Deru mesin supra tua mengusik telinga, dengan kulit jok yang sudah usang dan speedometer yang tidak lagi bekerja, motor tua itu nampak masih kuat membawa pengemudinya keliling ibu kota.

“Mau diantar ke mana hari ini?” ucap seorang lelaki yang duduk di atas motor tua itu

“Aku mau ke kampus, tolong antar ya?” kataku meminta

“Siap, ayo naik!” pinta lelaki itu

Di sepanjang jalan aku menceritakan banyak hal yang belum sempat aku ceritakan sebelumnya, mulai dari aku pergi studi kampus di Yogyakarta saat kenaikan kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga kehidupan ku di kampus hari ini.

Lalu lelaki itu berkata, “Wah, menyenangkan ya hidupmu, bagus bagus,” ucapnya dengan nada senang

Iklan

Baca juga: Rakyat Tuntut DPR Cabut UU TNI Baru

Namun, di tengah perjalanan menuju kampus tiba-tiba turunlah hujan yang cukup deras. Sedangkan belum ada setengah jalan untuk sampai ke kampus. Sehingga aku dan lelaki itu mampir ke sebuah warung untuk berteduh. Di sana, aku dan lelaki itu tidak membeli apapun dan hanya menatap hujan dan jalanan.

“Maaf ya, saya tidak punya uang,” ucap Lelaki itu dengan sedih

“Tidak apa-apa, aku sedang tidak ingin apapun, lagi pula aku membawa bekal,” ucapku mencoba menenangkannya.

Kemudian, lelaki itu mengeluarkan sebatang kretek yang segera dibakarnya. Merek kesukaannya akhir-akhir ini, Gudang Garam Signature.

Kala itu hujan turun sangat deras seperti tidak ada hari esok, awan tak terlihat akan bergeser dari tempatnya untuk kembali memamerkan matahari.

“Bagaimana kabar keluargamu?” tanya lelaki itu.

“Semuanya baik dan sehat-sehat,” jawabku singkat.

“Kalau begitu sekolahmu bagaimana? IPK-mu berapa kemarin?” tanyanya lagi

“3,76 sih,” jawabku

Iklan

“Loh, bagus banget itu, nanti dikasih hadiah deh,” ucapnya dengan muka sumringah bangga

Di bawah lampu remang-remang warung, ia balik menceritakan kehidupannya tanpa kutanya. “Cukup nyaman,” dari sekian banyak yang ia katakan, aku hanya mengingat dua kata itu. Bagiku, setidaknya kini ia tidak lagi sengsara dengan hidupnya.

Berselang cukup lama dialun bisu, tapi kulihat air muka senang lelaki itu belum juga layu. Bau asap rokok yang cukup mengganggu, tapi tak sampai hati aku mengeluh. Senyum yang tetap dipajang sambil menghisap rokok itu cukup membuatku luluh.

Hujan akhirnya mereda setelah satu jam, bekalku sudah tandas dan rokok lelaki itu pun telah terbakar habis. Dengan uang yang kupunya, aku membeli segelas kopi dan teh hangat, segera lelaki itu menyambut gelas dengan ucapan terima kasih yang sama hangatnya.

“Sudah reda, jalan yuk nanti kamu telat,” ajak lelaki itu.

“Ternyata bukan di sini saja yang hujan, sekitar Jakarta juga hujan dan beberapa daerah terbilang badai, jadi kelas dipindahkan,” jawabku mencoba menjelaskan situasi.

“Jadi ini pulang saja?” Tanya lelaki itu

“Iya, pulang saja,” jawabku singkat.

“Kalau gitu ke rumah saya saja, mau?” tanya lelaki itu lagi.

“Boleh,” kataku.

Di bawah langit yang masih tertutup awan, lelaki itu kembali menyalakan motor supra tuanya yang habis terguyur hujan. Dengan jok motor yang masih basah, ia mempersilahkan naik. Dengan suara mesin yang khas, motor itu berjalan melewati aspal yang masih basah. Tak berselang lama, lelaki itu kembali melemparkan tanya.

Baca juga: Demonstrasi Rakyat Melawan Rezim Militerisme dan Brutalitas Aparat

“Kok sekarang pulang malam terus?” tanya lelaki itu.

Pertanyaan itu cukup membuatku tersentak. Aku sengaja melewatkan cerita yang satu itu, kupikir tak begitu penting. Tapi bagaimana lelaki ini bisa tau?

“Aku ikut kegiatan mahasiswa, “ jawabku

“Oh iya? Bagus dong, tapi jangan malem terus, rawan,” kata lelaki itu sembari mengingatkan.

Aku hanya mengangguk tanpa dilihatnya. Aku memang banyak menghabiskan waktu di kampus dibandingkan di rumah akhir-akhir ini, bahkan tak jarang hingga larut. Di belakang lelaki ini, aku mulai merenungkan bagaimana lelaki ini tau dan perasaan nyaman yang familiar ini tak ingin aku sudahi.

Sesampainya aku di rumah lelaki ini, mataku terbuka. Tempat yang sangat familiar dengan peta provinsi Bali dan dua lukisan tergantung di dinding. Dengan mata yang masih beler, aku memikirkan kembali keberadaan lelaki itu. Sudah lama aku tak melihat batang hidungnya. Kemana dia selama ini?

Aku terbangun pada kenyataan, lelaki itu telah wafat dua tahun yang lalu. Ia yang baru kutemui hanyalah kunjungan singkat setelah sekian lama tak menyalam. Ia yang telah membiru dan berbunga di bawah tanah makam, kakekku.

 

Penulis : Nur Is Farida