Judul Buku: Bisnis Perbudakan Seksual: Menelusuri Perdagangan Perempuan dan Anak-anak Internasional
Penulis: Lydia Caco
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun Terbit: 2021
ISBN: 978-602-0788-11-1

“Dulu, saya jualannya di daerah Mangga Besar. Tapi di sana mah banyak banget godaannya, banyak yang open bo. Saya sampai diminta jadi mata-mata buat ngawasin cewek-cewek yang kerja di sana sama si mami. Terus juga banyak yang dijual sama orang tuanya,” ucap si pedagang bakso.

Percakapan itu terjadi di malam Selasa, 15 Desember 2025 ketika saya sedang menyantap semangkuk bakso hangat di depan pagar rumah besar. Obrolan itu awalnya hanya menanyakan asal-usul si abangnya saja, namun ia langsung menyerbu dengan cerita masa lalunya itu.

Obrolan singkat itu membuat tercenung, pikiran saya melangkah jauh ke satu kasus yang baru-baru ini terjadi. Pada awal Oktober (2/10) 2025 seorang remaja berinisial RTA ditemukan tewas di lahan kosong belakang gudang TIKI, Pejaten, Jakarta Pusat. Korban bekerja sebagai terapis di Delta Spa.

Di balik kematiannya yang mengenaskan, terdapat dugaan eksploitasi dan terindikasi perdagangan orang. Hal itu diperkuat dengan keterangan kakak korban yang mengatakan jika adiknya merasa tertekan dan ingin berhenti dari pekerjaannya. Namun, keinginan itu harus runtuh terhalang denda sebesar Rp50 juta jika adiknya mengundurkan diri.

Baca juga: Althusser Pembunuh: Banalitas Kejantanan dalam Dunia Akademis

Iklan

Jika menelisik lebih luas lagi, anak perempuan maupun laki-laki masih dianggap sebagai komoditas penghasil laba besar. Menurut laporan International Labour Organization (ILO) pada tahun 2018, sebanyak 5,5 juta anak masih menjadi korban eksploitasi seksual. Di Indonesia sendiri, kasus child sex tourism masif terjadi di daerah-daerah pariwisata.

Anak-anak dijual oleh keluarganya atas dasar kemiskinan, hingga perempuan imigran yang disekap dan dipaksa melayani puluhan pelanggan tiap harinya. Dalam hal ini, banyak pihak terlibat dalam bisnis pelanggeng budaya patriarkal itu. Dari lingkup kecil sampai besar, berada di balik layar bisnis perbudakan seksual. Ayah – ibu - masyarakat -  institusi agama – institusi pendidikan - negara.

Salah satu contohnya terjadi di negara Kamboja, di sana beredar sebuah kalimat masif dan wajar. “Anak perempuan diperuntukkan menjadi pelacur, anak laki-laki menjadi mucikari,” begitulah kalimatnya. Di Kamboja sendiri, kebanyakan orang tua melacurkan anaknya disebabkan oleh kemiskinan struktural dan budaya patriarki yang masih mengakar.

Beberapa kasus di atas bukanlah sebuah fenomena kebetulan semata. Melainkan, fenomena struktural yang memakan banyak korban selama dua dekade belakangan. Lydia Cacho dalam bukunya, “Bisnis Perbudakan Seksual: Menelusuri Perdagangan Perempuan dan Anak-anak Internasional” mengupas dengan apik akar permasalahan dari fenomena tersebut.

Buku itu membahas motif bisnis perbudakan seksual di beberapa negara berkembang seperti Kamboja, Myanmar, Thailand, Turki dan Mexico. Motifnya satu, untuk kepentingan ekonomi yang menjadikan tubuh perempuan dan anak-anak sebagai komoditas utama.

Pasar Bebas Menjadi Pelumas Perbudakan Seksual

Di tengah dunia modern yang berkilau oleh jargon kebebasan global dan kemajuan, Cacho justru melihat kedua hal itu sebagai pelumas perbudakan seksual perempuan dan anak. Cacho mengunjungi negara demi negara—dari Meksiko ke Thailand, dari Turki ke Israel, dari Spanyol ke Jepang—menemui perempuan yang dijual, anak-anak yang dilacurkan, dan para pelaku yang bersembunyi di balik label legalitas industri hiburan dan pariwisata.

“Ibu mereka jatuh sakit dan perlu uang, maka gadis muda itu bekerja di panti pijat Thailand. Bisnis ini serupa omices di Jepang. Mereka terdaftar dan diiklankan sebagai panti pijat, tetapi pada kenyataannya para perempuan muda itu selain memijat juga harus merancap pelanggan mereka,” (halaman 83).

Melalui penelusurannya, Cacho mengungkap bagaimana jaringan ini bekerja lintas negara. Mulai dari perekrutan lokal dan agen perjalanan, kemudian pemalsuan dokumen, dan dimudahkan oleh pejabat negara yang korup. Di balik data dan dokumen itu, terdapat banyak anak dan perempuan yang dijanjikan pekerjaan di luar negeri, namun berakhir di rumah bordil.

