Judul film : 1987 (When The Days Come)
Tahun Rilis : 2018
Durasi Film : 2 jam 9 menit
Sutradara : Jang Jhoon Hwan
Genre : Thriller Politik
Sejarah kelam Korea Selatan, diwarnai oleh pemerintahan demokratis secara otokratis bergantian, hal ini menggambarkan perjuangan untuk menjaga hak demokrasi. Dari demo mahasiswa pada 1960 hingga tragedi kematian Park Jeong-Cheol pada 1987, film “1987: When The Day Comes”, membongkar kekejaman rezim otokratis yang mempertahankan kekuasaan dengan segala cara.
Film ini menggambarkan pergerakan demokrasi yang mencetuskan protes massal, memaksa Presiden Chun Doo-Hwan mundur. Kekerasan terhadap aktivis pro-demokrasi, seperti Park Jeong Cheol, mengguncang publik dan memicu gelombang kemarahan. Demonstrasi besar-besaran menuntut perubahan konstitusional, akhirnya menghasilkan pemilihan umum presiden pada 25 Februari 1988.
Untuk itu, pemerintah gencar memberantas kelompok pro demokrasi Kim Jeong-Nam yang anti terhadap pemerintahan Chun Doo-Hwan, dengan dalih mereka merupakan kelompok pro-komunis. Salah satunya adalah Park Jeong Cheol, seorang aktivis muda pro-demokrasi. Ia ditangkap, karena diduga menjadi sumber keresahan dari pemerintahan Presiden Chun Doo-hwan. Jung Cheol, dibunuh oleh kelima detektif suruhan anti komunis yang dipimpin oleh Direktur Park Chae-Won.
Berita tewasnya Park Jeong-Cheol saat diinterogasi sampai di telinga para jurnalis. Mereka segera mengkonfirmasinya kepada Dewan Keamanan Korea Selatan, tetapi fakta bahwa seorang mahasiswa berusia 21 tahun mengalami serangan jantung karena terkejut tidak memuaskan mereka, ditambah pihak keluarga yang menyaksikan autopsi menyatakan bahwa Park Jeong-Cheol disiksa oleh polisi yang menginterogasinya.
Pada akhirnya, kronologis dari kematian Park Jeong Cheol terkuak dan memicu kemarahan publik. Mereka bergerak bersama dengan menyerukan keinginan dengan keberanian, “Hancurkan diktator, tegakkan demokrasi.” Demonstrasi besar-besaran ini menuntut Presiden Chun Doo-Hwan mundur dari jabatannya dan juga menuntut perubahan konstitusional mengenai pemilihan langsung presiden menjadi pemilihan umum yang pada akhirnya disahkan tanggal 25 Februari 1988.
Baca juga: Lupa akan Tridarma
Rezim Penguasa dan Kecacatan Demokrasi
Dalam panggung politik berhiaskan pisau tajam, tantangan-tantangan terus berkembang dan perlu tindakan tegas untuk menghentikannya. Politik, seringkali menjadi kejutan yang muncul dari kepentingan individualis, memperlihatkan pola mempertahankan kekuasaan, melanjutkan kesengsaraan dan berpura-pura memperhatikan prinsip demokrasi.
Demokrasi, sebagai sistem pemerintahan yang memberikan hak dan kesempatan setara kepada semua warga negara dan mengalami kompleksitas. Dalam sejarahnya, pergeseran antara hukum, kekuasaan, dan demokrasi seringkali tidak sejalan. Seperti yang dinyatakan oleh Plato, kepentingan pribadi dan golongan terkadang mengakibatkan tirani hukum dan kekuasaan, merusak esensi demokrasi.
Demokrasi yang pertama kali dipraktikkan pada masa yunani kuno adalah demokrasi langsung (direct democracy), artinya hak rakyat untuk membuat keputusan-keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh rakyat atau warga negara.
Namun terkadang hukum, kekuasaan dan demokrasi tidak berjalan beriringan. Bahkan tidak jarang atas nama kepentingan pribadi dan golongan terjadi tirani hukum, kekuasaan dan demokrasi. Seperti yang dibicarakan Plato, bahwa ia tidak mengamini seorang pemimpin ‘bodoh’ untuk membersamai rakyat. Karena, hal itu dapat menyebabkan cacatnya demokrasi.
Di Negara demokrasi setiap orang berhak dan memiliki kebebasan dalam melakukan apa yang dikehendakinya. Bila kekuatan saling mengkritik tanpa adanya kontrol pemerintah, maka akan menimbulkan kekacauan sosial dan pergolakan dalam negeri.
Di Indonesia, masa kepemimpinan Soeharto membawa negara ke krisis nasional. Penyelewengan dengan menerapkan demokrasi sentralistik, di mana kekuasaan terpusat pada pemerintah, menciptakan ketidakmerataan pembangunan dan budaya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Eksekutif yang menjadi penguasa tunggal tanpa pengawasan efektif merugikan banyak rakyat.
Beberapa waktu belakangan ini, bentuk negara demokrasi kerap kali digunakan oleh beberapa oknum untuk membelokkan tujuan negara demokrasi yang mengarah pada kesejahteraan bersama (bonum commune) pada tujuan untuk kesejahteraan pribadi. Demokrasi yang katanya mengimpikan satu bentuk keutuhan negara, ternyata hanya dalih dalam semata.
Dari dalam negeri, timbul gerakan massa yang dimotori oleh mahasiswa turun ke jalan menuntut Soeharto lengser dari jabatannya. Berbagai kerusuhan mulai terjadi, sebagai bagian dari gerakan reformasi 1998, akibat krisis ekonomi, politik, hukum, keamanan, sosial-budaya, dan krisis kepercayaan di Indonesia.
12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti menjadi korban peluru tajam dalam aksi damai yang mereka ikuti. Tragedi tersebut menyulut protes massa dalam skala besar yang dimotori oleh mahasiswa, serta serangkaian kerusuhan di beberapa daerah.
Tekanan dari ribuan mahasiswa yang berhasil menduduki Gedung MPR/DPR pada 21 Mei 1998 membuat Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan Presiden RI dan digantikan oleh Wakil Presiden BJ Habibie.
Politik perebutan dan dominasi kekuasaan di berbagai negara sangat mungkin bisa terjadi, demokrasi yang seharusnya menjadi prinsip utama dalam pengambilan keputusan juga bisa saja dimanipulasi. Pada prinsipnya, demokrasi ada untuk memenuhi hak konstitusional masyarakat.
Demokrasi menjadi pilihan sistem pemerintahan yang baik, jika dapat dikelola oleh pemimpin yang memahami peran-peran penting dalam sebuah pemilihan, hal ini dapat mengakomodasi beragamnya kepentingan dan aspirasi masyarakat.
Berbagai peristiwa ini menyoroti kompleksitas demokrasi dan tantangannya. Film “1987: When The Day Comes” di Korea, meskipun mengangkat tema demokratis, juga menunjukkan risiko otokrasi. Alur ceritanya yang cepat, meski menggambarkan berbagai peristiwa, dapat mengejutkan penonton dengan kompleksitasnya. Keberlanjutan dan penyalahgunaan kekuasaan dalam politik menjadi peringatan penting tentang pentingnya menjaga integritas demokrasi.
Penulis: Laila Nuraini Fitri
Editor: Asbabur Riyasy

