Komunitas The State of Sounds menumbuhkan rasa percaya saya kalau sesuatu hal yang produktif, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi mahasiswa medioker bisa dibentuk secara organik di tongkrongan.

Suatu hal yang luput dari khayalan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) adalah keberanian untuk membangun komunitas sendiri yang produktif dan berkelanjutan dari lingkup tongkrongan. Komunitas yang lahir dan tumbuh dari mahasiswa-mahasiswa yang biasa-biasa saja secara akademik, kerjanya cuma nongkrong, dan cuap-cuap (yapping).

Singkatnya mereka bisa dikatakan mahasiswa medioker atau biasa-biasa saja. Karena memang mayoritas mahasiswa yang ada di komunitas itu jarang banget punya prestasi yang dapat dibanggakan.

Karena dianggap medioker, mereka dibiarkan saja hingga tak ada yang memperdayakannya. Namun mereka tetap memiliki kreatifitas yang mungkin muncul dari benak mereka sendiri. Yakni ingin membangun stigma “nongkrong positif” dengan membuat suatu komunitas sebagai wadah pengembangan keterampilan.

Baca juga: Antara Toko Buku, Ruang Publik dan Gen-Z

Barulah, ketika memasuki akhir tahun 2024, lahirlah sebuah komunitas berbasis tongkrongan bernama “The State of Sounds (SOS)”. Pada waktu yang sama, SOS pun unjuk gigi dengan membuat acara musik bertajuk “Ignition Party” yang menampilkan bakat band-band dari mahasiswa UNJ.

Iklan

Kemudian setelah berhasil membuat acara di kampus, SOS lalu bekerja sama dengan pihak-pihak luar: ”Rock Aroma Weekend Gigs Spesial Unplug” dan ”Tjan Makers”. Kemudian, karena SOS punya semangat menjadi wadah buat mahasiswa-mahasiswa UNJ berkarya lewat musik maka komunitas itu kembali ke tempat kelahirannya.

Pada (11 Juni 2025), SOS akhirnya membuat acara musik bernama “GIGSAMASAMA Vol. 2” di Plaza UNJ. Kala itu, SOS bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (BEM FBS).

Menurut susunan acara SOS akan mengakhiri acara di jam sepuluh malam. Sayangnya pihak birokrasi FBS hanya mengizinkan sampai pukul 20.00 WIB. Namun, SOS berinisiatif untuk melaksanakan acara sampai pukul 22.00 WIB, karena masih ada dua band yang belum tampil ketika waktu sudah menunjukan pukul 20.00 WIB.

Sayang seribu sayang, pihak kampus tidak mentoleransi perpanjangan waktu. Akhirnya acara berhenti di tengah jalan sebab listrik dimatikan oleh pihak kampus. Melihat itu, saya sangat kecewa!

Bagaimana tidak kecewa? Momen seperti ini tidak pernah saya lihat di kampus. Sejak berstatus mahasiswa baru (maba), saya tidak pernah melihat acara musikan yang dijalankan oleh komunitas independen berbasis tongkrongan. Soalnya, yang saya tahu acara musikan itu biasa agenda BEM, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), maupun agenda Program Studi Seni Musik.

Selain itu, saya juga kecewa perihal produktivitas. Seperti yang sudah saya jelaskan di awal, anggota SOS itu rata-rata biasa saja dalam ranah akademik. Karena paham akan kondisi tersebut, mereka bersolidaritas dalam SOS. Bahkan di acara “GIGSAMASAMA VOL. 2 saja mereka mengambil tema “Growing Together”.

Bukankah seharusnya kampus bangga dengan mereka yang mencoba untuk tumbuh? Masalahnya mereka berkumpul tidak sekedar cuap-cuap dan nongkrong tidak jelas seperti tongkrongan biasanya. Melihat ini, maka saya jadi berpikir kalau birokrasi kampus memang tidak pernah memedulikan mahasiswa medioker.

Mempertanyakan Keabaian Birokrasi Kampus

Pola kehidupan mereka begini: kelar kelas lanjut nongkrong sebentar, lanjut nge-BEM, kemudian lanjut nongkrong lagi. Begitu saja polanya. Kalau mereka mau bikin gebrakan atau acara, mereka juga tidak berani bikin pakai nama tongkrongannya.

Karena rata-rata yang nongkrong itu adalah anak BEM, jadi mereka berpikir gebrakan mereka dimasukin jadi agenda BEM saja. Yang pada akhirnya mereka tidak puas, bahkan ada yang tidak jadi terlaksana. Akhirnya mereka cuma bisa kecewa dan memaki dirinya sendiri.

