Judul buku: Kekerasan dan Identitas
Penulis: Amartya Sen
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun terbit: 2016
Jumlah halaman: 242
Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia memiliki keragaman ras, bahasa, hingga agama yang hidup berdampingan dan tak lekang oleh zaman. Diversitas yang unik tersebut, menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya dan identitas sosial.
Lebih dari itu, keberagaman tersebut menjadi tali solidaritas yang kuat sebagaimana tertuang dalam Bhineka Tunggal Ika. Falsafah ini menegaskan: walaupun Indonesia memiliki diversitas identitas dan budaya, tak menjadi halangan untuk mewujudkan “persatuan rakyat Indonesia”.
Namun demikian, bukan berarti keunikan diversitas identitas dan budaya rakyat Indonesia bebas dari retakan yang memicu konflik sosial. Musababnya, tidak semua rakyat Indonesia memandang “perbedaan” adalah sebuah keniscayaan alamiah. Justru memandang “perbedaan” adalah suatu kesalahan yang semestinya disingkirkan.
Pandangan tersebut tentunya menjadi ancaman serius dalam keberagaman identitas dan budaya. Sebab, apabila pandangan tersebut menjalar menjadi sebuah pemikiran kolektif, maka akan memicu konflik sosial berdarah, dan meminggirkan identitas dan budaya minoritas.
Dalam tahun ini saja, di Indonesia terjadi beberapa kasus kekerasan identitas berbasis agama maupun ras. Salah satunya terjadi pada 27 Juli 2025, ketika sekelompok massa menggeruduk dan melakukan kekerasan terhadap jemaat di Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) di Padang, Sumatera Barat.
Tidak hanya persoalan agama, kekerasan identitas juga terjadi karena perbedaan ras. Sebagaimana terjadi di Papua, operasi militer oleh pemerintah kerap kali menyasar rakyat sipil yang tak berdosa. Bukan hanya itu, operasi militer setidaknya memicu sentimen negatif yang menganggap rakyat Papua sering berbuat kekerasan. Maka demikian, sentimen negatif menciptakan eskalasi kekerasan identitas yang tak ada ujungnya sampai sekarang ini.
Apabila dikritis, mengapa perbedaan identitas menjadi sebuah pemantik konflik dan kekerasan sosial? Apa yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi?
Baca juga: Main Sendiri, Asyik Sendiri, Sampai Kapan Pemira UNJ Demikian?
Amartya Sen dalam bukunya berjudul Kekerasan dan Identitas, mencoba mengkritisi konflik sosial berlandaskan identitas. Ia mencoba mencari akar permasalahan yang mengakibatkan suatu kelompok masyarakat melakukan tindak kekerasan terhadap kelompok masyarakat lainnya.
Dalam bukunya itu, Sen mengkritis sebuah wacana ihwal identitas tunggal—suatu pandangan yang menganggap bahwa manusia ditentukan oleh satu identitas esensial atau tunggal seperti agama, etnis, ras, maupun budaya. Baginya, pandangan identitas tunggal bersifat soliter dan merusak, karena mengabaikan identitas manusia yang sebenarnya bersifat majemuk.
“Cara pandang afiliasi tunggal ini sulit dijustifikasi oleh asumsi pukul-rata bahwa setiap orang terikat pada satu kelompok dan pada satu kelompok itu saja. Kenyataannya masing-masing dari kita pasti menjadi bagian dari banyak kelompok sosial,” halaman 34.
Menurut Sen, setiap manusia memiliki “identitas jamak”, yakni identitas yang terdiri dari berbagai lapisan dan kategori sosial yang melekat sekaligus. Seseorang dapat menjadi anggota suatu agama, bagian dari etnis maupun kelompok sosial tertentu. Kompleksitas identitas dan budaya tersebut yang harus dilihat secara utuh. Karena, tidak rasional apabila sebuah identitas dan budaya ditunggalkan, sehingga memarginalkan yang lainnya.
Sen merujuk contoh kasus penunggalan identitas dan budaya di India. Di mana, masyarakat di sana menganggap “pribumi India hakikatnya adalah beragama Hindu”. Ketika logika tersebut menjadi pemikiran kolektif, maka masyarakat India yang identitasnya keagamaan didominasi beragama Hindu, mereka mencoba mengeliminasi sebagian masyarakat yang diluar kepercayaannya itu.
