Kelas buruh memiliki peran penting dalam struktur ekonomi, tapi ia justru menjadi kelompok yang miskin di masyarakat kapitalis. Hal ini karena kelas buruh tidak mempunyai alat produksi sendiri. Padahal, tanpa kelas buruh, kerja produksi dapat mandeg, bahkan terjadi kelangkaan.
Di masyarakat kapitalis, kelas buruh hanya semata-mata dihisap tenaganya agar akumulasi modal bisa berjalan. Hal itu membuat kelas buruh tetap saja tidak sejahtera meskipun ia sudah bekerja keras.
Sudah diupah murah serta mendapat beban kerja yang berlebih, kelas buruh terus mengalami ketertindasan. Hal ini menimpa seluruh kelas buruh, baik yang kantoran maupun industri.
Padahal, seharusnya kerja menjadi cara masing-masing individu untuk beremansipasi dalam kehidupan sosial, bukan penyebab ketertindasan. Sebab, kerja menjadi tindakan nyata yang berasal dari individu untuk memengaruhi kehidupan sosial.
Lantas, pertanyaannya mengapa kerja itu bisa berubah menjadi sebagai penindas, bukan sarana kelas buruh untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan?
Baca juga: Sisi Tergelap Surga: Potret Sulitnya Kehidupan Pekerja Informal di Jakarta
Untuk mencari jawaban atas pertanyaan di atas, perlu kiranya mendefinisikan manusia dan pekerjaan dengan merujuk ke pemikiran Karl Marx ihwal filsafat manusia melalui Naskah-naskah Paris (1844). Marx menganalisis faktor-faktor sentral keterasingan manusia dalam ranah pekerjaan. Dalam naskah itu, Marx melihat gambaran bahwa manusia sebagai makhluk berakal seharusnya bertindak secara alamiah, universal, hingga bersosial untuk mencapai emansipasi manusia dalam hal kemanusiaan.
‘Humanisme Marx’ mengilhami manusia tidak boleh dinafikan sisi-sisi kemanusiaannya. Apabila terdapat sekat-sekat yang membatasi kebebasan dan kemanusiaan, emansipasi manusia sebagai makhluk individu yang bebas dan bersifat sosial akan termarjinalkan.
Marx memisahkan hakikat kerja antara binatang dengan manusia. Perbedaannya adalah binatang selalu bertindak sesuai dengan insting kebinatangannya. Dalam artian, binatang tidak perlu bekerja karena dapat langsung memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dari alam. Tanpa perlu mengubah maupun mencipta sesuatu melalui ‘kerja’.
Sementara itu, manusia perlu ‘bekerja’ untuk mengubah atau mencipta sesuatu, karena alam sendiri belum sesuai dengan kebutuhan manusia. Misalnya, manusia harus mengubah sumber daya yang berasal dari alam untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya; seperti makanan, tempat tinggal, maupun pakaian.
Oleh karena itu, Marx menilai manusia sebagai makhluk ganda yang aneh. Di satu sisi, manusia adalah ‘makhluk alami’ seperti binatang yang membutuhkan makanan, beranak pinak, dan mati. Namun di lain sisi, manusia menganggap alam sebagai entitas yang asing. Manusia harus terlebih dulu menyesuaikan alam dengan kebutuhan-kebutuhannya.
Manusia melalui ‘kerja’, mengubah dan mencipta secara bebas dan universal sesuai dengan kebutuhan maupun kehendaknya. Misalnya, memanfaatkan pohon (dengan mengambil kayunya) untuk dijadikan sebagai bahan membangun tempat tinggal. Selain itu, manusia juga dapat memanfaatkan kayu untuk membuat kursi, lemari, ataupun patung sebagai hiasan (estetika) —bukan sekadar menurut kebutuhan, akan tetapi juga sesuai kehendaknya (bebas dan universal).
Oleh karena itu, Marx mengemukakan bahwa manusia dalam bekerja berarti mengambil bentuk alami dari objek alami, kemudian mengubahnya sesuai dengan kehendaknya. Alhasil, manusia dapat meng-emansipasi-kan dirinya melalui pekerjaannya, karena mendapat kepastian dari bakat dan kemampuan yang dimilikinya.
