Penjual jamu bukan fantasi televisi. Di balik bakul berat, ada kerja keras dan stigma yang terus dibawa pulang.
Sambil meracik jamu, Sugi (70) mengingat kembali pengalamannya berjualan jamu sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Karena keterbatasan ekonomi, Sugi tidak bisa melanjutkan sekolah dan berakhir mengikuti jejak ibunya menjadi penjual jamu keliling.
“Ibu saya seorang janda, jadi harus berjualan jamu untuk menghidupi keluarga. Awalnya cuma ikut berkeliling saja membantu dan menemani tapi akhirnya diajarkan dari mulai meracik, menakar bahan hingga mengenali pelanggan,” ungkap perempuan yang akrab disapa Mbah Sugi tersebut.
Baca juga: Hiperkapitalisme: Membedah Konsumsi Masif Masyarakat
Meski kini usianya tak muda lagi, Mbah Sugi tetap berkeliling setiap hari membawa botol jamu di punggungnya. Ia mulai berjualan dari sore hingga malam hari, berkilo-kilo meter berjalan kaki untuk menjajakan jamu di sekitar Cengkareng. Meski tubuhnya mulai ringkih dan terkadang kesulitan memikul bebannya berat bakul jamu, semangatnya tidak berkurang.
“Karena masih sehat, saya tetap semangat dan sudah terbiasa selama berpuluh tahun dengan rutinitas yang sama,” ujarnya pada Minggu (3/08).
Asam garam perjalanan sudah dilalui Mbah Sugi selama berjualan jamu, mulai dari menjalin hubungan baik dengan pelanggan setia hingga mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Ia mengaku, ketika usianya masih belia kerap mendapat godaan perlakuan merendahkan dari pelanggannya sendiri.
Dalam ingatannya, godaan sering datang dari pelanggan laki-laki. Mereka kerap kali melontarkan candaan mesum, hingga menyentuh tubuhnya tanpa persetujuan. Tidak jarang juga pelanggan laki-laki meminta Mbah Sugi mengantarkan jamu yang dipesan ke kamar tidur.
“Saya gak paham kenapa mereka (pelanggan laki-laki) sering merendahkan penjual jamu, padahal saya berjualan ya karena tidak mampu bersekolah tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,” ungkapnya dengan kesal.
Tidak ada yang bisa dilakukan Mbah Sugi selain bersabar terhadap pelanggan yang menggodanya. Ia menganggap hal itu sebagai bagian dari keseharian jalanan, ia hanya ingin menjadi perempuan pekerja keras seperti ibunya dulu. Jika ia melawan atau protes akan perlakuan mereka, Mbah Sugi takut pelanggannya akan kabur dan jamunya tidak laku lagi.
Terlebih, Mbah Sugi sering mendengar pelanggannya bercerita tentang penggambaran penjual jamu di televisi adalah perempuan cantik berkebaya ketat dengan suara lemah lembut. Bagi Mbah Sugi yang tidak begitu mengikuti perkembangan teknologi, merasa kaget dan awam akan hal tersebut.
“Banyak yang bilang penjual jamu itu menggoda karena di televisi kelihatannya begitu, padahal aslinya kita ini capek. Bakul jamu berat, digendong saat matahari lagi panas-panasnya dan kita berjuang di jalan cuma buat makan,” keluhnya pada Minggu (3/08).
Pengalaman serupa juga dialami oleh Marwanti (45), seorang penjual jamu asal Solo yang sudah berpuluh tahun berjualan di daerah bekasi. Mulanya, ia berjualan dengan berjalan kaki mengenakan kebaya dan kain jarik ketika masih di kampung halaman. Menurutnya, kebaya dan kain jarik merupakan standar pakaian penjual jamu di kampungnya.
Namun saat merantau ke Bekasi, Marwanti menyadari bahwa kebaya dan jarik justru dianggap mengundang perhatian. Banyak orang menganggap pakaian itu tidak praktis, bahkan dinilai “centil.” Ia heran, pakaian kerja yang dulu dianggap sopan di kampung, kini malah disalahartikan.
