Nafas tersenggal-senggal, tubuh penuh keringat, dan tas gendong berat berisi setumpuk kertas laporan, rutinitas yang selalu aku jalani kiranya hampir satu tahun terakhir. Ditemani musik yang diputar berulang kali, aku menerobos batas kota, setiap hari.

Seringkali bensinku tiris di jalan, sialnya uang mingguan telah tandas menjadi makanan, atau tak jarang menjadi biaya cetak empat laporan sekaligus yang mencapai puluhan ribu. Uangku tak sempat bercengkrama dengan tangan tukang kebun penjual tanaman dan hewan Jatinegara. Seringkali pengadaan bahan penuh dengan akal-mengakali.

“Rumah lu kan di Bogor, ada ga tanamannya?” tanyaku pada seorang teman.

“Ternyata ada nih di rumah tetangga gue,” sahutnya.

Syukurlah, tidak perlu keluar uang. Memang uang tempatnya lebih baik di dompet saja, tidak usah keluar-keluar!

Aku dan kawan kelasku memiliki jadwal kelas luring lebih banyak daripada kelas daring. Betapa mewahnya di tengah keluhan mahasiswa yang kelasnya hampir selalu daring di fakultas sebelah. Biasanya, kelas diisi presentasi mahasiswa yang sudah dibagi kelompok. Menyenangkan juga diajar kawan sejawat, kalau ada kawan lain bertanya tinggal bertanya lagi pada sahabat kehidupan masing-masing. Ada yang sahabatnya bernama Jipiti, Perpelsiti, sampai Dipsi. 

Iklan

Obrolan basi yang tak pernah absen dari telinga,

“Eh, lu ngerti ga fren?” tanya seorang kawan pada yang lainnya.

“Nanya gue lu? yang presentasi aje belum tentu paham!” Sahut yang ditanya.

Setelah kelas selesai, kami lekas pergi ke gedung seberang yang toiletnya lebih bagus dan airnya tidak menggenang. Aduhai kantung kemih hampir bocor menuruni gedung empat lantai. Keluar dari toilet, aku dan temanku memeriksa riasan dan gincu pada wajah, barangkali sudah bergeser ke leher. Sebarang candaan lumrah dilempar,

“Lu orang emang nyeni banget ye,” lempar temanku.

“Nyeni kenape?” Tanyaku padanya.

“Itu lu abis nyeni kan di dalem, buang air seni,” Katanya dengan garing.

Baca juga: Beban Tri Dharma Berlebih, Dosen Kelimpungan, Mahasiswa Keberatan

Candaan abstrak tanpa konteks sering dilempar-tangkap sebagai penghibur di tengah badai yang menenggelamkan kami di tumpukan tugas. Di gedung seberang ini, tempat kami nyeni, Konon, khusus di gedung itu dikatakan mahasiswa tidak diperkenankan naik lift jika hanya sekedar bulak-balik lantai 2 dan 4. Suatu legenda yang menakjubkan. 

Penulis : Nur Is Farida

Iklan