Berbeda dengan hari-hari biasa yang sunyi, Desa Cintalaksana, tepatnya di Kampung Calincing, Karawang mendadak ramai. Warga yang biasa bertani, pada Sabtu (19/07) kompak berkumpul bersama di lapangan terbuka untuk merayakan Hajat Bumi—tradisi tahunan warga Calincing sebagai ungkapan syukur atas hasil panennya selama setahun.
Tokoh masyarakat setempat, Inong menuturkan bahwa Hajat Bumi merupakan tradisi peninggalan leluhur yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Acara inti dimulai sejak pagi hari, dengan rangkaian ritual doa serta memakan hasil panen bersama-sama. Makanan yang disajikan tersebut merupakan olahan dari hasil panen para petani, seperti tumbuhan padi, terubuk, dan bahan pangan lainnya.
Setelah prosesi inti tersebut selesai, kegiatan berikutnya dilanjutkan oleh pertunjukan kebudayaan lokal dari siang hingga malam hari. Seperti lomba permainan panggal, pencak silat, serta tarian topeng.
Baca juga: Warga Kebon Sayur Terluntang-Lantung Akibat Penggusuran Paksa
“Kami, dengan menggandeng pemerintah desa, berupaya untuk tetap mengadakan acara ini guna merawat dan memelihara tradisi karena berkaitan erat dengan kearifan lokal kami,” ujarnya pada Sabtu (19/07).
Pria berusia 46 tahun itu menegaskan, terdapat beberapa aturan wajib dalam mengadakan kegiatan Hajat Bumi. Pertama, kegiatan ini harus dilakukan pada bulan Muharram. Kedua, boleh dilaksanakan hanya di hari Sabtu dan terakhir di ruangan terbuka.
“Kegiatan ini harus dilakukan di hari Sabtu karena secara bahasa bermakna bumi. Begitu keyakinan yang diwariskan mereka (leluhur),” ucap Inong.
Seraya berkoordinasi dengan warga lain terkait acara tersebut menggunakan Walkie Talkie, Inong menjelaskan pada dasarnya Hajat Bumi bukan sekadar ucapan rasa syukur atas hasil panen selama setahun. Lebih jauh, menyangkut relasi sesama manusia atau manusia dengan alam akhirnya dapat terbangun dan terawat.
Nilai gotong royong dan tolong menolong mengakar kuat di warga Calincing. Inong menyontohkan, jika ada salah satu warga yang ingin membangun rumah, maka warga lainnya pasti akan bersama-sama membantu.
Selain itu, ketika ada warga yang kekurangan makanan, maka warga lain akan mengumpulkan hasil tani masing-masing. Nantinya, hasil tani yang terkumpul diberikan ke warga yang membutuhkan.
“Kakek buyut dulu pernah bilang, kita boleh aja ga punya uang, tapi jangan sampai ada tetangga atau saudara kita yang lapar. Kami diajarkan kalau sejatinya manusia itu tidak bisa besar tanpa manusia lain. Makanya sampai sekarang kedua nilai ini kita pegang erat,” terang Inong.
Nilai-nilai seperti ini yang menurut Inong patut untuk terus dijaga. Oleh karena itu, ia menaruh harapan besar kepada generasi penerus. Ia berharap agar mereka bisa tetap setia menjaga tradisi dari warisan para leluhur.
“Inginnya, generasi penerus nanti meskipun kondisi memang sudah modern, tetap harus diingat bahwa tradisi ini bukan hanya sekadar ritual atau acara seremoni, tetapi mengandung nilai-nilai kehidupan yang bisa dipelajari.”
Tidak hanya Inong yang memancarkan raut kegembiraan. Terlihat aura kebahagiaan turut terpancar dari salah seorang warga, Siti Fatimah yang hari itu aktif meramaikan acara.
Siti menjelaskan acara ini tidak hanya bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur, tetapi juga untuk perdamaian manusia.
“Di bumi kita cuma numpang, kita mengolah isi bumi, mendapat kesuburan dari bumi. Semua isi bumi kita gunakan untuk makan dan dijual. Nah, sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada yang punya bumi, kita adakan acara ini,” kata Siti.
Lalu, wanita berusia 32 tahun itu menceritakan betapa antusias dirinya ketika mengetahui bahwa di tahun ini Hajat Bumi tidak hanya berisi pembacaan doa saja. Melainkan, akan ada penampilan kebudayaan lokal.
Bahkan, saking semangatnya Siti sudah merasa antusias dari sebulan lalu. Lantaran, jika tidak ada acara suasana di desanya akan terasa sepi karena para tetangganya pergi bertani. Oleh sebab itu, Siti begitu semangat ketika membayangkan desanya nanti akan ramai.
Lebih lanjut, dengan melalui Hajat Bumi Siti berharap kehidupan petani di desanya bisa sejahtera. Sebab, menurut Siti acara ini bisa menjadi ajang para petani menampilkan hasil taninya.
“Ketika sudah pada kenal hasil panen petani di sini seperti apa, saya berharapnya hasil panen mereka nantinya tidak hanya dipasarkan ke pasar lokal. Melainkan, bisa dipasarkan sampai ke pasar internasional dengan harga tinggi. Supaya mereka bisa memperoleh kehidupan yang sejahtera,” jelasnya.
Baca juga: Perlawanan Petani dari Masa ke Masa
Melihat acara Hajat Bumi ramai dihadiri oleh masyarakat dari berbagai lapisan, Kepala Desa Cintalaksana, Agus Sulaiman menuturkan ia sangat senang bila dukungan untuk warga ternyata membuahkan hasil yang memuaskan. Apalagi, Agus sempat menerangkan bahwa di tahun-tahun sebelumnya, acara Hajat Bumi tidak lakukan semeriah tahun ini, hanya dilakukan pembacaan doa saja.
Lebih lanjut, Agus memandang bahwa Kampung Calincing sejatinya memiliki potensi wisata yang tinggi. Sebab, menurutnya para petani bisa saja tidak sekadar menjual hasil panen. Melainkan, mengajak orang-orang yang datang berkunjung untuk dapat mengambil hasil panen secara langsung di lahan pertanian. Baginya itu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung nantinya.
“Saya siap untuk mendukung apapun kegiatan masyarakat selama itu memang bisa memberikan kesejahteraan untuknya,” tuturnya.
Penulis : Devita Sari
Editor : Fadil B. Ardian

