Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (BEM FBS) menyelenggarakan acara berjudul Sospol Exhibition: Pencerdasan Politik: Kacamata Generasi Muda Dalam Mengulik Tahun Politik pada Selasa (17/10) dan Rabu (18/10) di Gedung Pascasarjana, Aula Hatta Lt.2. Acara tersebut bertujuan untuk membangun kesadaran anak muda di tengah gejolak tahun politik.
Sospol Exhibition mendatangkan tiga bintang tamu, Syifa Sativa, Rocky Gerung, dan ketua BEM UGM 2023, Geilbran Muhammad. Syifa merupakan seorang musisi solo asal Purbalingga. Ia membawakan tiga lagu sebelum akhirnya membedah makna dan lirik dalam karyanya. Salah satunya lagu berjudul Rakyat Gak Butuh Presiden yang diangkat dari kejadian kericuhan bawaslu tahun 2019. Lalu, di hari berikutnya Rocky Gerung dan Gielbran Muhammad hadir untuk menemani mahasiswa UNJ berdiskusi mengenai kesadaran anak muda di tengah gejolak tahun politik.
Selain itu, Syifa juga menjelaskan tentang kebebasan berekspresi bagi para anak muda. Menurutnya, kebebasan itu harus murni dan tidak membuat kita ketakutan. Namun, anak muda juga harus siap bertanggung jawab dengan apa yang mereka suarakan.
Baginya, kebebasan berekspresi sangat penting terutama bagi para musisi. Kebebasan sangat mempengaruhi proses kreatif seorang musisi dalam pembuatan karya.
Menjelang tahun politik, baginya penting bagi anak muda untuk memiliki kesadaran sosial. Kesadaran tersebut dapat ditumbuhkan melalui tongkrongan-tongkrongan. Misalnya, dengan mengobrol santai terkait isu-isu politik saat menongkrong hingga hal tersebut menjadi kebiasaan dalam tongkrongan. Lebih lanjut, kebiasaan itu nantinya akan menumbuhkan kesadaran bersama.
Baca juga: Ribut-Ribut Ukuran Almamater
“Kuncinya ya, bagaimana pas nongkrong itu kita punya sesi untuk ngobrol tentang itu dan itu jadi kultur tongkrongan. Ketika itu diangkat ke tongkrongan, secara otomatis bakal jadi kolektif pemikiran dan melahirkan kecerdasan,” jelasnya.
Sementara itu, Rocky menyatakan bahwa sebagai mahasiswa yang menyaksikan bermacam ketertindasan rakyat perlu adanya suatu tindakan agar mencapai perubahan politik. Maka dari itu, mahasiswa harus mampu membangun kesadaran rakyat mengenai hal-hal yang mesti diperjuangkan. Hal tersebut menurutnya, akan membangkitkan kemarahan publik untuk melakukan suatu perubahan.
“Ucapkan sesuatu yang membuat rakyat bawah itu mengerti bahwa yang kalian perjuangkan itu untuk rakyat,” ujarnya.
Ia juga menyinggung perihal putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terbaru. Menurutnya, putusan MK tersebut merupakan bentuk penghinaan terhadap mahasiswa. Bagi Rocky hal tersebut tidak perlu dipertanyakan lagi, seharusnya ada suatu aksi atau gerakan penolakan terhadap putusan MK tersebut.
“Bagus, keputusan itu menghina kalian semua di sini. Kalian ngapain?,” tegasnya.
Menyambung Rocky, Gielbran menganggap bahwa mahasiswa terlalu memisahkan diri dari rakyat. Hal itu dapat dilihat dari aksi-aksi yang telah terjadi. Mahasiswa cenderung bergerak secara menyendiri dan tidak bergabung dengan rakyat.
Gielbran juga beranggapan realita politik sekarang menjadi suatu tantangan bagi anak muda. Ia melihat bahwa saat ini kita telah kehilangan sifat intelektual. Selain itu, kita selalu dipamerkan drama-drama politik.
“Realita politik yang terjadi menjadi suatu tantangan bagi kita, kita juga kehilangan corak intelektual dan terlalu banyak gimmick yang dipertontonkan,” tegasnya.
Penulis: Chika
Editor: Asbabur Riyasy