Dengan pandangan kolektif seperti itu, akhirnya menciptakan konflik sosial yang tiada hentinya sampai sekarang ini. Sebagaimana terjadi di Kota Gurugram, kamu pribumi India yang beragama Islam terpaksa mengungsi akibat konflik keagamaan yang terus terjadi.
Oleh karena itu, ulas Sen, apabila cara pikir tersebut terus dipertahankan dalam kehidupan sosial yang beragam, maka akan terbentuk sebuah narasi, “identitas dan budaya kita, versus mereka” yang mudah dipolitisasi untuk menciptakan konflik sosial. Sebab, identitas tunggal yang dipaksakan menciptakan cara pandang yang sempit. Sehingga dapat menghilangkan rasa empati, ruang dialog, dan menjadikan manusia rentan terhadap pertentangan sosial.
Lebih lanjut, Sen memandang identitas secara sempit berarti menutup mata terhadap kenyataan. Bahwasanya, manusia memiliki keragaman identitas yang seharusnya menjadi jalan mencapai solidaritas sosial. Lebih dari itu, Sen menganalisa bahwa peradaban manusia tidak ada yang tunggal, karena sejatinya kehidupan sosial di dunia manapun telah terjadi silang identitas dan buaya, baik lewat perkawinan dan lain-lain.
Hal tersebutlah yang ditentang oleh Sen. Bahwa sejatinya peradaban manusia tidak ada yang tunggal. Ia melihat, kehidupan sosial dimanapun telah terjadi pembauran dan silang identitas dan budaya. Walhasil, tidak ada identitas dan budaya yang benar-benar murni tercipta.
Bagi Sen, memandang identitas secara sempit berarti menutup mata terhadap kenyataan. Bahwasanya, manusia memiliki keragaman identitas yang seharusnya menjadi jalan mencapai solidaritas sosial.
Di sinilah pentingnya nalar rasional di dalam memandang keberagaman identitas sosial. Karena secara hakikatnya, identitas manusia bersifat jamak, dan tidak bisa ditunggalkan. Jalan pemikiran seperti ini, bagi Sen, dapat menjadi jalan meredam konflik dan kekerasan di dalam masyarakat yang berbeda-beda. Apabila dipahami dan direfleksikan di dalam kehidupan sosial.
Nalar rasional itu, bagi Sen, dipahami lewat pendidikan publik. Misalnya melalui sekolah, komunitas kolektif, hingga narasi yang termuat di media massa yang menekankan bahwa setiap individu memiliki banyak dimensi identitas yang saling melengkapi. Dengan pemahaman ini, masyarakat dapat lebih terbuka dalam membangun solidaritas yang melampaui batas-batas etnis dan agama.
Lebih lanjut, Sen juga menitikberatkan kehadiran negara di dalam merawat pandangan inklusif terhadap perbedaan identitas sosial. Misalnya, menjamin hak-hak warga negara di dalam kebebasan beragama dan berkeyakinan. Selain itu, menjamin warga negaranya dari segala ancaman melalui penguatan payung hukum.
Baca juga: Makan Bergizi Gratis: Salah Langkah Pengentasan Kemiskinan Struktural
Kumpulan esai ini dapat menjadi landasan pemikiran bahwa penunggalan identitas adalah sebuah kesalahan yang dapat berakibat fatal. Oleh karena itu, gagasan Sen ini dapat memperkuat solidaritas sosial walaupun kelompok masyarakat memiliki perbedaan budaya yang sangat kaya.
Akan tetapi, kekurangan buku ini, Sen tidak menjelaskan secara komprehensif mengenai sebab-sebab yang melatarbelakangi kekerasan atas nama identitas. Sen seakan-akan hanya bercerita terkait berbagai macam konflik identitas yang terjadi dapat sebuah analisis struktural secara mendalam.
Pada akhirnya, buku Kekerasan dan Identitas hadir sebagai karya penting dalam memahami dinamika identitas di masyarakat majemuk seperti Indonesia. Pemikiran Amartya Sen mengingatkan bahwa identitas bukanlah tembok kokoh yang membatasi. Dengan mengakui keberagaman identitas, memperkuat rasionalitas publik, menjamin perlindungan hukum yang inklusif, serta membangun dialog antar kelompok, masyarakat Indonesia dapat bergerak menjauhi konflik berbasis identitas dan memperkuat solidaritas sosial.
Penulis: Lalu Adam Farhan Alwi
Editor: Hanum Alkhansa

