Tempo lalu, di pelataran bangunan empat lantai, seorang laki-laki berkulit legam dan ber-rupa semrawut, tampak duduk bersila sembari menyesap sebatang rokok di tangannya itu yang mulai memendek. Bahkan, hingga menjadi abu seutuhnya.
Lelaki itu berumur kisaran dua setengah dasawarsa. Giginya tampak kekuningan dan matanya merah bak ayam yang tak pernah terlelap. Tubuhnya kurus, namun dilapisi otot-otot yang lumayan kekar. Mungkin, karena seringnya bekerja di tempat yang selalu mengandalkan keterampilan fisik. Bukan karena workout di tempat para binaragawan yang hanya sekadar mendapatkan bentuk tubuh ideal menurut jamak orang.
Tatapan matanya terlihat rapuh, laiknya kayu dimakan rayap yang lapar. Ketika melihatnya termenung cukup lama, aku mencoba menghampiri. Berniat untuk bercakap-cakap saja dengannya.
Awalnya, bingung untuk mencari topik obrolan yang pas. Sebab, jujur saja, aku bukanlah sosok yang handal untuk memulai percakapan. Memulai percakapan dengan orang yang tidak dikenal memanglah butuh kepercayaan diri dan berani tidak dianggap cari perhatian. Walaupun agak ragu, aku mencoba untuk memberanikan diri.
“Misi Bang, boleh minjem korek?,” ucapku memulai obrolan. Hanya sekedar basa basi.
Sembari menengok ke kanan dan ke kiri, ia mencari letak koreknya. “Boleh bang, ini (koreknya),” ucap dia.
Lantas, kuambil korek dari tangannya yang legam itu. Kukeluarkan sebungkus rokok. Ketika membukanya, tampak tujuh batang rokok tersisa. Mengambilnya sebatang, membakarnya, dan menyesapnya perlahan hingga bara api membakar sari-sari tembakau secara merata.
Baca juga: Sebuah Pertemuan Singkat
Setelah itu, aku kembalikan korek yang gas-nya mulai menipis kepada lelaki itu. Seraya mengucap ‘makasih, Bang’.
Tak lupa pula, aku menawarkan sebatang rokok kepadanya. Ia mengambilnya sebatang, dan turut membakarnya. Lantas, kami menikmati rokok bersama-sama.
“Nikmatnya,” kataku dalam hati.
Bagi seorang kretekus, ketika bercakap-cakap tanpa ditemani rokok, walaupun hanya sebatang, bagaikan hidup dalam ruang kosong. Terasa hampa. Bagaikan ada sesuatu yang hilang. Dan ingin sekali rasanya mencari sesuatu yang hilang itu.
Lelaki itu kembali terdiam. Raut wajahnya tampak sama seperti saat pertama aku melihat dirinya. Retina matanya fokus memandang ke sebatang rokok yang telah mengebul itu. Apinya terus membara. Merah merona. Seakan ingin langsung menghabiskan gumpalan tembakau itu.
Aku kembali memulai obrolan dengan memperkenalkan diri ini kepadanya.
“Kenalin Bang, namaku Iwan”.
Lantas, ia juga mengenalkan nama dirinya. “Nama gua, Yaso. Salam kenal yoo,” kata lelaki itu. Dengan nada suara sedikit ketus.
Kisah Muram Orang Kota
Pelataran itu berada di sebuah rumah susun. Fungsinya, mungkin saja sebagai tempat serbaguna. Biasanya, untuk menggelar agenda ataupun hanya sekadar berkumpul dan bercengkerama. Pelataran itu tampak dihiasi banyak spanduk yang berisikan berbagai macam tulisan. Tulisan perlawanan kepada penguasa.
Di pelataran itu, tak ada perbotan rumah seperti di banyak tempat pada umumnya. Tampak kosong. Yang ada, hanyalah alas duduk berupa tikar ala kadarnya dan coret-coretan spanduk tentunya.
Sayup-sayup angin kian bertambah kencang, rasanya. Wajar saja, letak geografis rumah susun ini dekat dengan garis pantai. Pun, pelataran rumah susun ini juga cukup terbuka — dalam artian — minim tembok sebagai penghalang masuknya angin ke dalam ruangan.
Aku persis duduk di samping Yaso. Salah satu pemuda yang tinggal di rumah susun ini. Ia pemuda yang tidak banyak bicara. Lebih banyak terdiam. Seakan ada sesuatu yang ia pendam. Atau mungkin, ia merupakan tipe orang yang hanya membicarakan hal-hal penting saja.
Aku banyak mengajukan pertanyaan kepadanya. Dari hal yang sifatnya umum, hingga hal yang sifatnya pribadi. Dia jua menjawab dengan santai dan tentunya, dengan sedikit kata-kata. Ketika selesai berbicara dengannya, dalam hati, ada sesuatu yang seakan menyayat moralitas.
