Hutan itu, sudah ada sejak zaman dulu kala. Kura-kura menjadi saksi perubahan pada setiap musim yang dilalui hutan. Dipimpin oleh Singa yang bijaksana, hutan itu berkembang dan memiliki banyak sekali penduduk dari berbagai macam spesies hewan dan tumbuhan. Namun beberapa tahun ini, banyak hewan yang mengeluhkan bahwa hutan semakin sempit, mereka kesulitan mencari tempat untuk tidur dan mencari makan.

Apalagi bagi Kura-kura, walaupun memiliki tempurung sebagai rumahnya. Kura-kura masih membutuhkan ruang untuk tidur atau setidaknya untuk bersantai di tengah teriknya matahari ketika siang. Ditambah tubuhnya yang bergerak lambat, membuat kura-kura kesulitan mendapatkan tempat. Pasti sudah ada yang mendahuluinya saat memilih tempat, seperti monyet ataupun kancil yang bergerak lebih cepat. Karena merasa sudah tidak memiliki tempat, kura-kura pun mengadu kepada singa selaku Raja hutan.

“Aku kesulitan mencari tempat, bisakah kau membantuku?” ucapnya di hadapan Singa.

Singa yang bijaksana pun termenung sebentar, “Apa yang sekiranya bisa kubantu, wahai kura-kura. Bukankah tempurung yang kau punya adalah rumah, lalu apalagi yang kau butuhkan?”

Kura-kura bersedih mendengar jawaban Singa, ia merasa Singa tidak bisa mengerti akan kesulitan yang ia alami.

“Tetapi tetap saja, aku membutuhkan ruang dan sebidang tanah. Bukankah sebentar lagi musim salju tiba? Aku membutuhkan tempat untuk berlindung bukan?” ucap kura-kura menaikan nada bicaranya.

Iklan

Singa pun menatap kura-kura dengan perasaan bingung dan kemudian berkata, “Baiklah kura-kura, kau bisa menempati tanah milik singa di tengah hutan. Kurasa tidak akan ada yang keberatan.”

“Ahh benarkah? Terima kasih Singa kau sungguh baik dan bijaksana,” ucap kura-kura senang.

Akhirnya Kura-kura pun menempati sebidang lahan milik para Singa, ternyata lahan itu sangat mewah. Terdapat mata air milik pribadi, juga bale-bale yang sangat nyaman untuk bersantai.

“Tempat ini sangat nyaman, kurasa ini tempat paling nyaman di hutan. Kalian beruntung para singa,” ucap Kura-kura, dia sedang bersama para singa di sumber air.

“Kau baru tau? Sebenarnya ini adalah ide Raja Hutan, ia menyuruh buaya dan kancil untuk membuat mata air ini. Lalu bale-bale itu, Raja menyuruh burung dan monyet untuk merakitnya. Dia juga meminta bantuan gajah untuk memilih kayu paling bagus di hutan ini,” ucap salah satu singa menjelaskan kepada Kura-kura.

Kura-kura merasa sedikit iri sekarang, karena di tengah kegalauan para penduduk hutan akan menyempitnya lahan. Ternyata para singa hidup layak dan bahagia disini. Dia juga baru tahu bahwa menyempitnya lahan hutan diakibatkan Sang Raja yang membiarkan beberapa spesies dari hutan sebelah untuk masuk ke dalam hutan ini.

Setelah lama termenung, Kura-kura memutuskan untuk jalan-jalan berkeliling hutan. Ia bertemu monyet di bawah pohon pisang “Hai, Monyet! Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kura-kura.

“Hai kura-kura, aku sedang mencari makan tapi sangat sulit, semua buah di hutan ini hampir habis sekarang,” ucap monyet, dia turun dari pohon sesaat setelah kura-kura memanggil.

“Hahh, bagaimana bisa habis? Aku sudah berpuluh-puluh tahun disini dan kita tidak pernah mengalami krisis makanan. Kita selalu tercukupi,” balas Kura-kura dan melihat sekeliling. Dia tersadar, ternyata buah-buahan tidak sebanyak beberapa tahun lalu.

Monyet pun sedikit berjongkok ingin berbisik kepada Kura-kura “Sebenarnya ada yang ingin kuceritakan. Tapi berjanjilah kau akan menyimpan ini sendiri dan jangan beritahu siapapun,” ucap Monyet serius.

Iklan

“Baiklah-baiklah, aku berjanji sekarang cepat ceritakan apa yang sebenarnya terjadi,” balas Kura-kura, sedikit memaksa monyet agar cepat bercerita.

