Gaung nama seorang Surwadi Suryaningrat atau lebih akrab dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara tentu tidak asing di telinga. Ia dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan tanggal miladnya dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Belum lagi, semboyan bikinannya yaitu Tut Wuri Handayani yang menghiasi logo Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Di luar kebesaran namanya sebagai Bapak Pendidikan Nasional, tak banyak yang mengetahui kiprahnya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Maka kurang afdal rasanya, jika membicarakan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, tanpa memahami alur perjalanan hidupnya. Justru masa pengasingannya di Belanda merupakan pemantik awal pemikiran cemerlangnya tentang pendidikan.

Suwardi Suryaningrat – nama asli Ki Hajar Dewantara – divonis hukuman buang oleh pemerintah kolonial, karena artikel berjudul Als Ik een Nederlander Was yang dalam bahasa Indonesia berarti “Seandainya Aku Seorang Belanda”. Artikel tersebut dimuat dalam harian De Express pimpinan Cipto Mangunkusumo. Guratan pena Suwardi bagi pemerintah kolonial cukup membahayakan kekuasaan. Anggapan mereka, itu akan membangkitkan kesadaran rakyat bumiputera untuk merdeka.

Kenji Tsuchiya dalam Demokrasi dan Kepemimpinan : Kebangkitan Gerakan Taman Siswa menjelaskan, artikel Suwardi tersebut bersifat satire, karena Suwardi merupakan pemuda jawa yang berani mengkritik kebijakan pemerintah kolonialisme sekaligus ia memosisikan dirinya sebagai orang Belanda. Lebih dari sebuah kritik, hal tersebut merupakan sebuah pernyataan politik dari seorang pribumi.

Demokrasi dan Kepemimpinan : Kebangkitan Gerakan Taman Siswa

Kemudian, atas segala tuduhan yang dilayangkan kepada Suwardi, tepatnya 6 September 1913, vonis pengasingan dijatuhkan. Suwardi bersama Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker diasingkan ke Belanda. Meskipun demikian, gejolak aktivisme dalam merebut kemerdekaan tetap hidup. Suwardi rajin menghadiri perkumpulan-perkumpulan akademis dan politik. Salah satu yang berkesan adalah ketika Suwardi diundang oleh Partai Buruh Sosial-Demokrat di Amsterdam.

Dalam catatan Van der Meulen yang dikutip oleh Irna H.N Soewito dalam buku Suwardi Suryaningrat dalam Pengasingan, pidatonya mampu menyita simpati publik dan lebih menonjol dibanding kedua rekannya : Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker. Ia menampilkan sosok seorang keturunan ningrat dengan tutur kata yang halus.

Iklan

Baca Juga : Obituari Pendidikan Indonesia

Saat itu, putra dari Suryaningrat ini juga aktif di Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Bersama para pelajar Hindia, Suwardi sempat membuat pentas kesenian Jawa di Belanda dalam rangka menghimpun dana untuk korban banjir. Pada pentas tersebut, Suwardi berperan sebagai penari sekaligus pemain gamelan.

Keaktifannya di bidang pers-pun tidak surut. Surat kabar De Indier dan De Beweging banyak menampung tulisan-tulisan dari Suwardi. Tema-tema yang diangkatpun beragam, mulai dari kemerdekaan rakyat Hindia hingga kebudayaan nasional Indonesia. Selain itu, ia  juga mendirikan surat kabar yang diberi nama Indonesische Persbureau atau Biro Pers Indonesia.

Penyemaian Pemikiran Pendidikan

Dinginnya udara Belanda serta desakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga memaksa Suwardi untuk memutar otak. Hasil dari menulis saja tidak cukup untuk menghidupi istri dan satu anaknya. Oleh karena itu, Suwardi memutuskan untuk menempuh pendidikan guru di Lager Onderwijs dan mendapatkan Ijazah Kepandaian Mengajar pada 12 Juni 1915.

