Apa jadinya jika influencer lebih didengar daripada seorang ilmuwan? Film Don’t Look Up yang dibintangi Leonardo DiCaprio ini menjadi satire menarik tentang media massa hari ini
Apa jadinya jika influencer lebih didengar publik daripada ilmuwan? Film besutan sutradara Adam Mckay bertajuk “Don’t Look Up” mencoba menjawabnya dengan sebuah skenario yang mengerikan.
Film berkisah tentang Randall Mindy (Leonardo DiCaprio) dan Kate Dibiasky (Jennifer Lawrence), dua orang ilmuwan dari pelosok Amerika yang menemukan sebuah komet raksasa berukuran hingga 9 kilometer, dengan daya hancur yang hampir sama seperti komet yang memusnahkan dinosaurus jutaan tahun lalu. Komet raksasa tersebut diperkirakan akan menabrak bumi dalam kurun waktu 6 bulan 14 hari.
Dalam kurun waktu yang sempit itu, mereka berdua melakukan perjalanan media untuk memperingatkan masyarakat akan adanya komet tersebut. Berbagai kejadian unik dan komedi gelap menggelitik pun menyertai perjalanan mereka.
Perjalanan mereka untuk memperingati warga dunia akan adanya komet tersebut tidaklah mudah. Bersama Dr. Oglethorpe (Rob Morgan), peneliti NASA bagian pertahanan planet, mereka menghadap presiden untuk membeberkan temuannya tersebut. Sayangnya, Presiden Amerika (Meryl Streep) dengan sikap politisnya menolak untuk melakukan sesuatu. Ternyata presiden hanya ingin melindungi kepentingan politiknya karena sebentar lagi akan ada pemilihan umum.
Petualangan media mereka dimulai dari media The New York Herald, dimana mereka membeberkan temuannya beserta sikap presiden yang menolak melakukan sesuatu. Randall dan Kate diminta untuk menghadiri The Daily Rip, sebuah acara entertain yang mendapat perhatian massa.
Namun, dalam acara tersebut apa yang disampaikan Randall dan Kate sama sekali tidak mencapai seluruh massa. Kebanyakan diantara mereka lebih peduli pada berita entertain, seperti perceraian artis.
Kate sendiri menjadi bahan cemoohan di internet karena berteriak di televisi, “Kita semua akan mati!” pada saat acara berlangsung. Saat memberitahu perihal apa yang akan terjadi ketika komet tersebut menabrak bumi.
Sikap masyarakat yang cenderung bodoamat akan adanya komet yang menabrak bumi merupakan akibat dari pengemasan media pada suatu isu. Hal ini tidak lain dan tidak bukan merupakan suatu dampak pengorientasian media kepada pasar atau market driven journalism. Para pemilik modal di media tentu saja menginginkan modalnya berlipat ganda. Sehingga, lebih menguntungkan kiranya menyiarkan berita-berita yang akan menjadi tren dibanding pemberitaan yang kiranya penting dibicarakan.
Apa berita akan hancurnya dunia tidak menarik audiens?
Tentu saja menarik! Namun, kedua ilmuwan ini tidak memiliki pengaruh besar dalam televisi, apalagi ketika mereka yang membicarakannya, publik akan merasa bosan dengan ceramah intelektual. Bahkan, cenderung mengolok Kate Dibiasky karena aksi berteriaknya di televisi. Hal tersebut menandai suatu perubahan dimana masyarakat lebih mendengarkan influencer daripada seorang ilmuwan.
Buktinya komet yang diberi nama Komet Dibiasky itu melonjak popularitasnya ketika sang presiden angkat bicara mengenai hal tersebut. Isu ini juga lebih meningkat lagi dengan munculnya isu-isu komet di sosial media yang dibawakan oleh para influencer, tentu saja ketika itu sudah menjadi tren.
Baca juga: Meratapi Matinya Kepakaran di Tengah Banjir Informasi
Refleksi Pemberitaan Lingkungan Hari Ini
Sejujurnya terdapat satu garis besar yang menjadi refleksi atas keadaan kita hari ini. “Don’t Look Up” memotret bagaimana pemberitaan akan krisis iklim yang kurang dibawakan oleh media. Padahal hari ini krisis iklim sudah ada di depan mata. Berbagai ilmuwan pun sudah sering mengungkap keresahannya atas krisis iklim yang terjadi.