Monyet pun menurunkan volume suaranya dan mendekatkan diri ke telinga kura-kura “Sebenarnya, sejak Raja Hutan membiarkan hewan dari hutan sebelah tinggal disini. Aku sudah merasa itu sebuah ancaman, apalagi Raja menerapkan upeti kepada hewan yang ingin tinggal di hutan ini. Mereka harus menyetorkan makanan kepada para singa setiap hari. Itulah mengapa makanan disini cepat habis sebelum waktunya,” jelas Monyet.

“Apa? Upeti? Sungguh monyet, aku baru tau bahwa Raja menerapkan upeti seperti itu, pantas saja di tempat singa selalu tersedia makanan. Padahal mereka tidak melakukan apa-apa.” Kura-kura sangat terkejut sekarang, dia baru tahu tentang kebijakan upeti yang diberlakukan raja.

Monyet pun melanjutkan ceritanya “Beberapa waktu yang lalu, aku bersama hewan lain seperti gajah, jerapah, buaya bahkan burung mencoba berdiskusi dengan raja. Tetapi kami tidak mendaptkan solusi apa-apa,” ucap monyet, dia terlihat sedih sekarang.

“Memangnya apalagi masalah yang terjadi?” balas kura-kura, ia benar-benar tidak tahu mengenai penderitaan teman-temannya.

Akhirnya monyet pun menjelaskan bahwa lahan disini semakin sempit. Dan para hewan meminta Raja untuk berhenti membiarkan hewan lain masuk ke hutan ini. Namun Raja malah menyuruh kita untuk bisa menerima mereka.

“Sudah gila Raja Hutan itu, sebentar lagi musim salju apa yang harus kita lakukan?” tanya kura-kura, dia terlihat sangat marah.

Kura-kura pun pergi meninggalkan monyet dengan perasaan marah. Sekarang ia harus menemui Raja Hutan untuk meminta penjelasan.

“Singa, sebenarnya apa yang kau pikirkan dengan terus membiarkan hewan dari luar masuk? Tidak tahukah kamu kita krisis makanan dan lahan sekarang,” ucap Kura-kura marah, ia bertemu singa di rumahnya.

Singa yang kaget dengan pertanyaan Kura-kura sebisa mungkin bersikap tenang, “Begini kura-kura, aku hanya ingin mengembangkan hutan ini. Bukankah semakin banyak hewan semakin bagus?” bela Singa.

“Aku tahu wahai Raja yang bijaksana, bukankah tujuanmu hanyalah mengumpulkan upeti semata? Dan juga ini sudah hampir masuk musim salju. Bagaimana dengan hewan yang tidak memiliki tempat berlindung?” Kura-kura semakin menaikan nada bicaranya.

Singa pun terlihat berpikir sejenak, ia mendekatkan diri kepada kura-kura “Begini saja, sebenarnya aku memiliki teman seorang Manusia Purba. Ia memiliki lahan di sebelah hutan kita. Aku bisa bernegosiasi agar dia memberikan lahan itu kepada kita. Dan kebutuhan lahan serta makanan akan terpenuhi.” Singa masih mencoba tenang sekarang.

“Manusia Purba katamu? Lalu apa yang ia inginkan setelah kita mendapatkan lahan itu. Jangan kau pikir aku bodoh, bukankah ia pemakan hewan?” ucap Kura-kura menyelidik.

Singa sangat marah sekarang, ia merasa kura-kura ikut campur, “Kura-kura yang cerdas, kau sendiri yang menyadari bahwa musim salju akan segera datang. Bukankah para hewan membutuhkan makanan dan lahan? Jikapun kau tidak setuju, itu tidak merubah banyak hal bukan?” Singa mulai mengintimidasi kura-kura sekarang.

Kura-kura merasa jengkel dengan jawaban Singa, ia menyadari bahwa Raja Hutan yang bijaksana telah berubah menjadi Raja Hutan yang serakah sekarang.

“Terserah kau saja wahai Raja Hutan, aku pergi dari sini. Egois bila aku hidup enak sementara teman-temanku terancam kedinginan dan kelaparan.” Kura-kura pun meninggalkan tempat Singa dan bergabung dengan para hewan.

Tidak lama setelah kejadian itu, Singa menjalankan rencananya. Dia bekerja sama dengan Manusia Purba dalam memperluas Hutan. Namun hutan yang baru hanya diperuntukan bagi mereka yang mampu membayar upeti. Mereka yang tidak mampu luntang-lantung kelaparan dan kedinginan di hutan itu.

Setelah beberapa bulan, banyak hewan yang akhirnya mati karena kelaparan dan kedinginan. Namun semenjak perdebatan Kura-kura dan Singa. Banyak hewan yang menghilang dan tidak diketahui rimbanya. Bahkan Monyet dan Kura-kura pun tidak pernah terlihat lagi.

 

Penulis: Zahra Pramuningtyas