Judul Buku: Kajian Kritis Das Kapital Karl Marx

Penulis: Anthony Brewer

Penerbit: Narasi, Pustaka Promethea

Tahun: 2016

Tebal Buku: 317 hlm

ISBN: 978-979-168-457-6

Iklan

 

Setiap 1 Mei, tak pernah luput kita saksikan iring-iringan aksi para buruh yang tumpah ruah turun ke jalan. Kesejahteraan buruh selalu dielu-elukan, wacana penghancuran kapitalisme pun masih terus digaungkan.

Kehidupan kita hari ini memang tak bisa lepas dari sistem kapitalisme yang sudah mengakar dan menjadi kebiasaan dalam segala sisi masyarakat. Uang yang selama ini kita gunakan, adalah bentuk nyata dari keberadaan sistem kapitalisme di antara kita. Pada akhirnya kita harus bekerja untuk mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kapitalisme bukanlah lagi menjadi sesuatu yang asing, dan bisa dijelaskan secara objektif.

Marx menjelaskan kapitalisme sendiri sebagai sebuah kondisi masyarakat yang terbagi-bagi dalam kelas, yaitu kelas kapitalis dan juga kelas proletar. Kelas kapitalis adalah kaum yang memiliki modal, lahan, dan alat produksi. Mereka yang berjumlah sedikit ini, memonopoli proses produksi yang nantinya akan dikerjakan oleh kaum proletar. Kaum proletar sendiri adalah kaum pekerja, yang tidak memiliki modal apa-apa selain tenaga kerja mereka. Mereka bekerja kepada si kapitalis dan mendapatkan gaji dari pekerjaan mereka.

Lebih lanjut lagi, Marx mengemukakan rumusnya soal sirkuit kapital, sebuah proses si kapitalis dalam mencari keuntungan nilai lebih. pertama, si kapitalis mengeluarkan uang untuk membeli sebuah komoditas, yang diproses hingga memiliki nilai lebih, dan menjualnya dengan harga lebih mahal.

Dari manakah datangnya nilai lebih itu? Marx menyebutkan, bahwa esensi dari nilai adalah kerja. Para pekerja menjual tenaga-kerjanya kepada si kapitalis, yang kemudian mengolah sebuah komoditi sehingga komoditi itu memiliki nilai lebih.

Anthony Brewer seorang Profesor Emeritus bidang Sejarah Ekonomi Universitas Bristol, Britania Raya.

Besarnya nilai lebih ini ditentukan dari jumlah kerja para pekerja, yang biasanya dihitung berdasarkan jam kerja dalam satu hari, yang terkadang dibayar hari itu juga, ataupun perbulannya. Marx mengatakan, bahwa produksi kapital sangat bergantung pada intensitas kerja dan jam kerja yang dilakukan. Perusahaan akan terus menaikan jam kerja sehingga semakin banyak kapital yang akan didapat. Akan tetapi jam kerja yang terlalu panjang malah akan membuat pekerja kelelahan, yang malah akan menurunkan laju produksi secara para pekerja tak akan bisa bekerja secara maksimal. Hal ini berubah saat datangnya revolusi industri yang memperkenalkan mesin-mesin masuk ke dalam pabrik.

Mesin-mesin ini meringankan beban pekerjaan yang berat menjadi lebih ringan berkat perkembangan teknologi. Pekerjaan yang awalnya membutuhkan waktu lama dan tenaga lebih, dapat dikerjakan dengan cepat dengan bantuan mesin. Hal ini seharusnya dapat memudahkan para pekerja dalam melakukan pekerjaan. Akan tetapi, dengan semakin mudahnya pekerjaan, tenaga manusia seakan tak lagi dibutuhkan. Pabrik-pabrik mulai memecat pekerjanya dan menggantinya dengan mesin sehingga menyebabkan banyaknya angka pengangguran.

Dengan masuknya mesin ke dalam pabrik, keterampillan dalam bekerja menjadi tidak relevan lagi. Pekerjaan dibagi menjadi berbagai bagian mudah yang tak memerlukan kemampuan khusus. Dengan proses produksi secara seluruhnya dikuasai oleh kaum kapitalis, para pekerja tidak memiliki apa-apa lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Mereka sudah terlalu terbiasa dengan kemudahan-kemudahan mesin di dalam pabrik, sehingga saat mereka keluar dari pekerjaannya di pabrik, mereka tidak memiliki kemampuan apapun untuk mendapatkan uang.

Sistem kapitalisme memaksa para pekerja untuk selalu tunduk dan bekerja di bawah kekuasaan si pemilik alat produksi, yaitu si kapitalis. Permasalahannya adalah, seluruh nilai lebih yang dihasilkan dari jeri payah kaum pekerja, hanya dinikmati oleh si kapitalis. Entah itu untuk kesenangan pribadi si kapitalis, atau digunakan sebagai modal untuk proses produksi kapital selanjutnya, para pekerja hanya mampu menyambung hidup tanpa meningkatkan taraf hidupnya.

Iklan

“Masalahnya di sini ialah di dalam suatu sistem kapitalis, sang kapitalis sudah punya tujuan sebagai pemilik tenaga-kerja kaum pekerja. Pada tulisannya yang terdahulu, Marx menyatakan bahwa tujuan berproduksi adalah sebagian dari ‘sifat alamiah manusia’ pada para pekerja menderita ‘penyimpangan’ di dalam sistem kapitalis, sebab tujuan kerjanya dipaksakan atas mereka” (hlm. 63)

Ketergantungan ini menjadi penghalang bagi kaum pekerja untuk mencapai kesejahteraan yang merata. Monopoli alat produksi, hingga akumulasi kapital hanya akan menguntungkan si kapitalis, yang secara langsung menjadikan kaum pekerja hanya sebagai objek pencari keuntungan.

Intisari dari pemikiran Marx dirangkum dan diterangkan dengan singkat dalam buku ini, meringkas tebalnya tiga jilid Das Kapital, dan mengurangi bagian-bagian yang dirasa tidak terlalu signifikan dalam seluruh pembahasan. Akan tetapi, penafsiran tulisan Marx di sini tidaklah menjawab permasalahan dalam cetakan asli Das Kapital, yaitu bahasanya yang rumit. Malah, tata bahasa yang berbeit-belit semakin mengaburkan intisari dari pembahasan Marx.

Dengan membaca buku ini, mungkin akan membantu kita lebih mudah dalam memahami pemikiran dan teori yang digagas oleh Marx soal kapitalisme dan cara kerjanya. Walau terlihat sebagai buku ekonomi, ada sedikit selipan-selipan pemikiran revolusioner dan semangat perlawanan dari Marx sebagai kritik dari kapitalisme itu sendiri.

“Menurut sejarahnya Marxisme memilki dua dimensi: pertama, sebagai teori ilmiah, kedua, sebagai proyek politik revolusioner, namun dalam kenyataanya kedua dimensi ini amatlah sulit untuk dipisahkan.”

 

Penulis: Walid

Editor: Asbabur Riyasy