Lebih lanjut, ‘makna’ pekerjaan manusia terejawantahkan dalam perasaan bangga. Segenap tenaga yang tercurah hingga rasa lelah, tidak berarti apapun ketika dihadapkan dengan kebanggan melihat hasil pekerjaannya. Manusia akhirnya dapat membuktikan bahwa dirinya adalah manusia. Dus, pekerjaan membuktikan bahwa manusia tidaklah berkhayal, melainkan menjadi nyata.
Kendati demikian, Marx juga menyinggung perihal sifat sosial manusia. Sebab, sifat bebas dan universal manusia dalam bekerja tidak dimaknai sebagai sebuah sikap individualistik, karena manusia hakikatnya sebagai makhluk sosial. Akan tetapi, pekerjaan seorang manusia terhubung secara sosial dengan melibatkan peran individu lainnya.
Apakah seniman dapat memperoleh bahan dasar membuat patung dengan sendirinya? Tentunya bila ditelaah secara sosial, bahan dasar seorang seniman diperoleh sebab adanya manusia-manusia yang bekerja sebagai penambang batu atau tukang kayu.
Selain itu, semua proses dan hasil pekerjaan manusia saling membutuhkan satu sama lain. Seniman yang membutuhkan bahan dasar untuk membuat produk seni, maupun seseorang yang menyediakan bahan dasar kepada si seniman itu.
Jadi, pekerjaan manusia saling memenuhi kebutuhan orang lain. Tak ayal, suatu pekerjaan ternyata dapat membuat orang lain gembira. Karena hasil dari pekerjaan manusia dibutuhkan dan berharga bagi manusia lainnya. Alhasil, seorang manusia mengetahui bahwa dirinya berarti bagi orang lain.
Kapitalisme dan Keterasingan Manusia
Melalui bukunya The Origins of Capitalism, Ellens Wood meneliti lahirnya sistem ekonomi kapitalisme di dalam bumi manusia. Pada abad ke-18, terjadi konsolidasi para saudagar kaya raya di Eropa Barat. Mereka merasa bahwa feodalisme saat itu yang menganut sistem ekonomi merkantilisme terlalu mengintervensi pasar, mengekang privatisasi, serta kebebasan individu.
Syahdan, para saudagar kaya raya itu melakukan pemberontakan untuk menumbangkan feodalisme yang dinilai terlalu despotis. Pada Juli 1789 meletus Revolusi Perancis pertama atau bisa disebut sebagai Revolusi Borjuis untuk meruntuhkan feodalisme.
Selain itu, lahirnya sistem kapitalisme ditandai terjadinya revolusi industri yang terjadi di Inggris pada pertengahan abad ke-18. Saat itu, pembangunan pabrik hingga pemanfaatan mesin untuk menggenjot hasil produksi terjadi secara masif.
Ellens melihat faktor-faktor itu sebagai peralihan dari sistem feodalisme absolut ke sistem kapitalisme. Kembali ke Marx, kapitalisme adalah sistem dimana modal menjadi faktor sentral untuk menguasai alat produksi (privatisasi) demi memeroleh keuntungan maksimal. Pun, kapitalisme juga menghendaki terciptanya pasar bebas agar perekonomian berjalan efektif serta negara tidak boleh mengintervensi berjalannya pasar bebas.
Di sini Marx melihat kejanggalan kapitalisme. Sebab, mengapa masifnya pertumbuhan modal dan laju pembangunan industri malah melahirkan ketimpangan sosial antara kelas pemilik modal (borjuis) dengan kelas yang tidak memiliki modal (proletar)? Selanjutnya, Marx menilai bahwa kapitalisme adalah sumber ketertindasan manusia dan menggerus hakikatnya sebagai makhluk sosial.
Kejanggalan itu dapat dilacak ketika kelas borjuis bergeliat untuk akumulasi modal. Caranya, mengeluarkan modal untuk proses produksi seefisien mungkin, akan tetapi dapat menghasilkan produk sebanyak mungkin.
