Judul film: Budi Pekerti 

Sutradara: Wregas Bhanuteja 

Tanggal Tayang: 9 September 2023

Rumah Produksi : Rekata Studio, Kaninga Pictures 

Durasi film: 1 jam 10 menit

Slogan “Pahlawan Tanpa tanda Jasa” melekat pada pekerjaan guru, sebagai bentuk penghormatan dan keagungan. Dalam penafsirannya, seorang guru seperti dituntut sempurna, tidak boleh keliru. Sebab menjadi guru juga bermakna “Digugu dan Ditiru” setiap perbuatannya. 

Iklan

Meski dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan akan profesi guru, perlahan slogan tersebut berubah menjadi perangkap sosial. Sedikit kesalahan, akan dianggap tidak mencerminkan citra sebagai guru untuk selamanya. 

Seperti yang menimpa anggota band Sukatani, salah satu anggotanya adalah Twister Angel yang juga seorang guru seni. Ia dipecat oleh Yayasan Al Madani, tempatnya bekerja setelah lagu band Sukatani berjudul “Bayar Bayar Bayar” viral, lagu tersebut berisi kritikan pada kepolisian. Pihak Yayasan berdalih, pekerjaan sampingan sebagai anggota band tidak sesuai kode etik yayasan. Dalam kasus-kasus nyata, reputasi seorang guru bisa hancur karena melakukan kesalahan atau tindakannya dianggap tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat. Terdapat ekspektasi yang dibebankan pada guru, dan ketika itu tidak terpenuhi maka langsung dianggap tidak layak lagi menjadi guru.

Guru, yang selama ini dijunjung ternyata lebih mudah dikorbankan demi ekspektasi sosial yang tinggi. Ini adalah realitas brutal dari zaman di mana kehormatan dan dedikasi dibangun perlahan tapi dihancurkan seketika.

Baca juga: Pelanggengan Kekerasan Simbolik melalui Institusi Pendidikan

Selaras dengan pemikiran Pakar Pendidikan asal Boston College, Andy Hargreaves, melalui teorinya di dalam buku Teaching in the Knowledge Society (2003) tentang emotional labor dalam profesi guru. Hargreaves menekankan bahwa menjadi guru bukan berarti menjadi makhluk sempurna.

Menurutnya, guru harus mengelola tuntutan emosional besar, bukan hanya mengajar tetapi juga menjadi penyabar, pengayom, teladan sambil mengorbankan banyak emosi pribadi. Ini pekerjaan berat yang tak kasat mata.

Hargreaves juga melihat guru diharapkan selalu menjadi panutan tanpa diberi ruang untuk bersalah, kecewa, atau marah. Akibatnya, guru seringkali menjadi korban utama ketika ada ketidakpuasan sosial, padahal mereka juga manusia dengan hak yang sama untuk berbuat salah dan memperbaiki diri.

Hargreaves percaya, bahwa kesejahteraan emosional guru bukan hanya mempengaruhi individu guru namun masa depan pendidikan murid. Bukan menjadikan guru sebagai kambing hitam atas kegagalan pendidikan atau moralitas sosial, padahal ada sistem yang lebih besar yang bertanggung jawab. 

Harus Berbudi Pekerti

Film Budi Pekerti adalah refleksi tajam dari kondisi ini. Tokohnya, Bu Prani seorang Guru Bimbingan Konseling yang dikenal berdedikasi, mendadak menjadi sasaran kebencian massal setelah video perselisihan kecil di pasar tersebar tanpa konteks. Dalam video tersebut, Bu Prani tampak berselisih dengan seorang pedagang. Video tersebar dan publik tanpa mengetahui duduk perkara langsung melabelinya sebagai arogan, tidak layak mengajar, bahkan menjadi ancaman moral bagi anak-anak.

Iklan

Lebih tragis, lembaga tempat Bu Prani bekerja tidak menunjukkan keberpihakan. Ketika tekanan sosial membesar, sekolah lebih memilih menyelamatkan citra institusi ketimbang membela kebenaran atau memfasilitasi klarifikasi. 

Bu Prani akhirnya dipaksa mundur, seolah-olah kesalahannya sudah menjadi fakta yang tak perlu diuji kembali. Ini bukan hanya kisah tentang cyberbullying; ini adalah potret bagaimana sistem pendidikan kita sendiri dengan mudah melepaskan tanggung jawab terhadap guru begitu reputasi mereka sedikit saja tercoreng.

Melalui karakter Bu Prani, film ini mempertanyakan: seberapa besar harga kemanusiaan seorang guru dihadapan opini publik? Seberapa cepat kita melupakan dedikasi panjang mereka, hanya karena satu momen yang direkam dari sudut pandang yang salah?

Budi Pekerti adalah film yang berbicara keras tentang luka sosial yang jarang disorot dalam dunia pendidikan kita. Dengan pendekatan visual sederhana namun efektif, warna kuning dan biru menyorot atmosfer sosial media yang dingin dan penuh prasangka. Film ini menggambarkan kehancuran pribadi Bu Prani secara perlahan namun pasti.

Bu Prani, menampilkan keputusasaan, kemarahan terpendam, dan rasa kehilangan martabat dengan sangat manusiawi. Film ini tidak berusaha mengkultuskan sosok guru; justru sebaliknya, ia ingin mengingatkan bahwa guru adalah manusia biasa yang juga berhak melakukan kesalahan dan mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan.

Budi Pekerti terasa begitu mengena karena keputusannya untuk tidak menawarkan resolusi manis. Tidak ada keajaiban yang membalikkan nasib Bu Prani. Tidak ada pembalasan yang heroik terhadap netizen atau institusi yang mengkhianatinya.

Baca juga: Harapan Semu Indonesia Emas 2045 melalui Makan Bergizi Gratis

Justru menampilkan kenyataan pahit. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh prasangka, korban sering kali harus memikul sendiri beban kesalahan yang bahkan bukan sepenuhnya miliknya.

Pada akhirnya, Budi Pekerti bukan sekadar cerita tentang satu guru yang menjadi korban. Ini adalah tamparan keras terhadap kita semua yang terlalu cepat menghakimi dan masyarakat pun terkadang terlalu mudah melupakan bahwa guru, sekeras apapun tuntutan sosial terhadapnya. Tetaplah manusia yang layak dihargai, dihormati, dan dibela, bukan hanya ketika mereka berhasil menjaga citra, tetapi juga ketika mereka terjatuh.

Penulis: Hanum

Editor: Zahra Pramuningtyas

*. Tulisan ini adalah bagian dari Terbitan Zine Hari Pendidikan Nasional 2025