunan, melainkan dari persentase kebahagiaan masyarakat.

Di sinilah TheoTown hadir sebagai cermin yang menarik. Sebagai gim simulasi pembangunan kota, mekaniknya membuktikan secara gamblang bahwa setiap kebijakan tata ruang memiliki konsekuensi langsung terhadap kesejahteraan warga.

​Logika simulasi inilah yang kemudian digunakan para pemain untuk memotret realitas tata kelola di Indonesia. TheoTown beralih fungsi dari sekadar hobi menjadi media cibiran visual terhadap pemerintah. Melalui kreasi kota yang sengaja dibuat pincang, para pemain seolah ingin menyampaikan “Beginilah buruknya dampak pembangunan kalian yang jelek.”

Momentum ini mencapai puncaknya saat fenomena TheoTown viral melalui parodi demonstrasi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Praktik tersebut bukan sekadar iseng, melainkan representasi simbolis dari gejolak situasi sosial politik Indonesia yang saat itu dipenuhi gelombang protes.

​Gelombang ekspresi ini lantas meluas ke isu-isu yang lebih sistemik. Para pemain mulai menggunakan TheoTown untuk menyuarakan keresahan ekologis dan struktural. Ada yang membangun kawasan sawit secara masif untuk menyindir bencana ekologis di Sumatera, hingga rekonstruksi tata kota yang semrawut sebagai kritik atas kemacetan.

Berbagai aksi kreatif para pemain ini menunjukkan bahwa diluar gim simulasi, TheoTown telah bertransformasi menjadi ruang protes digital. Dengan merekonstruksi kegagalan tata kota, para pemain sebenarnya sedang melakukan dekonstruksi terhadap janji-janji manis pembangunan yang seringkali abai terhadap realitas sosial.

Untuk membedah mengapa praktik simulasi ini valid sebagai bentuk kritik pembangunan, kita perlu meninjaunya melalui perspektif Amartya Sen. Dalam bukunya Poverty and Famines-An Essay on Entitlement and Deprivation, ia menekankan pentingnya entitlement (hak akses) dalam melihat kemiskinan dan pembangunan. Sen juga mengkritik pandangan tradisional tentang pembangunan yang dilihat dari faktor fisik seperti perkembangan teknologi dan manufaktur.

Melalui Capability Approach, Sen berargumen bahwa tujuan utama pembangunan adalah memperoleh kebebasan riil individu untuk menjalani kehidupan yang mereka nilai berharga. Artinya, pembangunan tidak cukup diukur dari infrastruktur megah, tetapi dari akses terhadap kesehatan, pendidikan, partisipasi politik, dan keamanan sosial.

Sen juga menjelaskan konsep deprivasi kapabilitas, yakni kondisi ketika individu kehilangan kebebasan untuk memilih dan menjalani kehidupan yang bermakna. Menurut sen, pembangunan infrastruktur tidak sama dengan pembangunan manusia. Pembangunan infrastruktur yang masif tanpa turut melakukan perluasan kapabilitas hanya akan menghasilkan kemiskinan menahun dan konflik antar-kelas.

Iklan

Orientasi pembangunan di Indonesia saat ini kerap ditampilkan melalui proyek-proyek besar seperti Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dan Ibu Kota Nusantara (IKN). Proyek-proyek tersebut memang merepresentasikan modernitas, tetapi perdebatan muncul ketika manfaatnya tidak dirasakan merata atau justru menimbulkan beban sosial-ekonomi baru

Selain itu, pembangunan kerap dijalankan tanpa sepenuhnya berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan yang dilakukan hanya sebatas perhitungan profit dan nihil usaha dalam menaikkan kualitas sumber daya manusia.

TheoTown pada akhirnya memperlihatkan bagaimana sebuah gim simulasi mampu menggambarkan prinsip dasar tata kelola yang rasional. Dimana pembangunan harus mempertimbangkan dampak sosial, distribusi manfaat, dan kebahagian warga. Ironisnya, dalam praktik nyata, pemerintah bahkan tidak mampu mempertimbangkan logika sebab-akibat sesederhana yang ditawarkan gim tersebut.

Baca juga: Demikianlah Nasib

Pemerintah seharusnya peka bahwa program pembangunan yang ditawarkan masih belum sepenuhnya berorientasi pada kebutuhan rakyat. Para pemangku jabatan mestinya mampu mempertimbangkan pemerataan akses terhadap layanan dasar. Keterbukaan ruang dialog publik menjadi aspek penting dalam mewujudkan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat Indonesia.

Para pemangku kebijakan juga seharusnya fokus pada memperbaiki program yang vital seperti pendidikan serta kesehatan. Pada kenyataannya, mereka justru membuat program yang menambah beban negara tetapi kesejahteraan masyarakat bahkan tidak terasa sama sekali.

Penulis: Muhammad Rasha Putra
Editor: Khalda Syifa