Joki Strava di Indonesia ramai jadi perhatian publik belakangan ini, terutama setelah beberapa media nasional seperti Kompas menyoroti praktik tersebut. Strava sendiri adalah sebuah aplikasi asal Amerika Serikat yang digunakan untuk merekam, memantau, dan membagikan aktivitas olahraga seperti lari maupun bersepeda melalui global positioning system (GPS).

Strava populer di kalangan komunitas kebugaran digital karena menyediakan fitur pelacakan detail dan lencana pencapaian yang bisa dipamerkan kepada pengguna lain. Dengan begitu, aplikasi ini mendorong keinginan pengguna untuk memperoleh pengakuan dalam berolahraga. Strava bertransformasi dari sekadar alat pencatat menjadi arena kompetisi digital.

Tekanan untuk selalu terlihat produktif dan pencapaian yang menonjol dalam berolahraga, menggerakkan sebagian orang melewati jalur pintas berupa jasa joki Strava. Orang akan dibayar untuk melakukan aktivitas olahraga, baik lari maupun bersepeda, menggunakan akun Strava milik klien.

Baca juga: Komodifikasi Atribut Agama dalam Masyarakat Konsumer

Secara mekanisme dari praktik curang ini, joki Strava biasanya akan masuk ke akun klien, lalu menjalani aktivitas sesuai permintaan, seperti menempuh jarak dan kecepatan tertentu. Setelah selesai, hasil aktivitas itu diunggah ke akun klien sehingga seolah-olah pencapaian pelanggan joki Strava benar adanya. Maka, akun klien menunjukkan catatan performa yang bagus dan kemudian hal itu dapat dipamerkan dalam dunia maya.

Fenomena joki Strava dapat dipahami melalui teori liquid modernity atau modernitas cair yang dikembangkan oleh Zygmunt Bauman. Modernitas cair adalah konsep yang menggambarkan era kehidupan manusia ditandai oleh ketidakpastian, perubahan sangat cepat, dan hilangnya kepastian tatanan sosial yang stabil.

Iklan

Di era modernitas cair segala sesuatu menjadi fleksibel, mudah berubah, dan tidak memiliki dasar atau pijakan yang kuat. Dalam dunia yang cair ini, individu diibaratkan berdiri di papan selancar yang diterpa oleh derasnya ombak. Tidak ada waktu istirahat, manusia selalu kejar-kejaran dengan dunia yang terus berubah.

Modernitas cair muncul sebagai konsekuensi dari globalisasi dan kemajuan teknologi yang membuat segala hal berubah secara dinamis. Bauman menyoroti dalam situasi seperti ini orang cenderung kehilangan orientasi dan merasa harus terus menyesuaikan diri agar tidak tertinggal.

Di tengah modernitas cair, desakan individu untuk berdikari juga sangat kentara. Desakan ini hadir karena masing-masing individu hidup dalam institusi dan ikatan sosial yang rapuh, imbas cepatnya gerak zaman. Akibatnya, setiap orang dipaksa untuk berprestasi, membuktikan diri, dan bertahan secara mandiri.

Pada akhirnya, kombinasi tekanan besar individu untuk terus menyesuaikan diri dan unjuk gigi, mempengaruhi merebaknya kasus Fear of Missing Out (FOMO) di masyarakat. Banyak individu merasa cemas jika tidak mengikuti arus tren. Mereka harus tampil gemilang dalam tren yang ada.

Sama seperti kasus popularitas penggunaan Strava. Banyak orang enggan tertinggal tren sehat ini. Lebih lagi, sebagian besar pengguna Strava ingin selalu diakui memiliki performa yang bagus dalam berolahraga. Tantangan demi tantangan dalam berolahraga mereka ikuti.

Akan tetapi, ketika ekspektasi terlalu tinggi atau kemampuan fisik kurang menyanggupi, jasa joki Strava menjadi jalan pintas. Praktik ini menjadi strategi instan untuk mempertahankan citra diri di ruang publik digital agar tetap dianggap kompeten. Walau cara yang dilakukan berupa kecurangan.

Nilai kerja keras, proses, dan sportivitas tergeser oleh budaya konsumsi pencapaian. Aplikasi Strava yang seharusnya menjadi ruang tumbuh bersama, akhirnya didominasi oleh citra dan angka yang bisa dibeli.

Aktivitas olahraga yang semestinya menjadi proses pengembangan diri dan kesehatan bersama, kini berubah menjadi produk yang bisa dipasarkan. Hanya orang yang sanggup membayar yang dapat memperoleh pencapaian digital yang mengesankan.

Logika bisnis kapitalis yang mengkomersialisasi olahraga, menurunkan kualitas partisipasi dan kebersamaan di komunitas digital. Maka, terbuka lebar jarak antara yang serius berolahraga dan yang hanya membeli status.

Fenomena ini juga menandakan hubungan manusia yang menjadi dingin dan sesaat. Hubungan Penjoki Strava dan kliennya berdasarkan kepada transaksi ekonomis semata. Tidak ada interaksi di antara mereka dalam berolahraga.

Iklan

Baca juga: Kritik Masyarakat Hari Ini yang Ugal-ugalan dan Tunduk kepada Modal 

Dapat dipahami, tren joki Strava merupakan gejala yang menunjukkan bagaimana tekanan untuk berprestasi di ruang digital dapat mengikis nilai-nilai kejujuran dan menghilangkan makna sebuah proses. Nilai prestasi dan sportivitas pun menjadi objek transaksi, sehingga kualitas komunitas olahraga digital terancam menurun.

Bauman menekankan pentingnya kesadaran kritis dan refleksi diri. Dalam pemikirannya, ia ingin individu tidak larut dalam arus instan dan konsumerisme. Sebaliknya, setiap orang perlu membangun identitas dan makna hidup melalui pilihan yang sadar serta membina hubungan sosial yang lebih bermakna.

Dalam konteks joki Strava, solusi ala Bauman adalah memperkuat kembali solidaritas komunitas, menjaga kejujuran, dan menghargai proses. Ia mendambakan adanya tempat baik di dunia nyata maupun maya, yang bisa menjadi wadah orang-orang untuk saling berdiskusi dan mendukung. Dengan demikian, banyak orang tidak terjebak kepada hidup serba instan dan saling bersaing tanpa makna.

Lebih dari itu, perlu upaya kolektif untuk menyadarkan masyarakat bahwa esensi kebugaran adalah proses pengembangan diri, bukan sekadar hasil instan yang bisa dibeli. Langkah ini penting agar komunitas olahraga digital tetap berfokus pada pengembangan diri yang sehat dan menjunjung sportivitas, sehingga pengalaman berolahraga menjadi bermakna.

Penulis: Safira Irawati
Editor: Andreas Handy