Waktu menunjukan tepat Pukul 13.15, Hasan, Seorang Mahasiswa Ilmu Ekonomi semester akhir itu menutup laptopnya, dan berjalan masuk untuk menemui dosen pembimbingnya. Sembari menunggu tidak lupa Hasan juga berkali-kali menguap, rasa kantuk terlalu besar baginya untuk ditahan. ‘’Wuah, sudah ada Permira lagi rupanya. Demokratis. Lagi-lagi tidak ada calon Wanita.’’ Perkataan yang ia katakan cukup bisa membuat orang yang disebelahnya mendengar hingga menatap sinis dirinya.
Hasan sudah tidak peduli apapun soal kampusnya ini, Ia hanya ingin lulus. Meninggalkan tempat ini baginya adalah pilihan yang terbaik. Tidak lama dosen pembimbingnya melihatnya, akhirnya mereka bersepakat untuk bimbingan di luar kampus saja. ‘’Hasan sini ikut ibu ke luar, kita makan dan bimbingan di luar saja,’’ujar dosen itu. Hasan merasa tidak enak dengan ajakan itu, tapi karena dosen itu sangat baik dan terkenal akan lemah lembutnya, maka ia menerimanya.
Berjalan keluar bersama dosen itu, tiba-tiba datang seorang wanita, yang ternyata adalah asisten dosen itu. Wanita itu bernama Nabila. Mereka tidak lama dikenalkan oleh dosen itu. Kedua orang itu saling menatap, terdapat tatapan yang berbeda dari dua orang itu. Senyuman Nabila tidak lupa menambah manisnya hari untuk Hasan.
‘’Hasan, ini Nabila. Dia sekarang membantu ibu kerja. Asisten dosen ibu yang baru.” Kata Dosen.
“Iya Bu, kalo gitu asdos sebelumnya Pa Rahmat itu jadi lanjut studi di Inggris?.” tanya Hasan.
“Iya betul, dia lanjut studi. Dia lolos LPDP, San. Nah ini juga Nabila dia baru selesai Doktoral di Australia. Dia bersedia jadi asdos sementara sembari menyelesaikan penelitian dia bersama Ibu.” Lanjut Dosen itu.
“Keren-keren, Hasan juga punya keinginan untuk lanjut studi mau di Indonesia ataupun di luar negeri. Cuman lebih masuk akal kalo Hasan kerja dahulu. Kasian orang rumah, banyak tanggungan.” Hasan mengatakan ini dengan perasaan bingung luar biasa.
“Halo Hasan, salam kenal. Tidak apa-apa kok, tidak kuliah juga tetap manusia. Ga ada bedanya,” balas Nabila dengan lembut.
Hasan hanya bisa membalas dengan senyuman. Ketiganya berjalan menuju mobil, Nabila menawarkan untuk mengendarai mobil itu. Hasan hanya diam, ia hanya tidak percaya dengan hari ini.
“Gimana Hasan revisian kamu udah selesai? Harusnya kalo kamu sesuai dengan arahan Ibu kemaren. Kamu sudah selesai, tinggal daftar sidang saja.”
“Sudah Ibu, ini Hasan emang minta cek terakhir dari ibu, selain itu minta tanda tangannya buat urus sidang.’’
Dosen itu hanya hanya menjawab nanti malam ia akan mengeceknya. Selanjutnya dalam perjalan Nabila dan dosen itu membicarakan banyak hal. Hasan hanya mendengarnya, sembari melihat keluar jendela. Pikirannya kosong, mungkin seperti kotak kosong. Tempat yang mana kedamaian semua berkumpul. Tidak ada Bahasa yang muncul, narasi akan dunia, semua menghilang hanya kedamaian dalam pikirannya.
‘’Poster, spanduk, kampanye.’’ Tiga hal yang ada dalam pikiran Hasan saat melihat kampus, sesaat sebelum mobil meninggalkan parkiran.
Berkali-kali sudah Hasan melewati masa pemilihan raya di kampusnya. Hanya satu kesimpulan yang bisa didapat mahasiswa yang tinggal sidang skripsi itu, bahwa perubahan yang memihak mahasiswa terpinggirkan seutuhnya tidak akan pernah ada. Maka dari itu, sejak awal pemilihan ia selalu akrab dengan kotak kosong. Untuk Hasan kotak kosong lebih baik dari omong-kosong visi sisi yang selalu di bawa mereka, hanya spam-spam saja baginya.
