Judul Buku : Pasar dan Karier Kembali ke Akar

Penulis : Dr. Muhammad Faisal

Penerbit : Penerbit Buku Kompas

Cetakan : 2022

Jumlah Halaman : xxi + 290 Halaman

ISBN : 978-623-346-627-1

Iklan

Kegamangan dan kegelisahan menghantui anak muda dalam memilih karier, kembali ke akar jadi solusi.

Kiwari, kondisi dunia ketenagakerjaan Indonesia masih dirundung banyak polemik. Sengkarut permasalahan mulai dari ketersediaan lapangan kerja, kesejahteraan pekerja, sampai jaminan kerja masih menghantui para tenaga kerja.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,86 juta orang pada Agustus 2023. Selain itu, buruh masih jauh dari kata sejahtera, Upah Minimum Provinsi (UMP) belum bisa memenuhi kebutuhan hidup buruh. Menurut perhitungan WageIndicator, UMP lebih rendah 1.100.000 rupiah atau 40 persen dari upah layak.

Tak terpenuhinya kesejahteraan buruh turut memicu permasalahan lain. Menurut survei yang dikeluarkan oleh Linkedin dan Censuswide pada tahun 2024 terhadap 1.004 pekerja Indonesia, 85 persennya mengaku masih ingin menemukan pekerjaan baru . Hal ini dikarenakan mereka ingin menambah penghasilan guna menyambung hidup.

Permasalahan ketenagakerjaan semakin kusut dengan masih banyaknya pekerja informal di Indonesia. Merujuk dari data BPS pada tahun 2023, terdapat 82,67 juta orang bekerja di sektor informal. Banyak dari mereka tidak mempunyai kepastian kerja dan jaminan kesehatan.

Menanggapi kondisi ini, lewat bukunya berjudul Pasar dan Karier Kembali ke Akar, Muhammad Faisal berusaha memberi solusi kepada generasi muda terkait sengkarut permasalahan ketenagakerjaan Indonesia yang terjadi. Pemerhati psikologi dan politik ini menilai generasi muda harus kembali akar.

Maksud Faisal kembali ke akar ialah kembali ke tradisi orang-orang terdahulu. Mencontoh bagaimana generasi-generasi terdahulu meniti karier.

Generasi dan Kariernya

Dalam pemikiran Faisal terdapat perbedaan pola anak muda dalam meniti karier di tiap generasinya. Ia membagi generasi-generasi ini menjadi empat: Alpha, Beta, Theta, dan Phi. Masing-masing memiliki semangatnya tersendiri dalam mencari karier.

Dimulai dari generasi Alpha, tumbuh di zaman sebelum kemerdekaan. Mereka merasakan pahitnya penjajahan oleh Belanda. Pada masa ini, hanya pribumi berpendidikan ala Eropa saja yang dapat bekerja dalam birokrasi Belanda. Sementara itu,  pribumi yang tidak mengakses pendidikan harus bekerja dengan standar kesejahteraan rendah. Maka dari itu, generasi Alpha memiliki bayangan bahwa pendidikan sangat penting untuk kelanjutan karier mereka. 

Iklan

Baca juga: https://lpmdidaktika.com/madilog-semangat-perjuangan-epistemologis/

Generasi ini juga memiliki karakteristik tekun dalam mempelajari sesuatu. Mereka menjadi pakar dalam bidang yang ditekuninya. Seperti Soekarno misalnya yang tekun mempelajari ilmu berpidato sedari masih tinggal di asrama Tjokroaminoto, lalu menjadi orator ulung di kemudian hari.

Generasi selanjutnya ialah Beta, didominasi oleh narasi “pembangunan” yang dicanangkan oleh presiden Soeharto. Narasi-narasi pembangunan Soeharto turut membangun persepsi anak muda dalam memandang masa depan. Hal ini memunculkan pemuda seperti Bacharuddin Jusuf Habibie, Adam Malik, Sarwono Kusamaatmadja hingga Widjojo Nitisastro. Para ahli pembangunan itu menjadi panutan para generasi Beta. 

Kemudian muncul generasi Theta yang biasa disebut sebagai generasi MTV. Mereka hidup di tengah liberalisasi ekonomi Orde Baru yang membuka investasi asing dan membawa budaya pop masuk ke Indonesia. Generasi ini banyak menginisiasi industri kreatif seperti music scene, lifestyle sport, fashion progressif, hingga inovasi kuliner. 

