Judul Buku: Why is Sex Fun?

Penulis: Jared Diamond

Penerbit: Basic Books

Cetakan: Pertama, September 1997

Tebal Buku: 168 hlm

Di zaman kiwari kita mengenal seks untuk tujuan rekreasi. Berbagai jenis aktivitas seksual hadir, guna memuaskan birahi kita yang tak pernah puas. Tapi mengapa begitu?

Iklan

Saat ini, manusia mengenal seks tak sekadar untuk membuat anak, tapi juga bersenang-senang. Aktivitas seksual biasa digambarkan lewat kata-kata seperti seks anal, seks oral, ciuman, gerepe. Sehingga seks dipahami sebagai dua hal sekaligus, yaitu prokreasi dan rekreasi.

Seiring perkembangan zaman terus bermunculan variasi baru aktivitas seksual. Contohnya onani, dimana kita bisa merasakan sensasi seks tanpa bersetubuh. Hanya dengan menonton film porno, seseorang bisa memuaskan berahinya bahkan sampai ejakulasi.

Namun, pernahkah terbesit di pikiran kita mengapa prilaku seks hewan mamalia lainnya tidak sama dengan kita?

Hewan memahami aktivitas seksual hanya untuk membuat anak. Mereka sekadar menembakkan sperma kedalam vagina si betina untuk menyalurkan gen. Sedangkan manusia mengalihfungsikannya sebagai sarana rekreasi.

Mengenai hal itu, Jared Diamond seorang ahli biologi dan penulis asal Amerika Serikat dalam bukunya Why is Sex Fun? Memberikan penjelasan melalui kacamata biologi tentang perilaku seksual kita.  Baginya, perilaku seks yang sekarang diketahui manusia merupakan dampak dari evolusi untuk mempertahankan spesies.

Jared Diamond Why is Sex Fun?
Jared Diamond seorang Profesor Geografi dan Fisiologi Universitas California. Salah satu bukunya yang sempat mendapatkan Pulitzer adalah Bedil, Kuman, dan Baja (1997).

Sebelumnya, manusia hanya mengenal seks untuk tujuan beranak-pinak. Sama seperti gorila, manusia guna melakukan persanggamaan, si laki-laki akan mengincar perempuan-perempuan yang sedang tidak mengandung untuk dihamili. Lalu setelah mereka menghamili satu perempuan, ia akan menghamili perempuan lainnya. Begitu seterusnya sampai ia meninggal.

Selain itu, dulunya manusia melakukan sanggama juga dilakukan secara terang-terangan. Tujuannya untuk menginformasikan jika perempuan itu sudah dihamili, maka laki-laki akan mencari perempuan lain dan tidak membuang-buang tenaganya.

Masa itu, Perempuan memiliki tugas tersendiri untuk mencari makan dan menjaga anak mereka sampai bisa mencari makanan secara mandiri. Kemudian, saat telah dewasa sang anak akan mengulangi siklus tersebut. Sayangnya melahirkan lalu merawat anak tidak semudah yang dibayangkan. Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam berkembang biak; proses melahirkan, mebesarkan anak, dan makanan.

Baca Juga:Mengapa Terjadi Ketimpangan di Berbagai Negara?

Secara biologis manusia tidak sekuat mamalia lainnya. Pertama, melahirkan itu sangat berbahaya bagi perempuan. Perbandingannya perempuan dengan berat 45 kg biasanya melahirkan anak dengan berat 2-3 kg. Sedangkan gorila dengan berat 90 kg hanya melahirkan anak seberat kisaran 1-2 kg. Ini yang menyebabkan banyaknya kematian saat proses melahirkan.

Iklan

Selain perihal melahirkan, anak manusia juga lebih sulit dibesarkan. Ia membutuhkan pengasuhan yang lebih lama dan harus diberi ASI sampai umur dua tahun. Bila dibandingkan dengan mamalia lain, misal anak kucing, hanya membutuhkan empat minggu untuk bisa hidup tanpa susu ibunya.

Perlu diperhatikan pula soal makanan. Manusia tidak diciptakan secara spesifik untuk mengkonsumsi makanan tertentu. Kita juga tidak punya bentuk fisik khusus yang mendukung, guna mencari makanan. Karenanya manusia menciptakan alat-alat berburu dan api. Namun semua itu memerlukan tenaga dan modal, tak serta merta muncul begitu saja.

Kesulitan-kesulitan ini yang membuat perempuan harus memutar otak dalam berhubungan seksual. Jared mengungkapkan, terdapat dua taktik hubungan seksual yang digunakan perempuan untuk bisa hidup dan menghidupi anak-anaknya. Pertama daddy-at-home theory, yaitu ketika perempuan mengguankan seks, guna menjaga pasangannya tetap di rumah, juga meningkatkan kepercayaan laki-laki kalau yang dikandung itu benar-benar anaknya. Sehingga si laki-laki mau membagikan hasil buruannya untuk menghidupi sang perempuan dan anaknya.

Lalu kedua many-fathers-theory. Berbalikan dengan daddy-at-home theory, cara kedua ini tidak menjaga laki-laki tetap dirumah tapi tetap membuat laki-laki mau membagikan hasil buruannya dengan menjajakan seks sebagai gantinya. Perempuan akan pergi ke beberapa goa sambil menjajakan seks untuk ditukarkan dengan daging buruan, lalu membawanya pulang. Dengan ini perempuan dan anak-anaknya bisa tetap substen.

“The daddy-at-home theory posits that concealed ovulation evolved to promote monogamy, to force the man to stay home, and thus to bolster his certainty about his paternity of his wife’s children. The many-fathers theory instead posits that concealed ovulation evolved to give the women access to many sex partners and thus to leave many men uncertain as to whether they sired her children.” (Hlm. 75)

Sekilas kedua teori tersebut terlihat berbeda, namun mereka bermuara ke aktivitas seksual yang privat. Karena keduanya mengandalkan ketidaktahuan laki-laki supaya berhasil. Dari sinilah senggama mulai dikembangkan menjadi aktivitas rekreasi. Perempuan menggunakan rasa kesenangan ini menjadi daya tawar untuk laki-laki supaya mau menukarkannya dengan makanan.

Setelahnya aktivitas seksual terus berevolusi menjadi berbagai macam variasi, tak hanya untuk menyenangkan laki-laki tapi perempuan juga. Meski begitu, perkembangannya tidak jauh-jauh dari rekreasi. Salah satu yang memanfaatkan perkembangan ini ialah industri porno. Mereka menggunakannya untuk meraup keuntungan besar.

Dalam buku ini, Jared menunjukkan kalau kerentanan perempuan mengubah gaya kita bersenggama. Seolah-olah perempuan memang lemah dan laki-laki tidak pernah peduli dengan perempuan. Ia melewatkan bagian penting di masa purba ketika laki-laki dan perempuan mempunyai pembagian kerja yang seimbang.

Selebihnya buku ini bagus untuk kalian yang ingin mengenal seks lebih dalam tapi tidak tahu mulai dari mana. Meski begitu buku ini tidak cocok dijadikan rujukan utama untuk memahami seks. Mengutip perkataanya dalam bab terakhir, “buku ini hanya jadi kancah pengetahuan alternatif mengenai sejarah perkembangan seks”.

 

Penulis: Riyas

Editor: Abdul