Iklan

Di sisi lain, birokrasi di kampus tidak pernah peduli dengan masalah di atas. Mereka hanya peduli bagaimana menggunakan mahasiswa yang aktif dan pintar untuk ikut ajang “mahasiswa berprestasi”, jadi duta UNJ, maupun lomba-lomba yang berdampak besar untuk akreditasi kampus.

Menurut saya, ini adalah masalahnya. Keadaan tersebut membuat ketimpangan: di mana mahasiswa-mahasiswa untuk mengembangkan diri dan meraih kesuksesan hanya bisa dikejar lewat jalur yang diakui secara formal dan administratif.

Tapi kita perlu ingat bahwa tidak semua mahasiswa yang masuk UNJ itu pintar sedari sekolah dan sudah berprestasi. Kemudian saat kuliah mereka bisa survive untuk jadi mahasiswa yang produktif dan berprestasi. Akhirnya mereka tetap gitu-gitu saja dan melarikan diri ke tongkrongan sebagai cara untuk aktualisasi diri dan mencari kesenangan.

Akhirnya kalau orang beranggapan ”nongkrong itu tidak ada gunanya” atau ”nongkrong buang-buang waktu” itu ada benarnya. Birokrasi kampus pun membiarkan hal ini terus terjadi. Alasannya mungkin seperti yang sudah saya jelaskan di pendahuluan: tidak berguna buat kampus.

Tak heran kalau birokrasi lebih mengedepankan UKM dan BEM. Pokoknya, selama birokrasi tidak melihat tongkrongan itu punya hasil yang dapat mendongkrak akreditasi, Ya birokrasi kampus tidak akan peduli. Kasihan memang jadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. Tidak pernah dipedulikan!

Asal kalian tahu (birokrasi kampus), mahasiswa medioker juga berhak punya ruang untuk merasa dirinya ”berguna”. Nah, lewat komunitas-komunitas yang lahir dari tongkrongan, mahasiswa ini bisa ”tumbuh” dan ”hebat” tanpa harus menjadi hebat versi kampus. Karena menurut saya, ”tumbuh” dan ”menjadi hebat” tidak selalu berbentuk prestasi yang sering diakui dalam administrasi kampus.

Sepengetahuan saya, khususnya di FBS secara umum, memang tidak punya tradisi berdikari. Saat maba, saya tidak pernah mendengar narasi bahwa ada tongkrongan di FBS dapat produktif, kreatif, dan berkelanjutan —tanpa adanya bantuan dari birokrasi kampus. Maka, dengan hadirnya SOS seharusnya birokrasi bangga. Masa iya, komunitas yang mau membentuk ekosistem diacuhkan begitu saja?

Saya berharap kedepannya birokrasi kampus dapat mempermudah perizinan acara musik sampai pukul 22.00, atau bahkan sampai tengah malam. Lagipula acara musik di kampus tidak terselenggara setiap hari. Seminggu sekali pun juga belum tentu. Dalam sebulan juga belum tentu.

Kalau alasannya karena berisik, itu aneh dan tidak adil saja buat mahasiswa. Ingat mahasiswa bayar berjuta-juta buat bayar semester di kampus yang daring mulu. Kalau apa-apa dibatasi: rugi dong!

Baca juga:  Sebuah Rezim Bernama Orde Baru

Pesan Penutup dari Saya

Karena orang-orang telah mengglorifikasi kehebatan-kehebatan mahasiswa secara individual lewat jalur akademik, permagangan, dan standar sukses mahasiswa yang ada di media. Saya ingin menyampaikan pesan bahwa mahasiswa-mahasiswa seperti itu sudah banyak. Kebanyakan soalnya, kalau saya scroll media sosial, mahasiswa seperti di atas tidak ada habisnya.

Namun, yang perlu diketahui, kita juga perlu mahasiswa-mahasiswa berjiwa kolektif dalam lingkaran pertemanan kita. Mahasiswa-mahasiswa mau bergerak bersama mahasiswa medioker untuk tumbuh bersama dan membentuk ekosistem dari bawah. Mahasiswa-mahasiswa yang mau memperjuangkan diri serta teman-teman dan mau bersolidaritas demi mereka yang selama ini diacuhkan oleh birokrasi kampus.

Pesan saya untuk pembaca tulisan ini, “Tidak semua jalan harus dilalui lewat jalur utama, kita bisa lewat jalur-jalur alternatif. Sama seperti kesuksesan. Tidak semua kesuksesan itu ada di jalan utama. Bisa saja ada di jalur alternatif, walaupun jalannya kadang ada yang sedikit memutar dan lebih jauh.”

Penulis

Muhammad Ridwan Tri Wibowo, Content Writer The State of Sounds.

Catatan: Tulisan ini merupakan murni sudut pandang penulis, bukan paksaan dari komunitas.