Yaso hidup bersama kedua orang tuanya yang semakin menua di lantai dua rumah susun yang sampai sekarang ini masih menjadi sengketa. Sengketa antara warga dengan penguasa provinsi.
Pasalnya, sebelum rumah susun ini di bangun, dan memicu sengketa jangka panjang, warga hidup dengan damai dan menjalani kehidupan sehari-hari tanpa di hantui perasaan khawatir. Itu dahulu, sekitar empat tahun yang lalu.
Ceritanya, empat tahun yang lalu, penguasa provinsi ingin merealisasikan wacana pembangunan sebuah bangunan yang diperuntukan sebagai gelanggang olahraga bertaraf internasional. Gelanggang olahraga yang megah nan modern. Yang dapat bersaing dengan berbagai gelanggang olahraga di sekitarnya. Bila perlu, hingga dapat bersaing dengan berbagai negara tetangga.
Untuk melancarkan wacana pembangunan gelanggang olahraga itu, penguasa provinsi perlulah lahan yang luas. Dan dipilihlah, lahan yang menjadi tempat tinggal Yaso dan ratusan warga sekitar.
Pembebasan lahan ingin segera dilakukan. Yaso dan warga merasa cemas. Berpikir, bila digusur nanti, akan hidup kemana nantinya. Entah mendapatkan kehidupan yang layak, ataukah malah menjadi seperti burung-burung tanpa sarang. Terombang-ambing, tak ada tujuan. Tak ada rumah untuk pulang.
Situasi semakin rumit, dan semakin terhimpit. Penggusuran tinggal menunggu waktunya.
Yaso dan warga mulai menyusun rencana. Daripada menyesal tanpa usaha, lebih baik warga melawan adanya penggusuran. Akhirnya, warga pun beramai-ramai menuntut penguasa provinsi untuk mengedepankan rasa kemanusiaan di dalam pembangunan. Dengan memperhatikan hak dan kepentingan warga kedepannya.
Seiring berjalan waktu, tuntutan warga didengar juga oleh penguasa provinsi. Syahdan, terbitlah secarik kertas yang merupakan bentuk kontrak politik antara warga dengan penguasa. Dalam secarik kertas tersebut, penguasa provinsi berjanji akan membangun sebuah rumah susun yang terletak persis ketika Yaso dan warga tinggal dahulu. Selain rumah susun, penguasa provinsi akan turut membangun infrastruktur penunjang perkebunan ala perkotaan.
Kontrak politik pun terwujud ketika warga sepakat akan janji penguasa provinsi. Hingga saatnya tiba, rumah susun telah berdiri kokoh dan siap menyambut warga bermukim di dalamnya.
Sebelum rumah susun diresmikan, penguasa provinsi telah berganti. Yang lama berganti yang baru. Sayangnya, penguasa provinsi yang baru berupa busuk. Layaknya bangkai yang berjalan di tanah. Menghadirkan kesulitan dan kesengsaraan bagi warga.
Kontrak politik yang sebelumnya telah disepakati, kini tidak diacuhkan sama sekali. Rumah susun yang telah berdiri kokoh itu bukan lagi peruntukkan kepada warga. Telah berganti, dengan tujuan komersil, untuk kepentingan pemodal agar tak rugi.
Penguasa provinsi yang baru itu nyatanya telah mengkhianati hak warga. Sama sekali tak pantas menjadi pemimpin. Loyalis pemimpin negara berwatak culas, bawahannya pun berwatak serupa jua.
Baca juga: Warga Kampung Bayam Pulang ke Rumah
Berawal dari situ, hingga detik ini, warga tak terima. Lantas, dengan terpaksa, warga beramai-ramai melakukan aksi protes dengan menduduki rumah susun itu. Itulah hak warga, yang merupakan rumah, rumah berteduh dan bertahan hidup.
Yaso berhenti bercerita. Matanya tampak berkaca-kaca. Namun, tersirat mengandung kekesalan yang amat mendalam.
Ia melanjutkan cerita…
Betapa perihnya hidup ini. Seakan semesta tidak berpihak bagi orang-orang kecil seperti kami ini. Hidup tidak dalam keadaan damai. Penuh dengan derita kemiskinan dan hidup tanpa bayang-bayang masa depan yang cerah.
Hidup kami terlunta-lunta. Terombang-ambing laiknya sampan digerus ganasnya ombak. Penghasilan pun tak jelas. Semuanya telah dirampas. Kebun kami, rumah kami, tanah kami. Segala-galanya telah tiada. Dipaksa melangkah dalam dunia yang tak berpihak kepada rakyat kecil.
Penulis: Lalu Adam

