Judul buku: Vegetarian
Penulis: Han Kang
Penerbit: Baca, 2021
Jumlah halaman: 222 butir
ISBN :9786026486547
Kini, gangguan kesehatan mental menjangkiti masyarakat Indonesia, khususnya kawula muda. Sebuah survei yang dilakukan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022 mencatat, sebanyak 15,5 juta atau sekitar 34,9% remaja Tanah Air mengalami gangguan kesehatan mental. Dari survei tersebut, I-NAMHS memaparkan bahwa gangguan kecemasan (anxiety) menduduki urutan pertama. Urutan selanjutnya mencakup hiperaktivitas (sulit fokus), depresi berlebih, hingga stres pasca-trauma.
Menjelajahi lebih lanjut laporan di atas, remaja mengalami gangguan kesehatan mental karena buruknya hubungan dengan keluarga sebesar 64,7%. Sedangkan, karena lingkungan pertemanan sebesar 41,1%. Setelah itu, sebesar 39,3% gangguan kesehatan mental remaja disebabkan lingkungan sekolah atau tempat kerja.
Bersandar pada data tersebut, dapat diketahui bahwa generasi muda Indonesia rentan mengalami gangguan kesehatan mental akibat buruknya relasi emosional dalam keluarga. Apabila fenomena itu terjadi secara berkelanjutan, akan berakibat terkoyaknya jiwa seseorang hingga berusia dewasa.
Istilah kesehatan mental merujuk kepada kondisi emosi, kejiwaan, dan psikis seorang individu. Kondisi tersebut dapat berdampak besar pada kepribadian dan perilaku seseorang. Apabila kesehatan jiwa terganggu, dapat memunculkan kehampaan dalam hidup akibat depresi berlebih, hingga upaya mengakhiri hidup dalam diri seseorang.
Apabila seorang individu mengalami gangguan kesehatan mental, kiranya perlu melirik ke lorong masa lalunya. Bertujuan untuk mengetahui sebab-sebab mengapa seseorang mengalami gangguan kesehatan mental.
Sebagaimana tertuang dalam novel Vegetarian karya Han Kang, penulis perempuan asal Korea Selatan itu mencoba menggambarkan secara tersirat bahwa kesehatan mental bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Melainkan terjadi karena adanya kejadian traumatik masa lampau yang mengakibatkan gejolak kejiwaan dalam diri seseorang.
Hal itu digambarkan oleh Han Kang lewat Kim Young Hye — tokoh utama novel Vegetarian. Young Hye merupakan perempuan mungil yang memiliki warna kulit kekuningan, gaya rambut bob, dan memiliki selera berbusana sederhana yang pada suatu ketika mengalami perubahan drastis di dalam hidupnya. Sebab pada suatu malam, ia mengalami mimpi buruk yang membuka rasa traumatik masa kecil.
Young Hye bermimpi memakan bongkahan daging yang terjatuh di sebuah lubang. Darah segar yang terdapat di bongkahan daging itu memenuhi sekujur tangan hingga bibir tipis Young Hye.
Hal di atas merupakan gambaran mimpi buruk pertama Young Hye. Akibat mimpi itu, Young Hye menjadi vegetarian ekstrem. Ia membuang semua makanan hewani, baik daging segar maupun produk turunannya. Sebab, ketika mencium makanan hewani, ia merasakan bau darah yang sangat menyengat dan selalu terbayang akan mimpi buruknya.
Baca juga: BTS dalam Lagu Baepsae: Kontra Hegemoni Melawan Ketimpangan Sosial
“Aku bermimpi lagi. Seorang membunuh seseorang dan seseorang yang lain menyembunyikannya dengan sempurna.. Entah aku yang membunuh atau dibunuh. Mimpi kali ini bukan yang pertama. Sudah tak terhitung berapa kali aku memimpikan ini,” (hlm 33 – 34).
Setelahnya, Young Hye terus mengalami mimpi buruk yang membawanya pada trauma masa kecilnya. Sedari kecil, ia kerap menjadi samsak amarah ayahnya yang seorang veteran Perang Vietnam. Selain itu, ibunya yang kurang perhatian, buruknya parenting, hingga tidak pernah melarang suaminya ketika memukul anak.
Ada suatu peristiwa yang membekas dalam memori Young Hye. Sewaktu berumur sembilan tahun, kaki mungil Young Hye itu digigit oleh anjing peliharaan keluarga. Karena geram, ayah Young Hye mencari cara untuk menghilangkan nyawa anjingnya itu.
