“Kata siapa sudah merdeka?”

Begitu ucapan viral seorang tukang cukur bernama Nurhidayat di Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor pada Jumat (07/08). Perkataan tersebut muncul ketika petugas kecamatan memarahi Nurhidayat lantaran dirinya tidak mengibarkan bendera merah putih. Berdalih Indonesia telah merdeka, petugas kecamatan yang penuh amarah tersebut mempertanyakan alasan Nurhidayat tidak mengibarkan bendera. Dengan suara lirih, Nurhidayat menyatakan, “Belum (merdeka).”

Akan tetapi, sebagaimana kerap terjadi kepada rakyat kecil yang berseberangan dengan penguasa, Nurhidayat kemudian membuat video klarifikasi terkait persoalan tersebut. Sambil memegang bendera merah putih, Nurhidayat meminta maaf kepada publik karena mengatakan Indonesia belum merdeka. Berbeda dari sebelumnya, Nurhidayat menegaskan Indonesia telah merdeka.

Baca jugaKawal Putusan MK: Pisahkan MBG dari Anggaran Pendidikan Secepatnya 

Beberapa hari setelah itu, kasus keengganan masyarakat terhadap pengibaran bendera merah putih juga muncul di Aceh. Lebih pelik, banyak masyarakat Aceh menurunkan bendera merah putih di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh pada (15/08). Ramai-ramai mereka mengibarkan bendera bulan bintang yang identik dengan simbol Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan seruan kemerdekaan Aceh dari Indonesia bergema.

Hal tersebut memicu reaksi tindakan represif dari aparat kepolisian dan tentara. Beberapa kali aparat menembak ke udara dan gas air mata dipakai untuk membubarkan massa aksi. Tidak hanya itu, selongsong peluru tajam ditemukan berserakan setelah aparat melepaskan tembakan peringatan.

Iklan

Nuansa ironi kental terdapat kepada dua kasus tersebut. Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia, justru hadir gejala rakyat yang bersikap sinis atas peringatan kemerdekaan tersebut. Mereka tidak merasa merdeka. Bahkan, tidak sedikit orang ingin merdeka dengan cara melepaskan diri dari Republik Indonesia.

Keadaan di atas sangat kontras terjadi kala masa awal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dalam bukunya berjudul Sumatera: Revolusi dan Elite Tradisional, Anthony Reid menggambarkan gelora nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia yang membumbung tinggi dirasakan rakyat Sumatera, tepatnya di Aceh dan Sumatera Timur—kini disebut Sumatra Utara. Selepas 17 Agustus 1945, kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia bergulir di Sumatera lewat omongan mulut ke mulut maupun bacaan surat kabar. Segera euforia kemerdekaan memuncak di kalangan rakyat yang telah lama merasakan penderitaan di bawah sistem kolonialisme.

Di tengah struktur Republik Indonesia yang belum mapan, rakyat Sumatera langsung berinisiatif sendiri memperjuangkan kemerdekan Indonesia. Walaupun Sekutu datang dan Belanda hendak kembali menjajah Indonesia, para kaum revolusioner tidak takut mengibarkan bendera merah putih di ruang-ruang publik dan mendirikan berbagai organisasi militer untuk mempertahankan kemerdekaan.

Peperangan demi peperangan dilakukan rakyat Sumatera kepada orang Eropa. Tidak hanya memerangi bangsa asing, kaum revolusioner juga menyerang bangsa sendiri yang mengkhianati cita-cita kemerdekaan. Kebanyakan dari mereka adalah kaum bangsawan yang merasa mendapat sederet keuntungan secara ekonomi-politik ketika sistem kolonialisme masih berjalan. Mereka tidak sudi mengibarkan bendera merah putih dan malah bersekutu dengan Belanda. Maka, gelora revolusi menyapu sebagian besar kerajaan dan struktur feodal lainnya di Sumatera.

Fenomena Revolusi Sumatera menunjukkan perwujudan gamblang konsep imagined communities yang dicetuskan Benedict Anderson. Anderson melihat bangsa sebagai suatu komunitas politik imajiner. Kaum bumiputra di Sumatera pastinya tidak mengenal seluruh masyarakat satu sama lain, tetapi mereka membayangkan diri sebagai suatu komunitas bersama, yakni bangsa Indonesia. Imajinasi itu diracik oleh bacaan yang sama, bahasa yang sama, dan pengalaman penjajahan yang sama.

Bergulir di tengah-tengah masyarakat, imajinasi kebangsaan itu terus berkembang. Lebih dari itu, imajinasi nasionalisme kaum bumiputra di Sumatera kemudian mewujud menjadi perlawanan besar-besaran atas penjajah dan para pengkhianat saat masa Revolusi Kemerdekaan. Sebab seperti ditekankan Anderson, bangsa dibayangkan sebagai sesuatu yang berdaulat. Oleh karenanya, Anthony Reid berkata mengenai Revolusi Sumatera, “hanya satu idealisme yang tetap mantap berdiri, yaitu Indonesia yang merdeka, bersatu dan berkuasa menentukan nasibnya sendiri.”

