Pemerintah bersama musisi-musisi tanah air, bekerja sama dalam upaya menumbuhkan kembali nilai-nilai kebangsaan yang hilang melalui musik.

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Universitas Negeri Jakarta, menyelenggarakan acara “Bedah Musik Kebangsaan” pada Selasa, (10/10/2022). Acara yang berlokasi di Aula Bung Hatta, Universitas Negeri Jakarta tersebut digelar dalam rangka mensosialisasikan nilai-nilai pancasila melalui lagu-lagu kebangsaan oleh BPIP.

Komarudin, selaku Rektor UNJ dalam sambutannya mengatakan bahwa sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama untuk mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila. Ia mengingatkan sedikit mengenai masa awal Reformasi, ketika diksi Pancasila sangat jarang terdengar di masyarakat pada saat itu.

“Akibatnya, hari ini nilai-nilai itu (Pancasila) terasa hilang, menjadi masa-masa yang genting untuk mengembalikan dan menjaga nilai pancasila agar terus terpelihara,” ujarnya.

Sikap optimis juga ditunjukkan oleh Kepala Biro Perencanaan Keuangan BPIP, Tonny Agung Arifianto. Dalam sambutannya, ia bercerita bahwa banyak keresahan yang didengarnya dari para musisi mengenai nasib bangsa. Tonny juga mengaku banyak mendapatkan gagasan-gagasan dari para musisi terkait menumbuhkan rasa nasionalisme kepada masyarakat hari ini.

“Melalui musik, semangat serta nilai-nilai kebangsaan yang hari ini mulai pudar, bisa terjaga dan menguat kembali,” ungkapnya.

Iklan

Ahmad Doli Kurnia, selaku Ketua Komisi II DPR RI, menyebut bahwa pendekatan melalui musik adalah salah satu cara yang efektif untuk menumbuhkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda. Baginya, musik menjadi karya seni yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Pria yang biasa disapa ADK tersebut, mencoba membedah lagu ciptaan Raden Soerarjo, yaitu Dari Sabang Sampai Merauke. Ia memaparkan bahwa lagu yang sebelumnya berjudul Dari Barat Sampai ke Timur tersebut, merupakan bentuk ekspresi Soerarjo mengenai Indonesia yang begitu luas, terdiri dari ribuan pulau, suku, dan bahasa.

“Soerarjo adalah bukan sekedar musisi, ia adalah seorang yang kritis terhadap lingkungannya,” ungkap ADK.

ADK menambahkan, meskipun terdapat ragam perbedaan yang ada dari wilayah barat hingga timur, ia yakin bahwa Soerarjo menganggap kita masih bisa bersatu menjadi sebuah bangsa bernama Indonesia. Menurut ADK, Soerarjo pada bait terakhir lagunya mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk berkomitmen dalam mencintai tanah air.

Dalam diskusi bedah musik tersebut. Pay Burman, selaku Produser Musik dari Rumah Nyanyian Indonesia, mengatakan musik bisa digunakan untuk mengatur emosi dan menjadi alat propaganda. Hal itu ia buktikan dengan bukti sejarah masyarakat Indonesia pada era kolonial, musik-musik dan lagu pada saat itu banyak digunakan untuk menumbuhkan semangat kemerdekaan.

“Terbukti saat Belanda melarang lagu Indonesia Raya dinyanyikan, itu merupakan fakta bahwa musik punya kekuatan yang sangat besar,” tegasnya.

Muhammad Omar Syarif, Wakil Ketua Umum Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), turut menyumbang pendapatnya. Omar berharap melalui musik, Pancasila bisa lebih membumi dan tersampaikan kepada generasi hari ini dan yang akan datang. Sebab, sudah jarang ada musik yang benar-benar bisa dinikmati, terutama dalam hal kebangsaan.

“Saya harap, anak muda hari ini bisa menularkan semangat kebangsaan melalui musik di kemudian hari,” tutupnya.

Penulis: Ezra Hanif
Editor: Zahra Pramuningtyas