Judul: The Witch: A New-England Folktale

Tahun rilis: 2015

Duras film: 92 menit

Sutradara: Robert Eggers

The Witch adalah horor yang bekerja bukan melalui jumpscare, melainkan lewat atmosfer dan tekanan psikologis. Kengerian dalam film ini tumbuh dari keluarga religius yang perlahan-lahan hancur oleh ketakutan, prasangka, dan kehilangan kontrol atas apa yang mereka anggap sebagai kebenaran. Horor yang paling nyata bukan datang dari penyihir atau iblis, melainkan dari struktur sosial yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang paling mudah disalahkan.

Tokoh utama film ini, Thomasin (diperankan oleh Anya Taylor-Joy), adalah seorang remaja perempuan yang hidup dalam keluarga Puritan yang diasingkan karena perbedaan tafsir religius. Mereka membangun rumah di tepi hutan, jauh dari komunitas, dan di sanalah kehancuran perlahan dimulai. Berawal dari adik bayinya, Samuel, menghilang tiba-tiba, panen gagal, kambing berdarah, dan saudara kembar Thomasin mulai berperilaku aneh. Di tengah kemerosotan ini, Thomasin menjadi sasaran empuk. Ia dituduh penyebab segala malapetaka. Ia dianggap pembawa dosa, perusak kesucian keluarga, bahkan dijadikan kambing hitam oleh ibunya sendiri.

Iklan

Tak ada satu pun bukti bahwa Thomasin bersalah. Ia hanya anak perempuan yang bertumbuh dan pandangannya mulai bergeser dari doktrin mutlak. Semua itu cukup untuk menjadikannya berbahaya dalam pandangan keluarga yang membangun dunia di atas ketaatan dan kepatuhan mutlak. Thomasin adalah ancaman bukan karena ia jahat, tapi karena ia hidup.

Baca juga: Meruntuhkan Tembok Patriarki Perjalanan Panjang Emansipasi Perempuan

Sutradara dan penulis naskah Robert Eggers tidak menghadirkan Thomasin sebagai pemberontak eksplisit, justru sebaliknya. Kita menyaksikan bagaimana ia bertahan dalam ketidakadilan, dan bagaimana tekanan dari keluarga membuatnya perlahan meragukan dirinya sendiri. Tetapi pelan-pelan, amarah tumbuh dalam dirinya. Ia mulai melawan dengan cara paling sunyi seperti dari caranya berdiri, berani menatap, tidak meminta maaf, dan akhirnya, memilih jalannya sendiri.

Ketika di akhir film Thomasin menerima tawaran Black Phillip untuk “hidup enak” dan menandatangani buku iblis, itu bukan sekadar simbol pengkhianatan terhadap iman, melainkan transformasi eksistensial. Untuk pertama kalinya, seseorang bertanya padanya, “Wouldst thou like to live deliciously?” dan memberinya kuasa untuk memilih. Dunia sebelumnya menolak memberinya agensi. Maka jawaban “ya” adalah bentuk kebebasan terakhir dan terdalam yang bisa ia ambil dalam dunia yang mengkhianatinya.

Ketika Amarah Perempuan Dianggap Dosa

Dalam kerangka feminisme, Thomasin mewakili banyak perempuan yang selama berabad-abad ditekan dalam kerangka patriarki dan agama. Tuduhan bahwa perempuan adalah pembawa dosa sudah sangat tua umurnya. Dalam sejarah Eropa abad ke-15 hingga ke-18, lebih dari 50.000 orang dieksekusi karena dituduh sebagai penyihir. Mayoritas dari mereka adalah perempuan. Mereka bukan penyihir seperti dalam dongeng, melainkan janda, dukun, perempuan tua, atau siapa pun yang tak sesuai dengan norma. Dalam Witchcraze (Anne Llewellyn Barstow, 1997), disebutkan bahwa penyihir hanyalah nama lain untuk perempuan yang tidak tunduk.

Pengadilan Salem di Massachusetts (1692) adalah contoh paling mencolok dari histeria kolektif terhadap perempuan. Di sana, histeria massal membuat ratusan perempuan ditangkap dan dituduh bersekutu dengan iblis. Banyak yang dijatuhi hukuman gantung hanya karena dilaporkan oleh tetangga atau kerabat.

Thomasin, dalam konteks ini, adalah cermin sejarah. Ia tidak perlu benar-benar menyimpang untuk dihukum. Cukup menjadi perempuan muda yang berpikir. Dalam sistem yang menganggap suara perempuan sebagai potensi ancaman, diam dan kepatuhan adalah satu-satunya cara bertahan. Ketika perempuan tidak diam lagi, mereka akan dicap sebagai pembangkang, pelacur, atau penyihir.

Amarah perempuan atau female rage dalam film ini bukan ledakan brutal, tapi sesuatu yang perlahan naik ke permukaan. Thomasin tidak mengamuk, tidak membalas dendam. Ia hanya berhenti meminta maaf. Dalam struktur patriarkal, apa yang dilakukannya adalah bentuk perlawanan paling radikal.

Di Indonesia, sejarah penyihir seperti di Eropa dan Amerika Serikat memang tidak ditemukan. Namun bukan berarti perempuan terbebas dari nasib serupa. Bentuknya berbeda, tapi polanya sama: siapa pun yang tidak patuh pada norma sosial, memilih jalannya sendiri, menolak dikontrol, maka akan dikucilkan, diberi label, atau diserang secara sosial bahkan spiritual.

