Teater Quantum bekerjasama dengan Ikatan Drama Jakarta Barat menampilkan teater monolog yang berjudul “Otak Kiri Perut Kanan”  menceritakan pemuda yang kehilangan kesempatan hidup layak demi menengakkan idealismenya.


“Buah pikir yang diagung-agungkan, membela perut orang lain pada akhirnya tak bisa membuat kenyang perut sendiri”

Pada Sabtu (26/2/2022) Teater Quantum beserta Ikatan Drama Jakarta Barat membawakan pementasan monolog yang berjudul “Otak Kiri Perut Kanan”. Dalam kesempatan ini, Fachri Aditya atau kerap disapa Pay menyuguhkan monolog yang berisi kritik terhadap tekad dan idealisme yang dimiliki pemuda

Fachri menggambarkan  bagaimana kondisi pemuda yang enggan membuang idealismenya demi tercapainya tujuan luhur yakni keadilan bagi seluruh masyarakat.

Cerita berawal dari gambaran kehidupan seorang pramukantor yang hidup miskin, pramukantor tersebut menceritakan kisah seorang pemuda bernama Abdul Aidit yang kerap dipanggil Aa.

Aa merupakan pemuda cerdas dan pemberani yang bercita cita menjadi seorang sarjana. Meski latar belakang keluarga dan lingkungannya miskin, Aa tetap gigih berusaha menggapai impiannya.

Iklan

Buah kecerdasan dan kegigihannya tersebut, Aa berhasil menjabat sebagai presiden mahasiswa. Berbekal karisma dan kemampuan berbicara yang mumpuni Aa menyampaikan orasi dengan lantang mengenai pelbagai permasalahan di “Negeri Sulap”. Bahkan satu waktu dirinya pernah berorasi menentang kampus yang ingin menaikan uang kuliahnya.

Berkat keterampilan dan kegigihannya, Aa sempat ditawarkan menjadi politisi, berbagai partai meminangnya untuk menjadi kader. Namun, idealisme Aa menolak tawaran tersebut mentah-mentah.

Baca Juga:

Tribute to W.S. Rendra: Rawamangun Concept Membawakan Karya Fenomenalnya

Festival Teater Kampus Jakarta, Teater Zat Tampilkan Drama Satire Politik

Waktu kelulusan pun tiba, dengan mempertahankan idealisme dan ijazah sarjananya. Aa berusaha mencari kerja, namun sial ia tak mendapatkan pekerjaan apapun yang sesuai dengan kecerdasan dan keberaniannya. Berkali-kali ia mendapatkan penolakan.

Hingga akhir pentas Fachri menyuguhkan pelintiran alur, ditunjukan bahwa ternyata tokoh Aa merupakan si pramukantor itu sendiri yang sedang menceritakan kisahnya. Tentang pahitnya mempertahankan idealisme.

Saat diwawancarai Tim Didaktika, Fachri menyampaikan bahwa karya ini merupakan buah hasil dari keresahannya pribadi. Ia  berharap setelah selesai menonton penampilan monolognya, penonton mendapat sudut pandang baru mengenai idealisme.

Tidak hanya itu, Fachri ternyata menggarap sendiri naskah yang akan dimainkan, baginya agak sulit menjadi aktor sekaligus penulis naskah “Ini kali pertama saya menjadi aktor dan penulis naskah, sulit sih ditambah sutradara juga membebaskan saya buat mengekplorasi naskah ini,” ungkapnya.

Selain naskah, Fachri juga memilih sendiri beberapa lagu iwan fals untuk dinyanyikan saat pementasan, menurutnya lagu lagu iwan fals sangat cocok menggambarkan realitas sosial, salah satunya Ujung Aspal Pondok Gede yang dinyanyikan saat Fachri berperan menjadi pramukantor.

Iklan

Namun, hal lain disampaikan oleh Ariesta Aray, sutradara pementasan ini. Menurutnya seni merupakan sarana hiburan dan entertain bagi penonton “Jadi, saya pribadi tidak memiliki harapan tersendiri mengenai pesan yang disampaikan. Itu tergantung masing masing penonton” ucapnya.

Aray juga mengatakan persiapan untuk pementasan ini pun kurang dari sebulan, tetapi dengan waktu sesingkat itu Fachri beserta timnya mampu menampilkan pementasan ini dengan sukses.

“Semoga seni peran khususnya tingkat pelajar dan mahasiswa bisa lebih produktif berkarya, meski diterjang banyak kesulitan saat pandemi,” pungkasnya.

 

Penulis: Sekar Tri Widati

Editor: Izam Komaruzaman