Fight Inequality Alliance (FIA) Indonesia menggelar kegiatan Jagongan Nasional, pada Sabtu (11/10) di Kampung Susun Bayam, Jakarta Utara. Kegiatan ini menjadi wadah konsolidasi bagi warga dan jaringan lintas sektor untuk merumuskan strategi advokasi serta mendorong kebijakan yang adil bagi rakyat dan lingkungan.

Koordinator kampanye FIA, Hafla Leste (28) mengungkapkan Jagongan Nasional diselenggarakan sebagai respon terhadap penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang akan berlangsung di Afrika Selatan. Menurutnya, G20 berperan dalam mengglobalisasi ketimpangan, dengan menjadi pusat produksi berbagai kebijakan pembangunan yang justru membebani masyarakat.

Baca juga:  Paradoks Hilirisasi: Kedok Pembangunan dan Kesengsaraan Rakyat

“Wujud dari ketimpangan ini bermacam-macam. Dalam konteks penggusuran, kita bisa melihat bagaimana masyarakat Kampung Bayam tergusur karena pembangunan stadion bertaraf internasional yang digadang-gadang oleh pemerintah,” ungkap Hafla.

Oleh karena itu, ucapnya, kegiatan Jagongan Nasional ini menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai komunitas dan kelompok masyarakat terdampak dari berbagai daerah. FIA berharap masyarakat memiliki wadah bersama untuk bertemu, berbagi kisah, dan saling menginspirasi dalam perjuangan mereka masing-masing.

“Semoga pertemuan ini dapat menumbuhkan gelombang perjuangan yang lebih besar dan solid dalam mewujudkan keadilan bagi rakyat dan lingkungan. Setiap cerita yang dibagikan semoga menjadi penguat dan inspirasi bagi gerakan lainnya,” pungkasnya.

Iklan

Seorang ibu rumah tangga, Rahmayati (60) bersama paguyubannya hadir karena mengalami ketimpangan yang sama. Setelah tempat tinggalnya digusur dan dijanjikan tempat hunian di Rusun Mulya Jaya, Jakarta Timur, ia mengaku masih menghadapi berbagai permasalahan.

“Saya dengan warga lainnya diminta untuk meninggalkan rusun pada akhir tahun nanti. Saya bingung harus ke mana karna saya pun tidak memiliki tempat tinggal maupun pekerjaan tetap,” ucap Rahmayati.

Melalui kegiatan ini, Rahmayati mengaku lega dapat mengungkapkan sekaligus mendiskusikan keresahannya. Ia menyatakan, dirinya memiliki harapan yang sama dengan warga lain yang mengalami hal serupa.

“Saya berharap negara dapat segera memberikan kepastian terhadap hak yang kami minta. Semoga saya dan orang-orang di sini segera mendapatkan tempat tinggal yang layak dan tidak bersifat sementara,” tutupnya.

Senada, nelayan asal Semarang, Fachan Kharis (27), mengaku kegiatan Jagongan Nasional sangat bermanfaat baginya. Ia mendapatkan banyak kenalan baru yang memiliki nasib dan tuntutan serupa, sehingga tumbuh rasa solidaritas antarwarga dari berbagai daerah yang mengalami penggusuran.

“Saya merasa senang bisa bertemu kawan-kawan lain dan berbincang mengenai masalah-masalah yang ada. Dari situ, kami sama-sama bisa mendiskusikan upaya yang bisa dilakukan” tutur Kharis.

Baca juga: AS-Tiongkok dan Operasi Culas “Perdamaian Dunia”

Kharis berharap kegiatan yang diadakan FIA Indonesia ini dapat menyampaikan suara atas dirinya serta warga lain yang mengalami nasib serupa. Ia menegaskan bahwa tuntutan mereka hanya ingin memperoleh hak hidup yang layak sebagai warga negara.

Di penghujung acara, FIA membersamai warga dan elemen masyarakat lainnya untuk menyampaikan pernyataan sikap atas meningkatnya ketimpangan sosial dan penggusuran rakyat kecil. Mereka menuntut agar negara memberhentikan proyek yang merampas ruang hidup, pemenuhan hak atas tanah dan tempat tinggal layak, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Penulis/reporter: Cheryl Azrifa Abduh & Nailla

Iklan

Editor: Shari Angelica N.