‘’Hasan, ibu nanti ada pertemuan sebentar dengan Mas Menteri. Nanti kamu sama Nabila bisa makan di meja lain, ataupun keluar cari tempat lain.’’
Hasan dan Nabila keduanya menyepakati bahwa mereka akan berjalan-jalan mencari makan. Tidak dengan mobil, mereka memutuskan untuk menggunakan kakinya.
***
Setelah keluar dari mobil, mereka membuat janji bahwa akan kembali lagi ke tempat ini setelah satu jam. Dosen itupun tidak keberatan. Keduanya akhirnya berjalan menjauhi restoran itu, Hasan terlihat tidak menyukai keramaian saat itu. Hasan hanya berjalan awalnya lebih jauh dari Nabila, sebelum akhirnya ia menyamakan langkah kakinya dengan Nabila.
‘’Kamu sangat pendiam Hasan.’’
“Tidak, saya tidak sependiam ini, hanya sampai tadi kekosongan mendatangi,’’ balas Hasan. Setelahnya Nabila menanyakan perihal kekosongan yang dirasakan Hasan.
Hasan berhenti berjalan begitu pula dengan Nabila, mereka berdua seakan terhubung untuk duduk di trotoar itu. Hasan memberi senyuman tulus, sembari menjelaskan bahwa saat ini ia merasa tidak ada gunanya berfikir. Semua sia-sia, selalu seperti itu, hanya memikirkan, harus bertindak, melampaui pikiran-pikiran itu. Hasan melanjutkan bahwa tidak ada yang bisa dibuat dari negaranya ini.
“Jika kampus menjadi miniatur negara, maka lebih baik tidak usah masuk kampus. Bukannya seharusnya mahasiswa yang juga manusia membersamai manusia lain di luar sana. Orang-orang kecil yang tidak dipedulikan siapa-siapa,’’ jelas Hasan sembari menatap tajam Nabila.
Nabila hanya diam, meskipun ia telah menghabiskan waktu untuk bersekolah. Ia menyetujui banyaknya kata-kata Hasan saat itu. Mungkin ia seperti melihat hewan peliharaan yang melawan majikannya. Begitu lucu, Nabila terasa ingin memeluknya, lalu menjadikannya hewan peliharaanya. Tapi lebih dari itu, Nabila mengetahui bahwa Hasan adalah orang yang merdeka, kesadaran yang terkadang membuat Hasan bahagia hingga sedih.
‘’Hentikan ini, kau terlalu banyak banyak membicarakan hal-hal besar. Bagiku itu bukan menjadi tanggung jawabmu juga. Bukankah semua omong kosong. Hanya satu hal yang bisa kamu lakukan sekarang. Lulus dari kampus itu, mencari pekerjaan.’’
Hasan hanya berhenti dan menjawab untuk apa ia melakukan itu, untuk apa ia lulus dari kampus itu. Menuju kehidupan selanjutnya yang belum pasti, ketidakpastian. Menjadi mahasiswa rasanya membuat ia merasa aman, bahwa ia tidak perlu bekerja, bertarung pada pasar yang tidak pernah adil.
Nabila membalas dengan menjatuhkan tangannya pada kepala Hasan sembari berkata “Dapatkan aku.’’
Setelahnya tidak ada percakapan lebih jauh, keduanya hanya tertawa. Tak lama setelah tawa mereka usai, Hasan memeluk Nabila, begitu erat. Setelah satu menit berlalu Hasan mendekatkan suaranya pada telinga Nabila sembari berkata,
‘’Sudah kudapatkan.’’
Hari itu menandai hubungan mereka berdua. Mirip seperti hubungan biasanya, saat wanita lebih memiliki posisi ketimbang pria. Maka keputusan sering kali ada pada wanita. Hasan tidak keberatan, baginya Nabila adalah wanita yang berharga, lagi pula selama baginya tidak melanggar prinsip dasar seperti kejujuran, tidak masalah.
Tak ada satupun yang bisa menebak sampai kapan mereka terus bersama. Hanya saja saat ini keduanya sudah sepenuhnya kembali pada hakikat mereka sebagai manusia. Bekerja untuk satu sama lain.
Ihsan Dwirahman, 14 Februari 2023