Namun, alih-alih timbul secara organik dari bawah seperti terjadi di Revolusi Sumatra, proses pembentukan imajinasi nasionalisme Indonesia hari ini cenderung sangat dipaksakan oleh negara, atau yang disebut Benedict Anderson sebagai nasionalisme resmi. Nasionalisme tersebut dipakai oleh kelompok penguasa untuk menguntungkan kepentingannya, sekaligus mencegah munculnya imajinasi kebangsaan ataupun kemerdekaan yang berseberangan dengan mereka.

Berangkat dari kasus kasus tukang cukur dan masyarakat Aceh di atas, Pemerintah Indonesia lewat kepanjangan aparatnya melakukan tindakan represif khas nasionalisme resmi. Negara mengintimidasi warga untuk mengibarkan bendera merah putih. Negara meneror masyarakat yang menurunkan bendera merah putih dan ingin merdeka dari Indonesia. Segala cara dilakukan penguasa demi memberangus gejala imajinasi kebangsaan ataupun kemerdekaan yang berseberangan dengan mereka.

Pengimajinasian Ulang Kebangsaan dan Kemerdekaan

Yang penting untuk ditelisik lebih dalam adalah mengapa muncul gejala perbedaan imajinasi kebangsaan dan kemerdekaan antara pemerintah dengan rakyat. Jika dibaca secara seksama realitas Indonesia, jawaban utamanya adalah penindasan dan ketidakadilan yang dialami rakyat.

Perekonomian rakyat amat memburuk. Sepanjang bulan Januari sampai Juli 2026 saja, hampir 50 ribu pekerja terdampak PHK. Sementara itu, nyaris 60 persen pekerja Indonesia berada di sektor informal yang penuh akan kerentanan. Di tengah situasi itu, rakyat masih dihadapkan dengan kenaikan harga BBM dan bahan pokok, serta anjloknya nilai rupiah. Ujung-ujungnya daya beli masyarakat menurun.

Iklan

Tambah runyam, demi membiayai program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), pemerintah pusat memangkas dana transfer ke daerah (TKD) hingga Rp 269 triliun. Pemangkasan itu membuat pembangunan di daerah tersendat. Tidak hanya itu, sebanyak 75 persen pemerintah daerah kesulitan membayar gaji pegawai imbas pemangkasan TKD tersebut.

Berkebalikan dengan rakyat, Prabowo-Gibran bersama kroni-kroninya tampak bersenang-senang. Mereka yang biasa disebut oligarki ini menjulang kekayaan karena terlibat dalam berbagai proyek anggaran fantastis macam MBG dan KDMP. Mereka juga mendominasi perekonomian ekstraktif yang menghasilkan banyak keuntungan.

Dari sederet penindasan maupun ketidakadilan barusan, banyak rakyat yang kemudian menyatakan diri mereka tidak merdeka. Rakyat merasa negara hadir hanya demi melayani kepentingan para oligarki yang terus menari-nari di atas penderitaan mereka.

Imajinasi-imajinasi itu mengalir lebih deras di daerah seperti Aceh yang mempunyai riwayat panjang pemberontakan terhadap Republik Indonesia. Apalagi, dengan sumber daya alam Aceh yang banyak menopang perekonomian nasional, timbal balik yang dikucurkan pemerintah pusat berupa TKD kepada daerah tersebut malah menurun drastis. Alhasil, semakin banyak orang Aceh merasa bukan bangsa Indonesia, mereka justru membayangkan diri sebagai bangsa Aceh yang tengah terjajah oleh Negara Indonesia.

Merespons persoalan dengan tindakan represif khas nasionalisme resmi, pemerintah justru membuat amarah rakyat kian membara. Intimidasi dan kekerasan memperbesar pengalaman kolektif ketertindasan rakyat oleh para oligarki. Hal ini dapat berujung pertentangan antara oligarki dan rakyat yang sulit untuk dipadamkan.

Baca jugaPLTS Dikelola KDMP: Lagu Lama Ketidakadilan Energi Desa

Jika keadaan hidup rakyat tidak diperbaiki dan pendekatan represif khas nasionalisme resmi terus dilakukan, maka jangan heran perbedaan imajinasi kebangsaan maupun kemerdekaan antara pemerintah dengan rakyat akan semakin meluas. Ada yang mengimajinasikan Indonesia merdeka dari para oligarki. Ada mengimajinasikan merdeka dari Negara Indonesia dan mendirikan negara bangsa baru. Atau ada yang sesimpel mengimajinasikan kabur aja dulu.

Namun, terlepas berbagai perbedaan imajinasi tersebut, bergulir dari bawah, imajinasi-imajinasi rakyat akan terus menyebar dan mempertajam konflik dengan penguasa. Akhirnya, imajinasi rakyat dapat mewujud menjadi perlawanan besar-besaran kepada para penguasa, sebagaimana Revolusi Sumatera yang memberangus kaum bangsawan dan penjajah. Akan tetapi, tidak ada yang tahu pasti ke depan akan seperti apa. Hanya waktu dan imajinasi ataupun amarah rakyat yang bisa menjawabnya.