Dengan pendekatan ekonomi-politik yang tajam, tubuh perempuan dan anak-anak menjadi bagian dari rantai industri global. Dalam dunia yang diatur oleh kapitalisme dan liberalisasi pasar, tubuh menjadi komoditas paling fleksibel— dapat dijual berulang-ulang, tak pernah habis, dan selalu ada permintaan.

“Menurut laporan, 50.000 gadis di bawah usia 18 tahun diperdagangkan dari Vietnam untuk eksploitasi seksual dalam kondisi diperbudak, diperas, dan kelaparan. Gadis berusia kurang dari 10 tahun diberi 1 euro oleh mucikarinya untuk layanan yum-yum kepada seorang pria Eropa, padahal mucikari itu memungut bayaran 40 euro,” (halaman 269).

Iklan

Tubuh yang dijadikan komoditas oleh kapital, berkaitan erat dengan politik global. Di mana, liberalisasi ekonomi akhirnya memperlebar jurang ketimpangan dengan kebijakan-kebijakan yang misoginis. Contohnya saja kebijakan imigrasi yang menciptakan pasar bagi pekerja imigran tanpa adanya perlindungan hukum. Belum lagi pariwisata seks tumbuh subur di Asia Tenggara; Thailand, Filipina, Kamboja, juga Indonesia yang memburamkan eksploitasi seksual sebagai “budaya eksotis”.

Jika merujuk pada data International Labour Organization (ILO) tahun 2024, yang bertajuk “Profits and Poverty: The Economy of Forced Labour”. Angka keuntungan dari bisnis perbudakan seksual di wilayah Asia-Pasifik mencapai sekitar Rp430 juta dari setiap korban eksploitasi seksual per tahunnya. Hal itu memperlihatkan, bisnis perbudakan seksual bukan sekedar kejahatan ringan saja, melainkan industri raksasa yang mengorbankan perempuan dan anak.

Sebenarnya, perbudakan seksual bukanlah hal yang baru, melainkan sistem ekonomi yang terus hidup dan berkembang dalam wajah baru. Perbudakan seksual perempuan dan anak saat ini dipengaruhi oleh struktur global yang masih mewarisi ketimpangan lama antara negara maju dan negara berkembang. Dalam setiap kisahnya tersirat satu pola yang berulang, tubuh perempuan dari negara berkembang dieksploitasi untuk memenuhi fantasi seksual orang-orang di negara maju.

Di titik ini Bisnis Perbudakan Seksual menjadi buku yang lebih dari sekadar investigasi kriminal, ia adalah tafsir sosial-politik atas tubuh dan kuasa. Tubuh perempuan, bukan hanya korban kekerasan, tetapi juga medan pertarungan antara kapital, patriarki, dan kolonialisme modern.

Dalam konteks Indonesia, di tengah maraknya kasus perdagangan orang dan pekerja migran, budaya yang hari ini tercipta masih sangat menindas perempuan. Hal itu dapat dilihat dari sistem kebijakan dan institusi yang ada, masih bersifat patriarkis. Absennya payung hukum bagi kerja-kerja keperawatan mencerminkan betapa rendahnya nilai kerja perempuan di mata negara.

Belum lagi kebijakan-kebijakan lain yang justru memperparah angka kemiskinan di Indonesia. Pun, institusi keagamaan dan pendidikan saat ini masih terus memproduksi nilai-nilai patriarki untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas. Menyebabkan, perempuan dan anak miskin terpaksa mencari jalan pintas untuk menaikkan strata ekonomi keluarganya.

Baca juga: Bertukar Tubuh

Oleh karenanya, tidak heran bila perbudakan seksual perempuan dan anak masih masif terjadi di Indonesia. Karena pada dasarnya, eksploitasi seksual tidak bisa dipisahkan dari sistem ekonomi dan budaya yang menindas perempuan.

Untuk melawan dan meruntuhkan perbudakan seksual dan perdagangan manusia, tidak cukup hanya dengan moralitas semata. Diperlukan kerja politik, kebijakan internasional yang berpihak, dan pendidikan yang membongkar akar patriarki dan ketimpangan ekonomi.

Bisnis Perbudakan Seksual adalah buku yang mengguncang sekaligus menerangi. Lydia Cacho menunjukkan bahwa jurnalisme bisa menjadi bentuk perlawanan paling radikal ketika ia berpihak pada kemanusiaan. Melalui setiap kisah, ia mengingatkan kita bahwa di balik statistik dan laporan ekonomi, ada tubuh yang terluka, ada anak-anak yang direnggut masa depannya, dan ada perempuan yang menanggung aib dunia.

Sayangnya, buku ini kurang mendalami bagaimana transformasi sistem ekonomi makro dalam kaitannya dengan perbudakan seksual itu sendiri. Pun, Lydia Cacho kurang memberikan tawaran bagaimana kita merombak struktur ekonomi yang menjadikan tubuh perempuan dan anak sebagai komoditas.

Penulis: Anna Abellina Matulessy
Editor: Annisa Inayatullah