Karena kelas proletar tidak memiliki alat produksi, mereka terpaksa menjual tenaga kerjanya kepada kelas borjuis sebagai sarana reproduksi sosial. Dalam artian, kelas proletar membutuhkan uang untuk menafkahi dirinya maupun keluarganya.
Walhasil, kelas borjuis memanfaatkan kerentanan kelas buruh untuk mewujudkan akumulasi kapital. Ketika kelas buruh bekerja, terjadilah praktik eksploitasi melalui panjangnya waktu kerja, upah murah, hingga beban kerja berlebih.
Praktik-praktik eksploitasi terhadap kelas buruh menimbulkan dampak negatif. Marx, melalui Teori Pencurian Nilai Lebih (Surplus Value of Theory), menganalisa ketika kelas buruh dieksploitasi, mereka tidak dapat melakukan proses reproduksi sosial secara maksimal.
Misalnya, perihal panjangnya waktu kerja. Kelas buruh akan sulit memeroleh waktu luang sebagai sarana mengaktualisasi diri maupun sekadar berkomunikasi dengan keluarganya. Sebab, sebagian besar waktu buruh dicurahkan hanya untuk bekerja, dan bekerja.
Kemudian terkait beban kerja berlebih. Ketika pekerjaan yang dilakoni buruh tak pernah ada hentinya. Walakin, buruh tidak memiliki waktu rehat yang cukup. Dampaknya, buruh akan mudah terkena penyakit karena kelelahan bekerja.
Hal-hal tersebut di atas bukan hanya berdampak seorang buruh mengalami keterasingan diri. Lebih lanjutnya, seorang buruh juga akan mengalami keterasingan dari lingkungan sosialnya. Seorang buruh —sebagai individu sosial— sukar mendapatkan ruang sosial sebagai wadah menjalin komunikasi dan afirmasi diri secara sosial.
Apalagi, ketika ‘fenomena keterasingan’ secara kolektif menjangkit mayoritas kelas buruh, khususnya di Indonesia. Melalui analisis Byung-Chul Han ihwal Burnout Society, bagaimana masyarakat hidup di zaman modern seperti sekarang ini rentan mengalami kelelahan hidup akibat bekerja.
Baca juga: Jerat Kapitalisme dalam Kesadaran Palsu Pekerja
Sebabnya, individu-individu acap kali dituntut untuk selalu bergerak lewat bekerja. Entah itu untuk mengejar prestasi individu, ataupun sekadar menyelesaikan tuntutan pekerjaan. Alhasil, seorang individu —secara tidak disadari— terus memacu dirinya dalam bekerja hingga batas maksimal kekuatan tubuh. Dampaknya, tercipta kelelahan dalam diri yang bersifat destruktif, seperti; depresi, keterasingan diri, hingga kehampaan hidup.
Tak ayal, dari dari faktor-faktor tersebut, terciptalah sebuah masyarakat modern yang kelelahan. Antusias dalam mengerjakan tujuan hidup melalui pekerjaan tak akan pernah ada habisnya. Individu-individu dikonstruk untuk menjadi pemenang dalam pertarungan modal. Padahal, seorang individu dalam arena pertarungan tidak pernah menemukan titik kebahagiaan. Karena, mereka satu sama lain bertarung, sehingga mereduksi hakikatnya sebagai makhluk sosial.
Dari penjelasan rinci di atas, penulis berkonklusi. Selama sistem kapitalisme masih langgeng di muka bumi, maka kerentanan buruh akan terus terjadi. Nirkesejahteraan hingga keterasingan akan terus menghantui kelas buruh.
Apalagi, ketika kapitalisme semakin bermetamorfosis ke arah digital. Dimana, setiap ruang lingkup kehidupan masyarakat dikontrol secara masif, melalui algoritma. Keinginan dan kehendak manusia yang bersifat bebas dan universal —secara tidak langsung— dibajak untuk tunduk ke dalam arus pasar bebas hingga persaingan sosial.
Penulis: Lalu Adam Farhan Alwi
Editor: Naufal Nawwaf