Berbekal ijazah tersebut, Suwardi memulai karir menjadi guru di Belanda. Proses belajarnya dalam menekuni bidang pendidikan menghantarkan Suwardi mengenal pemikir-pemikir pendidikan modern, seperti Dr. Froebel, Dr. Montessori dan Rabindranath Tagore. Dari mereka lah, Suwardi mengambil konsep pendidikan yang memerdekakan.

Selain itu, kehidupan Suwardi bersama anaknya bernama Asti, menjadi sebuah pengalaman yang meneguhkan pendirian untuk membangun sistem pendidikan yang berpusat pada anak. Irna H.N Soewito (95:2019) mengisahkan, suatu ketika Suwardi sedang sibuk dengan urusan-urusan pekerjaan, Asti malah terus-terusan menangis. Merasa terganggu dengan tangisan itu, Suwardi dengan penuh amarah mengeluarkan Asti dari rumah dan membiarkan anaknya itu kedinginan.

Buku Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan

Bak tersambar petir, dengan melihat salju yang berjatuhan mengetuk jendela rumah sontak menyadarkan Suwardi. Betapa terkejutnya seorang ayah, ketika menemukan anaknya membiru kedinginan sembari menggigil. Tangis disertai penyesalan Suwardi pun tak terbendung. Sambil memeluk Asti, Suwardi berkata, “Selamanya engkau akan aku muliakan”.

Segenap pengetahuan dan pengalaman Suwardi di Belanda menjadi bekal untuk membangun pendidikan untuk rakyat Indonesia. Berdasarkan rembuk bersama kelompok Selasa Kliwon pimpinan Ki Ageng Suryamentaram, ia mendapatkan tugas untuk menyiapkan perguruan demi menciptakan generasi muda yang revolusioner.  Akhirnya, terciptalah Perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta.

Baca Juga : Terapi Visi Pendidikan Indonesia

Iklan

Perguruan Taman Siswa merupakan penyemaian pemikiran dan pengalaman Suwardi di Belanda, yang siap ditanam untuk rakyat Indonesia.  Dalam sebuah perumpamaan, Suwardi mengibaratkan pendidikan adalah ladang bagi sebuah bangsa dalam proses kemerdekaan. Sebuah tempat untuk mendidik anak-anak menuju kemandirian diri. Sementara itu, pergerakan rakyat merupakan pagar yang melindungi kedaulatan sebuah bangsa. Sebuah pemikiran yang berupaya mensinkronisasikan pendidikan dengan pergerakan politik. Keduanya tidak terpisah satu dengan yang lain, justru harus saling menguatkan.

Peristiwa penolakan Ordonasi Sekolah Liar pada 1932-1933 merupakan contoh keterkaitan antara pendidikan dan politik. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda menerbitkan peraturan yang bertujuan untuk mengawasi sekolah-sekolah yang didirikan oleh masyarakat pribumi. Menanggapi hal itu, Ki Hajar Dewantara bersama Taman Siswa melakukan penolakan, didukung oleh berbagai organisasi politik, seperti Partai Sarekat Islam Indonesia, Partai Indonesia, dan Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia. Berkat kerja sama antara pendidikan dengan politik, kebijakan tersebut dibatalkan.

Kisah Suwardi Suryaningrat – Ki Hajar Dewantara – penuh dengan dinamika. Konfliknya dengan pemerintah kolonial Belanda membawa dia pada belenggu pengasingan. Tetapi, seolah menggambarkan sosok pejuang yang gagah di medan perang. Semangatnya untuk menciptakan kemerdekaan bagi Indonesia tak pernah surut. Bahkan, ia merumuskan metode dalam mencapai kemerdekaan, yaitu melalui pendidikan.

Perjalanan hidupnya dalam masa pengasingan merupakan pergulatan antara ide dengan pengalaman, termasuk kondisi keluarga pribadi. Sementara itu, kepulangan ke Indonesia menjadi refleksi sekaligus praksisnya. Dalam hidupnya, ia kemudian menemukan trisula perjuangan, yaitu jurnalistik, politik, dan pendidikan.

Penulis : Ahmad Qori Hadiansyah

Editor : Mukhtar Abdullah