Marwanti bahkan bercerita bahwa ia pernah dikuntit oleh orang tidak dikenal saat sedang berjualan. Ketika ia berhenti di rumah pembeli dan hendak melanjutkan perjalanan, seorang laki-laki terus mengikutinya. Awalnya ia mengira hanya kebetulan semata, namun sampai di depan rumahnya lelaki tersebut terus mengikuti.
“Saya takut orang jahat yang ngikutin, akhirnya jalannya kaya setengah lari dan masih diikuti. Padahal waktu itu saya pakai kerudung dan baju yang sopan, tapi tetap saja ada orang aneh yang berniat jahat. Semenjak itu, jadi lebih waspada dan jualannya waktu siang doang untuk menghindari ketemu orang aneh kaya gitu lagi,” ingatnya.
Setelah kejadian tersebut Marwanti memilih mengganti cara berpakaiannya, tidak lagi dengan rok. Ia beralih memakai celana dan kaos seperti orang kebanyakan. Selain agar lebih mudah ketika mengendarai motor, ia juga mengaku trauma diikuti dan digoda oleh pelanggan.
Menurutnya, memang masih ada penjual jamu yang berpakaian ketat, dan itu sering dijadikan inspirasi penggambaran penjual jamu oleh sinetron di televisi. Marwanti merasa dirugikan, sebab terdapat stigma bahwa penjual jamu adalah “penggoda laki-laki”. Ditambah, masih banyak penjual jamu yang sengaja berjualan di tempat kerja laki-laki seperti pelabuhan dan proyek bangunan.
“Tidak adil ketika semua penjual jamu dicap sebagai penggoda, padahal tidak semuanya seperti itu. Masih banyak penjual jamu yang pekerja keras, banting tulang untuk menghidupi keluarga. Akibat stigma tersebut banyak pelanggan yang memperlakukan kami dengan semena-mena,” keluhnya.
Dosen Antropologi Universitas Diponegoro, Zulfa Safitri menyayangkan stereotip penjual jamu sebagai perempuan penggoda. Baginya, hal itu disebabkan oleh tayangan di televisi yang sering menempatkan penjual jamu hanya sebagai sosok perempuan cantik, dan bukan sebagai sebuah pekerjaan.
“Karena masyarakat terbiasa melihat penggambaran tukang jamu di televisi sebagai perempuan penggoda, akhirnya terbentuk persepsi jangka panjang yang terus melekat pada penjual jamu. Padahal, penjual jamu adalah sebuah pekerjaan dan bukan hiburan,” terangnya pada Sabtu (23/08).
Menurut Zulfa, sejarah jamu tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sosial perempuan di Jawa. Mulanya, peracik jamu adalah laki-laki yang membuat ramuan untuk prajurit atau bangsawan sebagai obat atau penambah kekuatan. Ia melanjutkan, situasi mulai berubah ketika perang dan konflik melanda. Banyak laki-laki mati di medan pertempuran, meninggalkan istri dan anak yang harus bertahan hidup.
“Dalam kondisi sulit ditinggal suami, para janda mengambil alih pekerjaan suami mereka dengan mempelajari racikan jamu dari sisa catatan dan kebiasaan keluarga. Akhirnya, jamu dijual dengan berjalan mengelilingi kampung. Dari situlah jamu menjadi pekerjaan baru bagi perempuan—bukan karena warisan budaya semata, tapi karena kebutuhan ekonomi dan keberanian untuk mandiri,” jelasnya.
Bagi Zulfa, penjual jamu merupakan simbol kerja keras dan pengetahuan perempuan. Jamu bukan hanya soal kesehatan, tapi juga cara perempuan keluar dari ketergantungan ekonomi. Dalam masyarakat yang membatasi ruang gerak perempuan, menjual jamu menjadi bentuk keberanian untuk hadir di ruang publik.