Metodenya, mengikat sang anjing ke sepeda motor dan menyeretnya berkeliling komplek rumah. Setelah lima putaran, sang anjing tumbang. Darah bercampur busa keputihan keluar dari mulut dan membasahi lehernya. Matanya terbelalak menatap dalam ke arah Young Hye. Peristiwa itu, merupakan kepingan yang melekat di pikiran Young Hye hingga dewasa.
Seiring berjalannya waktu, Young Hye dirujuk ke rumah sakit jiwa karena diduga mengalami gangguan kesehatan mental. Walau sudah mendapat perawatan klinis, kondisi Young Hye tak kunjung membaik. Karena khawatir, akhirnya ia dirujuk oleh kakaknya, Kim In Hye ke sebuah tempat terisolir khusus pengidap gangguan mental nun jauh di pegunungan.
Kendati demikian, upaya kakaknya tidak berbuah manis. Young Hye mulai menunjukan perilaku aneh. Ia selalu menganggap dirinya adalah sebuah pohon dengan berpose tubuh terbalik. Membayangkan tangannya sebagai akar, dan kakinya seperti dahan yang mengeluarkan dedaunan.
Bak kayu dimakan rayap, kondisi kesehatan Young Hye semakin memburuk. Sebab, ia sama sekali tidak mau makan. Upaya pemasangan selang melalui mulut untuk diberi asupan karbohidrat dan gula tidak membuatnya membaik. Tubuhnya sisa tulang yang dibalut kulit, kurus kering seperti tengkorak.
“Tidak ada yang bisa menolongku.
Tidak ada yang bisa menyelamatkanku.
Tidak ada yang bisa membantuku bernapas,” (halaman 60).
Kelamnya Masa Kecil dan Rasa Traumatik Jangka Panjang
Dari penjelasan di atas, Young Hye mengidap gangguan kesehatan mental disebabkan tindak kekerasan yang dialaminya sedari masa kanak-kanak. Menciptakan gejolak kejiwaan yang akhirnya melukai psikisnya.
Apabila dikritisi, gangguan kesehatan mental bukanlah kondisi yang secara tiba-tiba melanda jiwa seseorang. Tidak sedikit pula gangguan kesehatan mental dipengaruhi secara genetik dari orang tua ke anak. Namun, hal tersebut bukanlah faktor dominan masalah kesehatan mental. Sebab, gangguan kesehatan mental secara genetik dapat dimitigasi sejauh mana keharmonisan, parenting, dan komunikasi diimplementasikan dengan baik dalam lingkungan keluarga.
Dianalisis lebih lanjut, kekerasan fisik maupun verbal dalam keluarga dapat berdampak signifikan bagi perkembangan psikologi anak. Anak-anak yang kerap mendapat tindak kekerasan oleh keluarganya cenderung memiliki gangguan kesehatan mental hingga dewasa.
Gangguan kesehatan mental dapat dilihat dari perilaku sang anak, dan bentuknya berbeda-beda. Misalnya, anak dapat melakukan tindak kekerasan fisik maupun verbal kepada teman sejawatnya, karena menganggap tindakan itu lumrah. Selain itu, sang anak dapat menjadi pemurung, sulit memahami perasaan orang lain, hingga mengabaikan moralitas sosial.
Baca juga: Modus Operandi Dwifungsi Tentara di Rezim Prabowo
Tak hanya itu, gangguan kesehatan mental dapat menghambat perkembangan kognitif anak. Melalui Teori Perkembangan Kognitif, Jean Piaget menjelaskan bahwa masa kanak-kanak (0 – 11 tahun) adalah periode emas terbentuknya kecerdasan kognitif seseorang.
Ketika kekerasan terjadi secara kontinu, seorang anak dapat mengalami gangguan dalam mengembangkan cakrawala pengetahuan dan berpikir logis. Lebih berfokus pada rasa takut dan inferior, alih-alih mengeksplorasi ide dan imajinasinya.
Novel ini memiliki kelebihan untuk mengembangkan simpati dan empati pembacanya. Selain itu, dapat membuat pembacanya memahami bahwa gangguan kesehatan mental adalah suatu fenomena yang tidak bisa dianggap remeh.
Akan tetapi, novel ini bersifat absurd bagi pembaca awam, sebab alur cerita yang memotret hal-hal tabu, perilaku sadis, dan nyeleneh. Pembaca awam perlu memahami ilmu sosiologis maupun psikologis dasar agar tidak terjebak ke dalam emosional maupun tindakan tokoh-tokoh dalam novel ini.
Penulis: Lalu Adam Farhan Alwi
Editor: Fadil B. Ardian

