Judul buku: “Madilog: Materialisme, Dialektika, dan Logika”
Penulis: Tan Malaka
Penerbit: Narasi
Jumlah halaman: 568 hlm
ISBN: 978-979-168-218-3
“Untuk mencapai kemerdekaan secara penuh, hal pertama yang harus diubah adalah cara berpikir masyarakatnya.”
Pernahkah kalian mendengar nama Gus Samsudin? Pria pemilik Padepokan Nur Dzat Sejati ini sempat mencuat namanya beberapa tahun belakangan lantaran terbukti melakukan penipuan berkedok pengobatan alternatif. Di padepokan miliknya di Blitar, Jawa Timur, ia membuka sebuah praktek pengobatan yang dipercaya dapat menyembuhkan segala macam penyakit, berkat ilmu ghaib yang ia sebut sebagai Kulhu Geni. Pengikutnya pun banyak, yang kadang turut membantunya untuk menjadi stuntman di video-video kanal YouTube-nya.
Di fenomena lain, apakah kalian ingat pada saat pandemi Covid-19 masih merajalela, muncul sebuah hoaks yang beredar di media sosial kalau virus itu bisa diobati bermodalkan minuman ramuan bawang putih? Mungkin kita pernah melihat orang-orang terdekat kita percaya akan hal itu. Nyatanya, pengobatan dengan cara ini juga terbukti tidak memberikan efek medis apapun.
Kedua peristiwa di atas dapat memberi kesimpulan, bahwa masyarakat kiwari masih cenderung terjebak pada pemikiran atau tindakan yang belum terbukti secara empirik bahkan cenderung gaib. Jauh-jauh hari hal ini telah disebut Tan Malaka sebagai logika mistika dalam bukunya, Madilog: Materialisme, Dialektika, dan Logika.
Bagi Tan, logika mistika adalah pemikiran berbasis hal-hal yang tak bisa digatra, supranatural, gaib, dan nirempiris. Menurutnya hal ini disebabkan pengaruh budaya feodalisme serta kolonialisme karena menidurkan kesadaran masyarakat Indonesia dari kondisi penindasan. Akibatnya, kebanyakan orang pribumi memilih memasrahkan hidupnya serta enggan berjuang untuk keluar dari kubangan penjajahan kolonial.
Hal itu lah yang melatarbelakangi Tan Malaka menulis Madilog, karena pada waktu buku ini ditulis (1942–1943), Indonesia sedang dijajah oleh Jepang. Perubahan pola pikir masyarakat yang menghambat perjuangan menjadi hal fundamental untuk diubah terlebih dahulu, guna mencapai kemerdekaan seutuhnya. Setelah perjuangan epistemologis dilakukan dan masyarakat sudah menggunakan basis berpikir secara materialisme, barulah perjuangan fisik dengan angkat senjata dilakukan.
“Paham lama itu mesti kita buangkan dari otak yang dewasa dalam masyarakat kita dan tak boleh dimasukkan lagi ke dalam otak muda lemah, pemuda dan pemudi kita, didikan masyarakat mesti berdasarkan yang nyata, yang pasti, yang cocok dengan ilmu dan peralaman.” (hlm. 352)
Basis pemikiran materialisme berangkat dari pandangan terhadap hal-hal di semesta alam bersifat materi dan riil. Materialisme menjadi penting karena dengan berpikir seperti ini, rakyat mampu memecahkan permasalahan secara nyata menggunakan pendekatan yang bisa diindera, dan mampu dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Setelah mampu berpikir secara materialistik, hukum dialektika dengan kerangka tesis, antitesis dan sintetis dimasukkan sebagai tahapan selanjutnya. Dialektika diambil dari gagasan Hegel, bahwa alam semesta bersifat dinamis atau tidak ajeg. Perubahan dialektis ini, kiranya menjadi bekal berpikir yang penting bagi masyarakat agar mereka sadar akan perubahan, dan juga menganalisis realitas di sekelilingnya yang berubah.
Setelah tahap materialisme dan dialektika, selanjutnya tugas logika untuk menimbang kesimpulan yang didapat, dan juga menentukan tindakan apa yang perlu diambil. Pada hakikatnya materialisme, dialektika dan logika merupakan suatu kesatuan dalam bangunan konstruksi berpikir secara rasional. Salah satunya tidak bisa dipegang secara sendiri tanpa memegang dua lainnya.
Walaupun Madilog sangat menentang pikiran mistis, Tan tidak bermaksud menjadikan pemeluk agama dan pelestari kebudayaan–keduanya berkaitan erat dengan hal mistis–merupakan sesuatu yang buruk. Maka, yang perlu ditentang adalah model berpikir mistis dengan sikap pasrah, bahwa semuanya telah diatur oleh Tuhan.
“Kita mesti akui penuh, bahwa masih banyak tiada semuanya di antara pemimpin rohani masyarakat kita zaman sekarang, yang walaupun banyak mengandung pengetahuan yang tiada lagi cocok dengan zaman, mereka berhati jujur, tulus, dan ikhlas, beriman, beribadat dan mengajarkan kepercayaannya itu dengan sungguh dan lurus hati. Sekali-kali mereka ini tiada pantas menerima penghinaan atau umpatan usaha dan jasa mereka selama ini mesti diakui penuh.” (hlm. 352)
Madilog sebagai suatu risalah perjuangan berbeda dengan buku lain yang biasanya diisi propaganda atau kisah-kisah heroik melawan penjajah. Buah pikiran Tan ini justru menyajikan kerangka berpikir secara ilmiah dengan memadukan ilmu-ilmu seperti Biologi, Kimia, Ilmu Perbintangan, Ekonomi, juga ilmu eksak seperti Geometri, Fisika dan Matematika. Itu semua ia jadikan sebagai instrumen memperkuat argumen-argumennya untuk menjelaskan materialisme, dialektika, dan logika.
Sayangnya, Madilog menggunakan bahasa yang njlimet untuk dibaca. Terdapat banyak kalimat panjang tanpa koma, dan kalimat yang tidak efektif. Membuat pembaca sering membaca berulang kali untuk memahami maksud yang ingin disampaikan.
Baca Juga: https://lpmdidaktika.com/misinterpretasi-dalam-memandang-paradigma-universitas/
Bagaimanapun juga Tan telah sukses membuat argumen yang solid, yang mengantarkan bukunya masuk ke dalam jajaran buku paling berpengaruh versi majalah Tempo. Buku ini masih bisa menjadi pegangan bagi mereka yang ingin mempelajari rasionalitas, di tengah era post-truth. Di mana, pertukaran informasi begitu banyak dan cepat, yang membuat kita sendiri kewalahan dalam menyaringnya, sehingga rawan membuat kita bias akan realitas. Dengan menggunakan metode berpikir Madilog, seseorang mampu menyerap mana informasi digital bersifat empirikal, dan mana yang tidak.
Dalam konteks yang lebih luas, semangat Tan Malaka masih menjadi bahan bakar orang-orang melakukan perjuangan epistemologis. Kiwari, Malaka Project sukses menghiasi media YouTube dengan konten-konten edukasinya yang mendasarkan pada prinsip materialisme, dialektika, dan logika. Pendidikan “Madilog” kini sudah bisa diakses cuma beberapa ketukan layar telefon pintar.
Penulis: Fadil.B
Editor: Abdul