Lebih jauh, ia juga menyebut seharusnya jamu mengikuti perkembangan zaman agar tetap diterima masyarakat hari ini. Zulfa menilai, jamu bisa bertahan justru karena sifatnya yang lentur terhadap perubahan.
Terakhir, Zulfa menjelaskan bahwa jamu tidak perlu lagi selalu diidentikkan dengan cara lama atau pakaian tradisional. Perempuan yang menjual jamu kini bisa menggunakan motor, berpakaian lebih praktis, atau bahkan memasarkan jamu lewat media sosial. Hal itu bukan bentuk meninggalkan tradisi, tapi justru cara menjaga keberlanjutannya di tengah kehidupan modern.
Melawan Citra dengan Modernisasi Jamu
Pandangan Zulfa tentang jamu yang mampu menyesuaikan zaman tercermin dalam usaha sejumlah anak muda yang mengubah wajah jamu menjadi lebih modern. Salah satunya Kafe Acaraki yang berdiri di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Peracik jamu di Kafe Acaraki, Dani, menceritakan bahwa kafe tersebut berdiri sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan pengetahuan yang selama ini dijaga para perempuan penjual jamu.
Di balik meja bar yang menyerupai kedai kopi, Dani menakar jahe, kunyit, dan temulawak dengan alat pres modern. Gelas kaca dan busa rempah yang harum menggantikan botol-botol tradisional yang dulu dibawa penjual jamu keliling.
“Kalau dulu orang melihat jamu identik dengan perempuan berkebaya, sekarang kami tunjukkan jamu bisa tampil modern,” ujar Dani pada Minggu (5/10).
Ia menjelaskan, acaraki berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti pembuat jamu. Seperti barista pada kopi, acaraki adalah sebutan bagi peracik jamu. Dengan konsep open bar, kafe ini menampilkan keahlian acaraki meracik jamu dengan teknik brewing ala pembuatan kopi.
Melalui konsep tersebut, Dani berharap Kafe Acaraki dapat membangun narasi baru di kalangan anak muda yang terbiasa dengan kopi bahwa jamu juga tak kalah keren. Dengan teknik modern, proses pembuatan jamu bisa disaksikan langsung oleh pengunjung.
“Jadi mereka tahu kalau jamu itu pembuatannya sama kerennya dengan kopi. Kami tunjukkan bahwa campurannya tidak mengubah esensi jamu, malah menambah rasa. Dengan mengajak pengunjung berbincang di open bar, mereka bebas bertanya dan jadi penasaran,” kata Dani sambil berdiri di tepi bar.
Baca juga: Vijay Prashad: Berorganisasilah untuk Melawan
Pandangan serupa disampaikan Andika dari Kafe Teras Jahe. Berbeda dengan Acaraki yang bergaya retro elegan, Teras Jahe di Cempaka Putih menempati bangunan rumah besar dengan nuansa hangat dan nyaman.
Pada Minggu pagi, kafe tersebut ramai oleh pengunjung yang datang untuk sarapan atau pertemuan ringan. Menu jamunya dibanderol di kisaran Rp40 ribu dan disajikan rapi layaknya minuman kafe modern.
Di tengah hiruk pikuk percakapan, Andika menilai citra sensual jamu di media lahir dari ketidaktahuan masyarakat terhadap sejarahnya. Ia berharap anak muda mengenal jamu melalui ruang yang aman dan edukatif, bukan dari tayangan televisi yang menggoda.
“Kami ingin anak muda menyukai jamu tanpa rasa malu, supaya jamu tidak lagi identik dengan penggambaran di televisi yang menonjolkan sisi sensualnya. Justru di sini jamu itu keren, sehat dan simbol pengetahuan,” pungkasnya pada Minggu (5/10).
Reporter/penulis: Hanum Alkhansaa
Editor: Zahra Pramuningtyas