Lalu, lahirlah generasi Phi yang tumbuh di masa Reformasi. Pada akhir Orde Baru krisis ekonomi dan politik meledak, kemudian terjadi perubahan besar ekonomi maupun politik. Sayangnya di tengah perubahan ini, negara tidak memberikan tekanan narasi apapun tentang pasar, karier dan kerja. Lalu membiarkan masyarakat menentukan nasibnya sendiri.

“Di satu sisi negara tidak membangun narasi baru bagi pemuda (layaknya national character building di era pemerintahan Bung Karno, dan fokus pada pembangunan di era Orde Baru). (Hlm 57).

Tidak adanya narasi pemerintah disertai dengan masifnya globalisasi, membuat narasi kewirausahaan menguat dengan populernya pengusaha panutan anak muda seperti Steve Jobs. Ia berhasil sukses dengan mengikuti Passion-nya dalam dunia teknologi. 

Di sisi lain, hidup dalam dunia yang serba cepat, membentuk kepribadian Generasi Phi. Mereka memiliki karakter yang ingin serba instan, mempunyai keahlian mediocre (memiliki keahlian standar, tidak jago-jago amat), serta mental yang rapuh. 

Sebagai psikolog, Faisal membaca generasi ini dipenuhi kecemasan menatap masa depan. Selain karena tingginya persaingan yang ditandai oleh minimnya akses terhadap pekerjaan, krisis iklim merupakan salah satu faktor maraknya kecemasan. Fenomena ini membuat banyak kerusakan dan bencana alam terjadi, sehingga anak muda beranggapan mereka harus hidup di dunia yang penuh akan ketidakpastian.

 Selain kecemasan, Faisal memandang kalau generasi Phi juga terjebak dalam kegamangan. Generasi ini hidup di masa Void of Narration (kekosongan narasi), di mana setelah Orde Baru tidak ada lagi narasi besar yang tumbuh di kalangan anak muda, seperti di masa-masa sebelumnya.

Jangan Jadi Mediocre

Faisal berpandangan untuk menjawab permasalahan karier anak muda kini, kepakaran/keahlian menjadi kunci. karena pakar/ahli memiliki suatu keterampilan unik yang tak mudah tergantikan, yaitu fokus.

Cal Newport seorang PH.D dari MIT yang menyatakan bahwa kemampuan untuk bekerja secara fokus dalam waktu rentan yang lama pada domain spesifik akan menjadi sebuah keterampilan yang langka di masa depan.” Hal 137.

Orang-orang dengan keahlian mendalam akan lebih dibutuhkan, daripada mereka yang mediocre. Orang dengan kemampuan rata-rata akan mudah terdepak dengan orang lain.

Untuk menjadi ahli/pakar perlu waktu dan ketekunan. Setidaknya menurut Malcolm Gladwell, seorang penulis majalah The New York Times menyatakan perlu minimal 10.000 jam untuk menjadi ahli dalam bidang tertentu. 

Dalam hal ini Faisal memandang salah satu jalur untuk mencapai kepakaran/keahlian, yaitu dengan berkaca dari generasi Alpha. Mereka sangat menjunjung tinggi pendidikan dan tekun dalam mempelajari suatu hal. Karakter ini menciptakan manusia dengan keahlian yang tidak mudah tergantikan.

Akan tetapi, melihat biaya pendidikan hari ini yang kian tak terjangkau, justru menutup akses banyak orang untuk menjunjung tinggi pendidkan. Belum lagi dunia pendidikan kini masih belum kompeten untuk menciptakan pakar atau ahli. Dengan kurikulum Merdeka Belajar, pelajar lebih dibentuk untuk menjadi pekerja daripada menciptakan ahli di bidang tertentu.

Faisal dengan analisis psikologi memotret gejolak anak muda dalam karier dari generasi ke generasi. Ia lalu menyimpulkan kepakaran menjadi solusi untuk hari ini. Namun, solusi dari Faisal cenderung mengembalikan permasalahan ke individu masing-masing. Berkebalikan dengan analisis masalahnya yang berskala makro, akan tetapi solusinya justru menekankan di skala mikro.

Penulis: Asbabur

Editor: Andreas Handy