Data dari YouGov-Cambridge dari 28 Februari hingga 26 Maret silam menyatakan dari 23 negara, Indonesia menduduki peringkat pertama dengan 18% dari responden tidak mempercayai perubahan iklim karena ulah manusia. Hal ini bukan tanpa sebab, salah satu yang dapat dijadikan faktor adalah bagaimana media membingkai perubahan iklim.
Misal, kebanyakan media di Indonesia hanya membingkai perubahan iklim sebagai suatu peristiwa belaka. Contohnya saja saat banjir meluluhlantakan wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) paruh akhir tahun lalu. Media hanya membingkai sebagai bencana alam yang menyebabkan korban jiwa. Padahal jika membingkainya lebih radikal, peristiwa tersebut merupakan dampak dari perubahan iklim yang dipengaruhi oleh ulah manusia. Seperti yang dikatakan Kisworo Dwi Cahyono Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, bahwa banjir dan bencana alam yang terjadi di Kalsel bukan akibat hujan belaka. Melainkan suatu dampak dari krisis iklim yang sedang terjadi.
Kita bisa ambil contoh The Guardian yang telah membingkai perubahan iklim sebagai “krisis iklim ataupun darurat iklim”, hal ini menandakan suatu sikap keberpihakan radikal The Guardian terhadap isu ini—suatu keberpihakan kepada kemanusiaan dan masyarakat banyak.
Selain itu, beberapa faktor juga turut mempengaruhi, seperti gejala bothsideism dalam media. Yaitu, ketika media berpikir menghadirkan dua pandangan yang berbeda demi memperlihatkan sikap independennya. Meski begitu, sikap ini jika tidak diimbangi dengan kecakapan atau keahlian narasumber maka berpotensi akan mengaburkan kebenaran yang ada. Seperti yang terjadi di film ini, dimana dalam suatu acara televisi Kate Dibiasky dihadapkan dengan seorang politisi yang tidak memercayai adanya komet tersebut. Bagaimana bisa menyandingkan seorang ilmuwan dengan politisi?
Randall Mindy juga sempat berteriak di depan televisi karena sudah hampir 6 bulan berlalu, tetapi masyarakat masih saja memperdebatkan ada atau tidaknya komet tersebut. Apa harus menunggu sampai akhir dunia baru masyarakat percaya?
Gejala yang sama juga terjadi di Indonesia, seperti saat Jerinx sang konspirator berhadapan dengan Pakar Kesehatan Masyarakat; Hermawan Saputra, dalam “Sapa Indonesia Malam” KompasTV pada Rabu, 6 Mei 2020. Bagaimana acara tv sebesar itu mengundang seorang konspirator untuk berbicara di depan publik?
Itu yang terjadi dari konteks pandemi, bukan tidak mungkin juga akan terjadi dalam isu krisis lingkungan nantinya. Mengingat hari ini media bahkan sangat jarang memotret krisis lingkungan yang terjadi, setidaknya tidak sesering pemberitaan mengenai virus corona. Kalaupun ada, hanya dalam bingkai peristiwa alam atau bencana alam yang merugikan manusia.
Pemberitaan yang bias konfirmasi pun masih sering terjadi, dimana saat memberitakan banjir di Kalimantan Selatan media lebih sering mengutip perkataan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) saja. Padahal, keterangan yang mereka dihasilkan tidak pernah menyentuh isu perubahan iklim. Mereka hanya mengatakan faktor-faktor alamiah terjadinya bencana.
Jelaslah kenapa akhirnya masyarakat kita banyak yang setuju perubahan iklim bukan ulah manusia. Pemberitaan media pun hanya meliput suatu kejadian saja tanpa ada laporan komprehensif mengenai krisis iklim yang terjadi.
Secara umum, film Don’t Look Up memiliki makna yang sangat dalam, meski dibalut dengan komedi-komedi menggelitik. Sangat menarik jika melihatnya dari sisi jurnalistik maupun lingkungan.
Penulis: Izam Komaruzaman
Editor: Sonia Renata