Iklan

Beberapa komunitas adat dan desa-desa di Indonesia masih memiliki keyakinan akan “dukun santet” atau “perempuan jadi-jadian” yang sering kali dikaitkan dengan perempuan tua, janda, atau perempuan dengan perilaku yang dianggap menyimpang. Ada kasus-kasus persekusi yang bahkan berakhir dengan kekerasan fisik. Dalam laporan LBH Apik dan KontraS, perempuan yang dianggap “mengganggu harmoni sosial” bisa diusir, dipukuli, bahkan dibunuh, meskipun tak ada bukti jelas atas tuduhan tersebut.

Menurut laporan Catatan Kritis terhadap Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan Berbasis Masyarakat dan Negara (2023), tercatat ada peningkatan kasus persekusi terhadap perempuan yang dilabeli “pembawa sial,” “perusak moral,” atau dianggap melanggar norma sosial tertentu. Di Jawa Barat, misalnya, seorang perempuan janda difitnah sebagai “pelacur” dan akhirnya diarak warga desa tanpa bukti, hanya karena tinggal sendirian.

Adapun di daerah lain, perempuan penyintas kekerasan seksual yang mencari keadilan malah dipinggirkan oleh komunitasnya sendiri karena dianggap membawa aib keluarga atau mencemarkan nama baik desa. Laporan itu mencatat bahwa stigma berbasis gender di masyarakat sering kali melanggengkan kekerasan simbolik maupun fisik terhadap perempuan, dan negara kerap abai atau bahkan turut memfasilitasi pengucilan itu dengan dalih “menjaga ketertiban umum.”

Situasi ini menunjukkan bahwa tuduhan terhadap perempuan yang menyimpang dari tatanan moral dominan masih sangat mungkin terjadi di Indonesia hari ini baik dalam bentuk kekerasan verbal, pengusiran, maupun kekerasan fisik.

Di luar kasus ekstrem, kita juga menyaksikan bagaimana tubuh dan amarah perempuan masih dianggap ancaman dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan yang berbicara keras dianggap galak. Perempuan yang marah dianggap tak tahu diri. Perempuan yang menolak menikah dianggap belum tobat. Perempuan yang berpakaian di luar norma langsung diberi label “murahan” atau tidak sopan. Bahkan di media sosial, perempuan yang mengekspresikan pengalaman traumatis seringkali ditertawakan atau dianggap mencari perhatian.

Amarah perempuan di Indonesia jarang diakui sebagai bentuk kesadaran. Ia sering kali dibingkai sebagai gangguan, gangguan emosi, atau sekadar hal yang memalukan. Dan dalam masyarakat yang masih mengakar pada nilai-nilai dominan laki-laki, perempuan seperti Thomasin pasti akan dianggap tidak tahu terima kasih.

Maka, film The Witch bisa dibaca sebagai refleksi keras terhadap bagaimana masyarakat membentuk perempuan, lalu menghukum mereka ketika tidak sesuai cetakan. Film ini menggambarkan ketakutan kolektif terhadap perempuan yang tidak bisa lagi dikontrol. Realitanya kita masih melihat pola ini di sekitar kita baik dalam kehidupan rumah tangga, tempat kerja, media, bahkan kampus dan organisasi sosial.

Masyarakat kita punya cara tersendiri untuk menundukkan amarah perempuan yang bisa dibungkam lewat kata-kata seperti, “Kamu terlalu emosional,” “Kamu harus lebih bersyukur,” “Perempuan yang baik tidak bicara seperti itu.” Atau lewat dogma bahwa perempuan yang baik adalah istri yang sabar, anak yang patuh, ibu yang tidak egois. Maka perempuan tidak punya ruang aman untuk marah, apalagi memilih jalan berbeda. Jika ia tetap melakukannya, ia akan diasingkan, secara simbolik maupun nyata.

Baca juga: The Wonder: Modal Kuasa Pelanggeng Kekerasan Seksual

Di akhir film The Witch, Thomasin berjalan sendirian ke dalam hutan, telanjang, dan bergabung dalam tarian liar bersama para penyihir lain. Ia tertawa. Melayang. Menari. Untuk pertama kalinya, ia bebas dari beban keluarga, agama, dan masyarakat. Bagi sebagian penonton, ini adalah gambaran ketundukan pada kejahatan. Tapi bagi yang lain—terutama bagi mereka yang hidup dalam ketakutan akan penghakiman sosial—adegan itu adalah bentuk pelepasan, bahkan kemenangan.

Apakah kebebasan harus selalu terlihat seperti penyesatan? Ataukah sebenarnya kita hanya belum terbiasa melihat perempuan mengambil kuasa atas tubuh dan hidupnya?

The Witch adalah film yang terasa sangat lokal dalam konteks globalnya. Ia menggambarkan bagaimana sejarah pengucilan terhadap perempuan terjadi di mana-mana, dalam bentuk berbeda, tapi logika yang sama. Thomasin bukan sekadar karakter fiksi, melainkan adalah representasi dari perempuan-perempuan yang perlahan sadar bahwa dunia ini tidak berpihak, dan memutuskan untuk memilih.

Ada banyak Thomasin di kampung, di sekolah, di ruang kerja, di rumah sendiri. Perempuan yang tidak diberi pilihan, tapi tetap memilih. Perempuan yang marah, tapi tetap hidup. Perempuan yang akhirnya berhenti meminta maaf. Kita tidak perlu menunggu hutan gelap atau iblis berkepala kambing untuk menyadari bahwa barangkali yang paling ditakuti dunia bukanlah perempuan jahat, tetapi perempuan yang tidak takut lagi.

Penulis: Syiva Khairinnisa